
🍃Soundtrack #Beautifull mistakes-Maroon 5🍃
...🌾🌾Kala ini mungkin kamu menjadikan orang lain sebagai bahan lelucon mu, maaf untuk berkata seperti ini. Ingat! Dunia berputar dan kamu juga bisa jadi akan menjadi bahan lelucon untuk orang yang sama🌾🌾...
Feli yang selalu memulai harinya dengan berlari itu kini tampak sangat kesulitan karena kakinya yang sakit itu tidak bisa diajak untuk berlari padahal ia sudah sangat terlambat pagi ini. Belum lagi jalan dari rumah ke terminal Bus bukan lah jarak yang dekat untuk ia lewati.
Kalau bukan karena harus melayani Angkasa terlebih dahulu ia tak akan se terlambat ini hari ini. Karena harus mengurus laki-laki itu mulai dari mandi, memakaikan dasi dan bahkan urusan sepatunya saja harus Feli yang pasangkan. Bahkan anak kecil saja sudah berusaha untuk mandiri dalam hal itu.
"Ahh aku sangat lelah sekali, " Gumam Feli saat ia sampai kedalam Bus yang mungkin jika Feli terlambat sedikit lagi Bus itu sudah berangkat meninggalkan nya.
"Akh,, kenapa kakiku semakin sakit saja. " Feli memeriksa lututnya yang membiru itu, belum lagi sangat sakit untuk digerakkan.
"Pasti akan sembuh sendiri nanti, jangan cengeng hanya karena sakit ringan seperti ini. " Feli berusaha mengabaikan rasa sakit itu padahal memang sangat sakit ia rasakan.
Ia menatap dari jendela Bus hari sangat cerah dan itu membuat Feli merasa iri, ia selalu merasa hari selalu cerah saat ia sedang dalam keadaan kacau dan juga dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Hari terlalu cerah untuk diriku yang lelah, " Gumam Feli pelan selalu saja mengungkapkan kata itu saat ia tak menyukai hari cerah itu.
Angkasa sendiri sedang sibuk dalam mengurus berkasnya diruangan miliknya itu. Sejak pagi tadi sampai kini menjelang sore ia masih saja disibukkan dengan beberapa berkas yang tak ada habisnya.
"Permisi pak. "
"Masuk, " Ucap Angkasa saat mendengar suara radon dari arah luar.
Radon datang dari arah pintu mendekat kearah Angkasa yang sedang terlihat kelelahan itu.
"Ada apa? "
"Begini pak, pak Salman mengatakan banyak sekali yang tidak setuju dengan pendapat kita mengenai saham itu. "
"Ck, laki-laki itu memang sedikit dungu atau bagaimana? Orang-orang disini sangat takut merugi padahal belum juga mencoba. Yasudah kalau dia tidak setuju makan batalkan kerja sama dengan nya. Aku paling tidak suka dengan client yang penakut," Gumam Angkasa lagi-lagi fokus dengan kerjaan nya itu.
Radon sendiri bingung harus bagaimana menanggapi situasi ini, ia tau kalau atasannya itu sedang lelah tapi memutuskan hubungan dengan pak salman sama saja membuang uang jutaan rupiah.
"Ta,, tapi pak, apakah kita benar-benar tidak akan merugi jika memutuskan hubungan dengan pak salman? "
"Kenapa? Kamu juga takut? " Angkasa sedang lelah akan seperti seorang gadis yang PMS saja badmood nya.
Radon akhirnya memilih untuk diam saja karena ia tak mau mencari masalah dengan bossnya itu.
"Oh iya saat berbicara dengan pak salman coba sampai kan pesanku ini padanya, Dia tidak akan bertahan lama di industri ini kalau dia se pengecut itu, " Ucap Angkasa dengan senyuman smirk andalan nya.
__ADS_1
Radon tahu saat ini Angkasa benar-benar kesal karena kesungguhan nya itu malah tidak dipercayai oleh pihak pak salman. Dan dia tidak pernah main-main dengan ucapannya, kalau dia berkata tidak yah tidak begitu juga sebaliknya.
"Baik Pak permisi, "
"Tunggu! "
Radon sedikit tersenyum saat Angkasa mengatakan agar ia jangan keluar dulu, ia yakin Angkasa tak akan seceroboh itu meminta memutuskan hubungan dengan pihak pak salman yang begitu berpengaruh diperusahaan nya.
"Iya Pak ada apa? " Radon berbalik dengan semangat hingga Angkasa sedikit memicing heran.
"Sebelum berbicara dengan pak salman tolong sampaikan kepada petugas dikantor ini untuk mengantarkan teh kesini, secepatnya. "
Radon langsung berdumal kesal karena sudah salah faham dengan bossnya itu, sudah tau laki-laki itu tak akan berubah pikiran masih saja berharap.
