Dulu Dibully, Sekarang Suami

Dulu Dibully, Sekarang Suami
60. Dia tulus.


__ADS_3

...🍃Soundtrack #Crosswalk-jo kwon 🍃...


...🌾🌾Saat ini bukanlah tentang rindu juga sesal dalam hati, Tapi ego yang kian mengambil alih kisah ini🌾🌾...


       Sudah hampir dua minggu lamanya Feli tak mau dan tak mau tahu bagaimana keadaan Langit, meskipun laki-laki itu tidak pernah absen seharipun untuk meminta maaf juga hatinya Feli. Gadis itu bahkan keluar dari rumah seolah tak melihat laki-laki itu sedang berdiri menunggu nya.


"Bagaimana? Apa mas liat ada tanda-tanda mbak Feli akan memaafkan mas? " Tanya Vania yang sedang duduk di sofa.


Angkasa yang sedang merenung itu menggeleng dengan pelan, nafasnya terasa sangat susah untuk ia hembuskan. Hatinya tak pernah tenang dan selalu saja dipenuhi dengan Feli dan bagaimana cara mereka bersatu.


"Apa aku perlu ikut serta bantuin mas? Siapa tahu mbak Feli mau dengerin aku mas. " Vania juga ikut frustasi karena ia benar-benar merindukan Feli.


Angkasa menggeleng karena ia rasa itu bukanlah ide yang bagus.


"Mas takut mbak mu akan semakin marah karena mas membuat kalian membujuknya, nanti mas malah dikira gak bertanggungjawab. Mas akan berusaha membujuknya dengan cara mas sendiri. "


"Semoga saja mbak Feli mau yah mas, aku udah Kangen banget sama mbak Feli. Mamah juga gak pernah berenti nanyain mbak Feli. "


Angkasa hanya mendengus pelan karena ia benar-benar lebih ingin lagi bersama Feli, tapi gadis itu sampai kini masih saja tak menunjukkan tanda-tanda ia ingin bersama dengan Angkasa.


Feli sendiri sedang merenung didepan jendela sembari melihat hari begitu cerah hari ini, ia bagai hilang semangat hidup. Meskipun terlihat seolah ialah oknum yang mencampakkan Angkasa tapi percayalah dialah yang paling tersiksa disini.


"Langit begitu cerah hingga mengingatkan ku tentang nya. " Gumam Feli melihat kearah luar. Tumben sekali laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya.


"Apa terjadi sesuatu padanya? " Khawatir Feli, rasa rindunya kian menggebu. Terkadang ia ingin bersikap tidak tahu diri dan berlari ke dalam pelukan laki-laki itu saat melihat Angkasa sedang menunggu nya diluar. Tapi ia masih sadar akan posisi nya yang sangat tidak pantas untuk laki-laki sehebat Angkasa.


Tiba-tiba ponsel milik Feli berbunyi sangat lantang dari arah meja didekat televisi.


"Halo mas, " Ucap Feli menjawab dengan pelan karena penelepon itu adalah Fahdan. Laki-laki yang selalu ada untuknya akhir-akhir ini, dengan perhatian penuh mencoba untuk membuat Feli tak merasa kesepian.


"Kamu cepatlah keluar sekarang! Aku sudah menunggu di depan rumah. "


"Hah? Maksud mas di depan rumah aku? "


"Iya, keluar lah sekarang! " Ucap Fahdan dengan pelan.


Feli berjalan pelan dan mengintip keluar ternyata Fahdan memang sudah ada disana dengan mobilnya.


"Loh, kenapa mas udah disini aja? Tadi gak ada tuh. "


"Kamu naiklah ke mobil, aku akan membawamu ke tempat yang sangat bagus. Kamu butuh refreshing saat ini, " Ucap Fahdan menuntun Feli dengan perlahan menaiki mobil.


Feli sendiri bingung kenapa tiba-tiba Fahdan membawanya? Memang hubungan mereka sangat dekat seolah mereka adalah saudara atau semacamnya. Fahdan memperlakukan Feli layaknya seorang adik baginya, memperhatikan juga menjaganya.

__ADS_1


"Kita mau kemana mas? " Tanya Feli bingung.


"Nanti juga kamu tahu, pakai sabuk pengaman mu. "


Feli hanya mengangguk saja karena ia juga sangat suntuk berada dirumah, ia juga butuh udara segar untuk menentukan jalan mana yang akan ia tempuh nantinya.


Angkasa sampai didepan rumah Feli dengan harapan yang sama, berharap gadis itu menyambut nya dengan wajah tersenyum juga tatapan hangat.


"Apa dia ada di dalam? " Angkasa berdiri kembali seperti biasanya disana.


Ia ingat betul bagaimana Feli benar-benar berhasil mengabaikan nya, melihat Angkasa berdiri disana tak membuat gadis itu menoleh sedikitpun. Bahkan saat Angkasa berbicara Feli seolah menuli tak bereaksi sama sekali.


"Aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkan aku? " Tanya Angkasa tepat kearah rumah Feli.


Angkasa merasa sangat putus asa karena situasi ini, ia takut akan banyak hal ia takut kalau hubungan ini akan kandas seperti ini, melihat mamahnya yang sudah menerima Feli dan papah juga Vania yang sangat nyaman dengan Feli terlebih lagi dirinya sendiri yang mencintai gadis itu sangat besar membuat ia sangat ketakutan untuk berpisah.


"Wahh sudah lama sekali aku tidak kesini, " Ucap Feli tersenyum duduk siatas pasir pantai sembari melihat sekeliling.


Fahdan tersenyum getir melihat kearah Feli yang tersenyum itu.


