Dulu Dibully, Sekarang Suami

Dulu Dibully, Sekarang Suami
35. Ditelfon fahdan.


__ADS_3

...🍃Soundtrack #Because- Dreamcatcher 🍃...


...🌾🌾Aku tidak pernah memaksa matahari untuk selalu bersinar bahkan saat malam hari datang, begitu juga dengan mu. Aku tak akan memaksa mu untuk selalu mengerti diriku🌾🌾...


        Feli masih saja sibuk membersihkan taman yang lumayan luas itu, padahal rumput nya tidak terlalu panjang kenapa Angkasa sangat ingin Feli mengerjakan nya.


Angkasa sendiri sekarang sudah duduk dikursi dibawah pohon tepat disamping Feli yang sedang bersusah payah menahan peluh karena sudah bekerja sejak tadi.


"Apa mas tidak berniat untuk membantu ku sedikitpun? " Tanya Feli dengan wajah ditekuk.


"Sama sekali tidak, " Jawab Angkasa dengan cepat.


"Cih, memang tidak berperasaan jadi orang. " Kesal Feli merutuk dalam hatinya.


Feli yang merasakan hape didalam saku celananya bergetar segera menghentikan acara nya lalu menerima panggilan itu.


"Halo mas, " Sapa Feli saat menerima panggilan dari fahdan itu.


Angkasa yang sibuk melihat lihat sekitar langsung mengalihkan pandangannya kearah Feli dengan dahi berkerut tidak suka.


"Aahh aku sedang dirumah mas heheh. " Feli tersenyum dan tertawa kikuk karena fahdan menanyakan keberadaan nya saat ini.


Angkasa sudah memasang wajah dongkol tanpa sebab, melihat Feli menyebutkan nama laki-laki lain hatinya panas dan melihat Feli tersenyum saat berbicara di telfon ia merasa kebakaran jenggot tanpa sebab.


"Kenapa dia tersenyum seperti itu? Siapa yang sedang ia ajak bicara di telfon? " Batin Angkasa menyelidiki.


"Maaf yah mas semalam aku pergi tiba-tiba, " Ucap Feli merasa bersalah karena meninggalkan fahdan sendirian ditaman semalam.


Angkasa tertawa hambar mendengar ucapan Feli itu, jelas sekali gadis itu sedang menyindir nya karena menariknya secara tiba-tiba semalam.


"Tidak apa-apa kok, mas masih nunggu janji kamu yah. " Fahdan dari seberang telepon.


Feli sedikit bingung janji apa gerangan yang dimaksud oleh fahdan itu.


"Janji? Janji apa mas? " Tanya Feli bingung.


"Yahh baru aja sehari kamu udah lupa hahah, kamu tidak sedang Pura-pura lupa kan. Kamu berjanji akan mentraktir ku makan, " Ucap fahdan tertawa ringan.


"Aah itu mas, mas tenang aja pasti akan aku tepati secepatnya heheh. Mas harus sedikit bersabar saja. " Feli tertawa begitu juga dengan fahdan dari seberang telepon.


Angkasa tak hentinya tertawa hambar lalu merasa kesal tanpa sebab, ia melihat kearah Feli dengan hati yang panas.


"Khem, apakah kebun dibelakang juga memiliki banyak rumput liar yah? Sepertinya seseorang sangat senggang hingga memiliki waktu telponan saat ini. " Sindir Angkasa hingga Feli sedikit kepalang.


Gadis itu melihat kesal kearah Angkasa yang selalu saja memiliki cara untuk mengganggu nya.


"Maaf yah mas, aku masih ada urusan saat ini. Aku tutup yah mas. " Feli segera mematikan sambungan setelah fahdan mengatakan iya.


"Cih, bisa-bisanya kamu telponan saat sedang bekerja, " Ucap Angkasa dengan nada sarkastik.

__ADS_1


Feli melihat heran kearah Angkasa namun gadis itu memilih untuk diam saja.


"Bersihkan dengan benar, awas saja kalau rumput nya masih banyak tidak hanya kebun belakang yang akan kamu bersihkan tapi seluruh kebun di Indonesia. " Kesal Angkasa berjalan meninggalkan Feli.


Sebelum ia benar-benar meninggalkan Feli ia menendang kumpulan rumput yang Feli kumpulkan itu hingga berserakan kemana-mana.


Feli melihat heran karena ulah Angkasa sangat diluar dugaan nya.


"Apa yang terjadi dengan laki-laki itu? Kenapa Sangat kekanakan sekali? "


Feli akhirnya memilih untuk melanjutkan tugasnya agar segera selesai karena hari sudah mulai terik ia bahkan sudah berpeluh banyak sekali.


"Dia pikir siapa dia membuat ku kesal begini? Apa? Mas? Janji? Secepatnya? Hah! Menyebalkan," Ucap Angkasa mengikuti setiap kata yang sudah disebutkan oleh Feli tadi, ia terlihat uring-uringan karena mengingat Feli yang menelpon tadi.


"Lihat saja kamu akan kubuat lebih kesusahan lagi, berani-beraninya kamu menelpon laki-laki lain di depanku. "


Angkasa tersenyum smirk lalu menaiki tempat tidur kemudian memainkan hapenya walaupun sebenarnya ia sedang tidak mood untuk itu.


"Akhhh gara-gara gadis jahat itu aku jadi tidak mood melakukan apapun, sudah suka berbohong sekarang ia makin meningkat dan dekat dengan laki-laki lain. Hah! Dia pikir dia siapa? "


Angkasa turun kebawah membuka kulkas mencari minuman disana, ia merasa gerah dan kepanasan mungkin dengan meminum minuman yang dingin ia akan merasa lebih baik.