"Baik Pak, " Ucap radon lesu kemudian menyampaikan pesan Angkasa kepada para petugas itu.
Setelah kepergian Radon Angkasa kembali memasang kacamatanya lalu melirik beberapa berkas lainnya.
Feli masih saja sibuk membersihkan beberapa berkas berdebu ditempat penyimpanan itu, mungkin karena beberapa berkas lama ter tumpuk begitu banyak hingga debu tak kunjung habis dari ruangan itu.
"Hei, "
Feli mencoba untuk mengabaikan panggilan itu karena ia punya nama tapi selalu saja dipanggil dengan cara seperti itu.
"Kamu aja yang ngantar gimana Dev? Kesempatan buat nyari perhatian pak bos kan asik tuh. " Sahut yang lain.
"Gak ah, aku udah bau keringat sama bedak aku juga udah luntur karena hari udah sore, nanti yang ada pak boss malah ilfeel liat aku, aku ada rencana buat ngerjain tuh gadis napi. " Deva mengajak beberapa rekan kerja nya untuk membicarakan perihal rencananya itu.
"Wahh hebat juga ide kamu Dev, kuylah kita lancarkan. "
Mereka sepakat untuk menjebak Feli dengan menyuruh gadis itu membawakan minuman pesanan Angkasa kedalam ruangan Angkasa namun minuman itu mereka buat dengan campuran garam dan bukan gula.
"Nih, pak boss pesan minuman karena kita ada urusan kamu aja yang anterin keruangan pak boss. " Ujar Deva menyodorkan teh buatan mereka itu kearah Feli yang sibuk bekerja itu.
Feli memicing heran kenapa harus dia?
"Tapi aku juga sedang ada pekerjaan. " Elak Feli masih fokus bekerja.
"Yasudah kalau tidak mau, nanti pak boss marah juga kamu yang kena. "
Feli tau itu, karena apapun yang terjadi dikantor itu maka itu adalah kesalahan Feli mereka pasti bisa saja menjadikan Feli sebagai kambing hitam atas semua masalah.
__ADS_1
Belum lagi saat mengingat tempramen Angkasa yang sangat menyebalkan itu membuat Feli jadi takut kalau laki-laki itu benar-benar akan mengamuk jika minuman tak kunjung datang.
Dengan berat hati Feli pun akhirnya mengalah dan membawa minuman itu menuju ruangan Angkasa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ia berada saat ini.
Seperginya Feli dari tempat itu mereka pun akhirnya bersorak gembira karena tak sabar melihat seorang Feli akan tertimpa masalah lagi kali ini.
"Sukurin, makanya jangan belagu sok-soan mau masuk telat setiap hari. " Mereka tersenyum licik.
"Permisi pak, " Feli mengetuk pintu dengan pelan. Dan Angkasa kenal sekali dengan suara itu.
"Masuk! " Angkasa masih sibuk mengerjakan berkasnya.
"Kenapa lama sekali? Apa saja yang kalian kerjakan hingga membuat minuman saja selama ini? " Kesal Angkasa.
Feli dengan susah payah berjalan ke arah meja Angkasa dengan kakinya yang semakin terasa sakit itu, ia menunduk takut karena ia tahu ini akan terjadi. Laki-laki itu tak hentinya mengomel sejak tadi pagi.
"Maaf Pak, saya sedang banyak kerjaan tadi. "
Feli meletakkan minuman itu diatas meja milik Angkasa dengan ragu karena tatapan Angkasa lagi-lagi tajam kearah nya.
"Kenapa ia terlihat sangat pucat sekali? Bukankah ia sudah merasa lebih baik tadi pagi? "Batin Angkasa melihat kearah Feli dengan heran.
" Ooh jadi kamu bermaksud mengatakan bahwa kerjaan mu itu lebih penting dari pada aku yang sedang kehausan ini? "
"Bu,, bukan begitu pak! Saya tidak bermaksud berkata seperti itu, sungguh! "
"Banyak sekali bicara mu, mengaku saja sesusah itu yah? "
Angkasa meniup pelan teh itu sebelum meminumnya. Dan ia dengan pelan meminum teh itu karena ia benar-benar sangat haus.
Byur,,
Angkasa langsung menyemburkan teh dalam mulutnya hingga mengenai wajah Feli yang langsung kaget karena merasa hangat dengan semburan itu.
"APA-APAAN KAMU INI? " bentak Angkasa dengan keras hingga Feli tersentak sedemikian kaget.
Dan ia yakin ini akan menjadi masalah baru lagi untuk nya.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
Waduhh mas langit lagi PMS apa gimana tuh, apa-apa disembur hahaha.
__ADS_1
Jangan lupa yah like, komen dan vote wan kawan.
See you guys 🌺