
...🍃Soundtrack #my love-...
...Baekhyun(EXO) 🍃...
...🌾🌾Mencintai tak selamanya kan jadi cinta, membenci tak selamanya kan tetap jadi benci🌾🌾...
Seperginya Angkasa dan menutup pintu dengan keras membuat Feli langsung panik bukan main lagi, kenapa laki-laki itu malah mengurungnya didalam ruangan itu?.
"Ma,, mas buka pintunya kumohon! " Feli terus saja meminta tolong untuk dibukakan pintu oleh Angkasa yang sama sekali tidak berada di ruangan itu.
"Aku tidak melakukan nya, bukan aku yang melakukan itu. " Feli terus saja menjelaskannya berharap Angkasa akan mempercayai nya.
Barulah Feli sadar kenapa tiba-tiba Deva mau membuatkan teh itu biasanya setiap disuruh pun Deva akan memerintah Feli agar membuat nya sekalian.
"Kenapa mereka sangat ingin aku terkena masalah? Aku sudah cukup bermasalah dengan mas Angkasa. " Feli terlihat sangat frustasi.
Belum lagi jam sudah menunjukkan pukul 17.00Pm pertanda jam pulang kerja sudah tiba.
Tapi sudah 10 menit berlalu Feli belum juga mendengar dan melihat ia akan dibebaskan dari ruangan itu.
Tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi dengan keras hingga ia kaget karena bunyinya terdengar sangat lantang di ruangan itu.
"Halo? "
"Ah ini fahdan, kamu masih ingat kan? "
"Ah iya mas aku ingat, ada apa yah mas? " Tanya Feli bingung kenapa memanggil disaat seperti ini.
"Masalah janji saya dihari lalu, apakah kamu ada waktu hari ini? " Tanya fahdan terdengar sangat ragu.
Feli menghela nafas pelan, karena ia sedang tidak berada disituasi untuk itu saat ini. Bagaimana ia keluar saja ia tak tahu padahal hari Sudah mulai malam dan Angkasa tak kunjung datang membukakan pintu untuk nya.
"Maaf mas, aku sedang memiliki banyak sekali pekerjaan karena ini adalah hari ku bekerja, " Feli dengan alasannya walaupun ia merasa tidak enak karena terus-menerus menolak tawaran dari Fahdan.
"Baiklah saya faham kok, lain kali saya hubungi yah. Semangat! "
Panggilan langsung Feli matikan setelah ia pamit, ia merasa tidak enak karena selalu saja menolak tawaran fahdan seolah dia adalah seorang selebritis saja menolak ini itu.
"Yatuhan, bagaimana aku keluar dari ruangan ini? "
Belum lagi rasa lapar sudah semakin membuat Feli merasa sangat lemas, karena sejak tadi pagi Feli belum pernah makan, ia tak sempat makan karena hampir terlambat memasuki kantor.
"Aku lapar sekali, " Ucap Feli saat perutnya berbunyi beberapa kali sejak tadi.
Kepalanya terasa sangat pusing bukan main, demamnya yang semalam belum sembuh total dan kini ia malah merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena lelah tanpa sebab.
"Kapan mas Angkasa akan membuka pintu ini untuk ku? " Bingung Feli masih saja melihat kearah pintu berharap itu terbuka untuk nya.
Angkasa sendiri saat ini sudah beristirahat dikamar nya karena merasa lelah tanpa sebab saat menjalani hari ini.
__ADS_1
"Permisi mas, mbak aku boleh masuk gak? " Tanya vania dari arah luar kamar.
"Masuklah cengeng, " Goda Angkasa saat melihat wajah Vania menyembul dari pintu.
Vania masuk dengan wajah cemberut tak suka karena selalu dipanggil cengeng oleh Angkasa.
"Manggil cengeng lagi aku pukul yah mas, ngeselin banget sih huh. "
Vania melihat sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Feli dan kamar mandi juga kelihatan kosong melompong. Dimana kakak iparnya itu?.
"Ada apa hmmm? " Angkasa duduk disamping Vania yang juga duduk di tepi ranjang.
"Loh, mbak Feli mana mas? Kok cuma sendirian disini? Dari tadi juga aku gak liat mbak Feli. "
Angkasa sendiri baru sadar bahwa Feli belum juga ia keluarkan dari ruangan pribadi miliknya itu.
"Aah itu, mbak mu sedang ada urusan dengan temannya. Mungkin sebentar lagi pulang. " Angkasa beralasan.
Vania hanya menganggukkan kepalanya mengerti padahal itu adalah kebohongan Angkasa semata.
"Kamu kenapa datang ke kamar mas? "
"Ah tadi mau ngajak mbak Feli ke kamar aku, tapi gak jadi deh. Aku keluar dulu yah Mas. " Vania keluar dari kamar Angkasa karena Feli sedang tidak ada disana.
Setelah Vania pergi Angkasa buru-buru menghubungi Radon.
"Halo pak, ada yang bisa saya bantu? " Tanya Radon bingung kenapa malam-malam begini Angkasa tiba-tiba menelponnya.
"Apa pak? Kenapa nona Feli ada disana? " Tanya Radon sangat kaget.
Bagaimana ia tidak kaget, tiba-tiba saja bossnya menelpon dan mengatakan kalau istrinya sedang terkunci di ruangan nya. Belum lagi kantor selalu mengadakan pemadaman listrik saat tidak ada kerja lembur disana untuk menghindari kebakaran dan lainnya.