"Iya yah! Sudah lama sekali, " Ucap Fahdan pelan.


"Hah? Mas bilang apa? "


"Suka banget mas, walaupun sebenarnya tempat ini mengingatkan ku tentang masa masa bahagia ku dulu heheh, laut ini adalah salah satu saksi betapa bahagianya keluarga ku dulu mas. Hehehe, " Ucap Feli tersenyum getir saat mengingat itu.


"Syukur lah kamu suka, aku ikut senang. Kenangan dan tempat sangat memiliki kaitan yang erat itu, jadi! Setidaknya untuk membuat mu bahagia maka datangilah tempat yang pernah membuat mu bahagia. "


Feli hanya diam saja melihat kearah laut sembari memejamkan mata menikmati semilir angin laut yang sangat sejuk itu.


"Apa kamu masih belum mau memaafkan laki-laki itu? " Tanya Fahdan tiba-tiba.


"Maksud mas, mas Langit? "


Anggukan diberikan oleh Fahdan.


"Bukan aku yang seharusnya memaafkan nya mas, aku tidak pantas untuk itu. Karena dia sudah sangat menderita karena ku dahulu hingga aku tak sanggup untuk melihat nya lagi. Aku tidak pantas untuk nya, " Ucap Feli lesu.


"Cobalah untuk mendengarkan ucapan nya, kesalahpahaman akan menghancurkan segalanya saat tak ada satupun yang bisa mengatasi nya. " Fahdan tersenyum kearah Feli yang kebingungan itu.


Feli menggeleng dengan cepat "Aku tahu apa yang ingin mas langit sampaikan, tapi aku berpura-pura tidak tahu. Aku mencoba menyalahkan nya untuk kepentingan ku sendiri, padahal aku sangat menyalahkan diriku sendiri karena selalu menaburkan kesedihan untuk nya dimasa lalu bahkan sekarang. " Feli menunduk lesu dengan nafas yang sangat berat ia hembuskan.


"Kenapa mas tiba-tiba membahas mas langit? Apa dia bahkan menemui mas? " Bingung Feli.

__ADS_1


Fahdan menggeleng dengan cepat "Aku memang tidak terlalu menyukai sosok nya. Tapi untuk satu hal ini aku sangat kagum dengan ketulusannya, bahkan aku mungkin tidak akan bisa seteguh dirinya dalam meminta maaf juga meminta perhatian seseorang yang kucintai, dia sangat mencintai mu. Itu yang bisa kulihat dari sudut pandang ku. " Fahdan berbicara serius.


"Kenapa tidak mencoba untuk memaafkan dirimu sendiri? Kamu tahu sendiri tentang mu,kamu tahu bahwa kamu juga berhak bahagia seperti kebanyakan orang lain. Bahagia mu tak akan datang jika kamu bahkan tidak mencoba untuk membuat sebuah kebahagiaan." Fahdan tersenyum.


"Dia sudah sangat menderita akhir-akhir ini, aku melihat nya dikantor seperti seorang yang sudah putus harapan. Aku melihat nya juga di depan rumahmu setiap hari dengan wajah mengerut dan tatapannya kosong, dia benar-benar tulus untuk mu. "


"Aku tahu tapi aku tak pantas untuk nya mas, " Elak Feli mencoba untuk membuang pikiran nya yang hampir goyah itu.


"Pantas atau tidaknya tidak bisa kita ukur dengan kata saja, apa kamu sudah buktikan kata tidak pantas itu? Kenapa tidak mencoba untuk lebih luwes dan bebaskan dirimu dari beban hidup ini. "


Feli hanya diam saja, kenapa ia sangat kesulitan dengan memikirkan beberapa hal. Banyak hal yang membuat ia bertanya tentang hidupnya itu.


"Hah, " Feli berdiri kemudian berjalan mendekat kearah laut.


"Mau sampai kapan ia hidup seperti ini? Aku tidak tahan melihat nya! Tapi belum saatnya untuk bicara saat ini, " Gumam Fahdan pelan melihat kearah Feli dari belakang.


"Aku harap laki-laki itu memang yang terbaik untuk nya, menurut pengamatan ku dia memang sangat menyukai Feli dan Feli juga sangat mencintai nya. Apa aku bisa lebih tenang saat ini? "


Fahdan memang sudah sering memperhatikan Angkasa dan mengamati laki-laki itu, ia khawatir Feli menikah dengan laki-laki yang salah.


"Cinta pertama seringkali tidak terjalin dengan indah tapi tidak sedikit yang berhasil. " Gumam Fahdan tersenyum kearah Feli yang tersenyum kearah nya.


"Makasih yah mas, " Ucap Feli pelan saat ia sampai didepan rumah.


Lagi-lagi ia tak melihat Angkasa disana, apakah laki-laki itu sudah menyerah dengan nya? Atau apakah memang hubungan ini sudah berakhir?.


"Kamu masuklah lalu istirahat, hari ini kamu sudah banyak berpikir juga beraktivitas. Itu pasti membuat mu lelah. "


"Iya mas, Hati-hati dijalan! "


"Hanya beberapa rumah saja kamu berbicara seolah jauh saja hahaha. "


Feli tersenyum lalu masuk menutup pintu dengan pelan, pikirannya tak hentinya memikirkan kenapa seharian ia tak melihat batang hidung Angkasa?.


"Apa kami benar-benar sudah berakhir? " Gumam Feli lesu.


...🎋🎋Bersambung🎋🎋...


Maafin aja Feli, aku gak tega sama mas langit.


Jangan lupa yah like, komen dan votenya.


See you guys🌺

__ADS_1


__ADS_2