"Huh, sudah minum dan AC sudah ku tingkatkan kenapa aku masih merasa gerah? Ahhh sial. " Angkasa membuka bajunya hingga kini ia bertelanjang dada.


Tiba-tiba saja ia tak sengaja menjatuhkan gelas di tangan nya.


"Aihh kenapa sih dengan ku? " Angkasa berjongkok mencoba untuk mengumpulkan kepingan gelas itu ia malah terkena beling hingga tangan nya berdarah.


Mungkin karena ia mendengar sesuatu jatuh dari dalam rumah ia datang menghampiri Angkasa dan saat ini Angkasa sudah jongkok didepan pecahan kaca depan tangan berdarah.


"Bukan apa-apa. " Angkasa berdiri menyembunyikan tangannya dari arah Feli.


Namun, ia merasa tarikan ditangan nya yang satu lagi. Ternyata Feli lah yang menariknya menuju sofa.


"Tangan mas terluka dan itu bisa infeksi jika dibiarkan begitu saja. " Feli mengambil kotak p3k dari laci dan duduk disamping Angkasa.


Dengan pelan Feli melihat kearah tangan Angkasa namun ditepis oleh Angkasa. Ia sangat kesal jika dianggap lemah hanya karena luka kecil.


"Sudahlah, hanya luka kecil saja tidak usah heboh begitu. "


"Ck, mas diam saja biar aku obati sebentar tidak akan lama kok. "


Feli menahan tangan Angkasa yang hendak ia tarik itu, dengan telaten ia membersihkan terlebih dahulu luka itu lalu ia berikan sedikit betadine dan terakhir ia balut dengan Flaster yang tersedia disana.


Namun Angkasa buru-buru mencekal tangan Feli saat hendak menyematkan Flaster itu.


"Mas diam saja, hampir selesai kok. "


"Tidak usah dibalut dengan Flaster segala, " Ucap Angkasa tidak suka.

__ADS_1


Feli tertawa pelan melihat kearah Flaster ditangan nya. Mungkin karena warna dari Flaster itu berwarna pink dengan beberapa gambar boneka imut disana membuat Angkasa terlihat risih.


"Hahaha, mas tidak suka dengan motifnya yah? " Goda Feli dengan wajah tersenyum.


Angkasa melirik kesal kearah Feli "Sudah tau kenapa masih bertanya? "


"Ayolah mas ini bukanlah hal yang membuat citra mas runtuh, hanya Flaster kecil saja sudah membuat mas terganggu. "


Dengan satu tempelan Feli berhasil menyematkan flaster itu dijari Angkasa.


"Lihatlah mas, tidak buruk kok. Mas juga tidak akan terlihat gemoy hanya karena ini. " Feli masih saja memegang tangan Angkasa memperhatikan flaster yang tersemat disana.


Angkasa jadi teringat saat mereka SMA dahulu Feli juga pernah membalut luka ditangannya dengan sebuah Flaster berwarna cerah, gadis itu pernah menjadi orang yang perhatian dan baik padanya sebelum ia benar-benar menjadi gadis jahat ya sangat ingin ia benci.


Angkasa tak habis pikir dengan Feli yang tiba-tiba berubah menjadi gadis kasar padanya, mempermalukan nya dihadapan banyak orang dengan mengatakan kalau laki-laki gemuk sepertinya tidak seharusnya berani menyukai gadis secantik dirinya.


"Sudahlah kamu terlalu banyak bicara, " Ucap Angkasa merasa canggung dan menarik tangan nya dari Feli.


"Hmm bilang Terima kasih saja sesusah itu yah mas? " Feli tersenyum menggoda Angkasa kemudian ia mengembalikan kotak p3k itu ketempat nya.


Feli juga tidak lupa membersihkan pecahan kaca juga melap bekas tetesan darah Angkasa tadi.


"Mau kemana kamu? " Tanya Angkasa saat melihat Feli hendak keluar.


"Ke taman mas, masih ada sebagian lagi yang belum selesai kebersihkan. " Feli.


"Sudahlah tidak usah lagi, hari sudah sangat panas sekarang. "


"Bekerja tidak boleh setengah-setengah mas, tinggal sedikit lagi dan akan ku selesaikan dengan cepat. " Feli tersenyum ringan.


"Baiklah, aku tidak memaksamu. "


"Aku permisi mas, " Feli meninggalkan Angkasa diruangan itu.


Dengan seksama Angkasa memperhatikan tangan nya yang dibalut oleh Flaster berwarna feminin itu.


"Aku tidak tahu kalau aku bahkan memakai hal-hal seperti ini sekarang, " Ucap Angkasa menggeleng karena Feli yang memaksanya memakai itu.


Ia tersenyum tanpa sebab saat mengingat ulah Feli yang terkadang konyol dan lucu menurut nya.


"Kenapa dengan ku? Apa aku baru saja tersenyum? Karena apa tepatnya? "Bingung Angkasa.


" Aah mungkin karena Flaster ini terlihat lucu yah sangat lucu. "Angkasa mencoba untuk mengalihkan pikiran nya sendiri.


...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...


Hayo hayo mas langit dah mulai baper nih, cemburu kah anda?.


Jangan lupa yah like, komen dan vote wan kawan.

__ADS_1


See you guys🌺


__ADS_2