"Tidak usah banyak tanya, kamu lakukan saja apa yang saya perintahkan. Saya sedang kelelahan sekarang ini. " Angkasa memutuskan panggilan itu lalu memilih untuk tidur saja.
"Bagaimana keadaannya disana? Apa menyenangkan? " Senyum smirk Angkasa karena merasa senang dengan tindakan nya itu.
Sedangkan Feli kini sudah merasa sangat lemah karena rasa lapar itu sudah sangat parah, belum lagi ia merasakan hawa sangat dingin disana. Ia ingin bergerak menuju tempat tidur disana untuk sekedar mencari kehangatan namun kakinya sangat sakit untuk ia gerakkan.
Belum lagi lampu yang tiba-tiba padam itu membuat Feli semakin tak kuasa untuk bergerak lagi.
Ia paling takut saat gelap begini, ia takut karena kejadian dahulu terjadi saat lampu sedang padam. Saat gelap ia akan merasa bahwa ia sedang dalam posisi yang sama dengan saat itu.
"Hiks, aku takut. Aku takut mah pah,, " Feli mencoba untuk tidak panik namun ia sangat ketakutan kali ini.
Ia merasa bahwa ia sedang dalam bahaya, dengan kaki yang sakit dan keadaan yang lemah ia meringkuk pelan mencari tempat tidur diruangan itu.
Ia masuk ke bawah tempat tidur dengan pelan manahan tangisannya, tanpa sebab ia selalu merasa lebih aman berada dibawah tempat tidur saat keadaan gelap seperti ini.
"Hiks,, kak, aku bersembunyi dengan benar disini hiks,, kapan kakak datang untuk menjemput ku. Aku menunggu disini hiks,, " Feli menangis keras karena ia sangat ketakutan.
__ADS_1
Kejadian lama itu terulang kembali, ia ingat dengan jelas bahkan setiap detiknya. Saat lampu dirumah nya kembali menyala ia melihat secara langsung mamah dan papahnya dilumuri banyak darah dan sudah tidak bernyawa lagi.
"Hiks, aku takut hiks, " Feli mencoba untuk tetap berada dibawah tempat tidur itu dengan keadaan lemah.
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan langkah kaki seseorang masuk kedalam ruangan itu dengan sebuah senter ditangan nya.
Feli yang mendengar langkah itu sembari melihat sebuah sepatu semakin merasa takut bukan main, ia membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena ia takut itu adalah orang yang sama saat ia SMA dulu.
Radon sendiri yang baru saja masuk kedalam ruangan yang Angkasa sebutkan merasa bingung karena tidak ada orang disana, ia sengaja masuk hanya dengan senter saja karena akan merepotkan jika harus menyalakan seisi kantor.
Feli masih saja diposisi yang sama dibawah tempat tidur milik Angkasa di ruangan pribadinya itu menutup mulut karena takut. Air matanya mengalir deras dalam keadaan yang semakin melemah itu.
"Aku takut, aku harus bagaimana? Bagaimana jika itu adalah orang yang sama? " Feli membatin dan merasa sangat pusing.
Tiba-tiba saja pintu kembali tertutup rapat dan itu membuat Feli sedikit lega walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak merasa lega karena Harus kembali terkurung di ruangan itu.
"Hiks, aku takut. " Feli semakin menangis karena ia yakin itu bukanlah Angkasa.
Kalau itu Angkasa ia tidak akan diam saja saat memasuki ruangan itu, tapi kenapa orang itu punya kunci ruangan itu.
Feli jadi semakin takut untuk bergerak saja ia sudah sangat kesusahan saat ini.
"Halo pak, " Radon yang masih saja berada di depan pintu tempat Feli bersembunyi itu menghubungi Angkasa.
"Bagaimana? Dimana gadis itu? "
"Tidak ada apa-apa didalam pak, non Feli tidak ada didalam. "
Angkasa memicing heran saat radon mengatakan kalau tidak ada Feli disana, ia sangat yakin kalau gadis itu berada didalam sana. Dan tidak mungkin dia bisa keluar dari sana.
"Kamu tunggu saja disana, saya akan kesana sekarang juga. "
Angkasa mematikan sambungan dan segera menaiki mobilnya menuju ke kantor nya.
"Tidak mungkin dia tidak ada disana? Siapapun tak akan bisa keluar jika tidak dibuka dari depan. " Angkasa merasa bingung dengan situasi ini.
Ia sangat mengingat dengan jelas bahwa Feli ia kurung didalam ruangan itu karena kesal dengan ulah gadis tidak tahu diri itu.
"Kalau sampai ia benar-benar tidak ada disana maka ia sudah sangat lancang tidak mematuhi ucapan ku untuk tetap disana. "
"Aku juga kenapa bisa lupa bahwa dia disana sejak sore tadi. "
Angkasa banyak bergumam dengan dirinya sendiri karena merasa sangat bingung dengan situasi ini.
...🎋🎋Bersambung🎋🎋...
Mas langit kamu lebih buruk asal kamu tahu saja, tega banget ngurung Feli disana. Mana lupa lagi. Aduhhhh.
Jangan lupa yah like, komen dan vote nya wan kawan.
__ADS_1
See you guys🌺.