Dulu Dibully, Sekarang Suami

Dulu Dibully, Sekarang Suami
14. Nasi sepiring penuh.


__ADS_3

...🍃Soundtrack #my everything-Nct u🍃...


...🌾🌾Kalian membingungkan, bagaimana aku bisa mengerti bila aku bertanya tak pernah kalian dengarkan🌾🌾...


     Meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai jenis makanan yang sangat mengajak lidah untuk tergiur akan rasanya. Belum lagi beberapa camilan yang disediakan disudut meja membuat meja makan terlihat sangat apik bahkan untuk menyambut pagi yang begitu cerah itu.


Setiap kursi yang ada didekat meja sudah terisi oleh anggota keluarga Angkasa yang tidak lain adalah mamah, papah, Vania begitu juga dengan Angkasa juga anggota keluarga baru mereka yakni Feli yang sejak semalam telah bergabung dengan keluarga itu.


Feli hanya menunduk saat melihat Tatapan tidak suka dari mamah, masih pagi ibu mertuanya itu sudah merengut dan memasang wajah tak bersahabat. Apakah setiap hari ia akan menghadapi tatapan itu?.


"Ada apa mah? Lihatlah menantu kita jadi tidak nyaman karena mamah melihat nya seperti itu. " Papah yang langsung memperingati istrinya itu untuk tidak menatap Feli dengan tatapan mengintimidasi itu.


"Iya nih mah, mbak Feli jadi gak nyaman gitu. " Vania ikut membela.


"Kamu diam saja, kamu tidak tahu apa-apa. " Kesal mamah.


"Bagaimana bisa kamu baru bangun sekarang? Membantu memasak saja tidak mau yah? Kamu pikir tinggal disini akan membuat mu jadi seorang ratu? Ooh jadi tujuan mu menikah langit putraku untuk bersikap seolah jadi ratu yah? " Tudingan itu lagi-lagi dilontarkan kearah Feli yang hanya diam saja menunduk meremas kemeja Angkasa yang ia kenakan itu.


"Ma,, mah buk,, bukan beg.. " Feli sangat gugup bahkan untuk berbicara.


"Mah, mamah kok ngomong gitu sama istri aku? Wajarlah dia bangun kesiangan kami sangat kelelahan tadi malam. Mamah harap maklum lah. Ya kan sayang? " Angkasa tersenyum kearah Feli mengelus pelan bahu Feli yang gemetar itu.


Gadis itu hanya dibuat semakin bingung dengan sikap Angkasa yang tiba-tiba kembali melunak itu. Belum lagi semua ucapannya dipenuhi dengan bualan yang sama sekali tidak pernah mereka lakukan.


"Kenapa dengan mas Angkasa? Kenapa dia berbohong dan tatapannya sekarang sangat berbeda dengan tatapannya tadi malam? " Bingung Feli membatin.


"Kenapa diam saja, cepat jawab iya atau kamu akan kena akibatnya. " Bisik Angkasa kearah Feli dengan tatapan tak suka.


Feli dengan buru-buru mengangguk mengiyakan kearah mamah juga anggota keluarga lainnya.


"Lihatlah mah, ia bahkan hanya mengenakan kemejaku saja. Mamah pasti faham kan? Jadi jangan salahkan Feli karena baru bangun sekarang. Feli hanya kelelahan karena aktivitas kami tadi malam. " Angkasa dengan mulut penuh kebohongan nya itu.


Dalam benak Feli timbul banyak sekali pertanyaan, kenapa Angkasa tiba-tiba berubah setelah acara pernikahan itu? Awalnya ia terlihat sangat antusias dan penuh perhatian seolah ia benar-benar menginginkan pernikahan itu walaupun hanya dengan alasan tertentu tapi kenapa setelah pernikahan diadakan ia bersikap seolah pernikahan ini sungguh bukan keinginannya, melebihi perjodohan saja dinginnya sikap Angkasa kepadanya.


"Sudahlah mah, mamah pasti tau kan bagaimana rasa lelah yang Feli rasakan. Kayak mamah gak pernah muda aja, mamah gak lupa kan? " Papah tersenyum menggoda mamah yang masih terlihat kesal itu.


Membayangkan putranya akan menjadi ayah dari seorang anak dari mantan narapidana seperti Feli membuat ia semakin kesal dan rasa bencinya semakin besar pada gadis yang kini menjadi menantunya itu.


"Mamah kenyang, kalian habiskan lah jangan sampai sisa. " Mamah berlalu ke kamar dengan kesal.


"Mamah kenapa sih? Apa mbak ada salah sama mamah? Kenapa setiap lihat mbak mamah selalu kesal gitu? " Vania bertanya kearah Feli yang masih saja bingung dengan suasana rumah ini.

__ADS_1


"Sudahlah kamu juga makan cepat, mungkin manah hanya belum Terima saja masmu menikah. " Papah lanjut makan.


"Kamu juga makanlah sayang, kamu pasti kelelahan tadi malam. " Angkasa memasukkan banyak sekali nasi keatas piring Feli dan gadis itu sudah pasti tak akan bisa menghabiskan nya saking banyaknya.


"Loh, kok mas masukin nasinya banyak banget sih? Mbak feli gak bakal sanggup abisin. " Vania memang tipe orang yang sangat perhatian.


"Mbak mu sangat suka makan sayang, dalam sekejap ini akan habis ya kan sayang? " Angkasa dengan tatapan mengancam kearah Feli hingga gadis itu hanya bisa menganggukkan kepala nya ragu.


"Gak tuh mas, kok mbak nya keliatan ragu banget yah kan pah? " Vania masih saja tak percaya.


"Kamu bicaralah cepat, apapun turuti ucapanku. " Ancam Angkasa.


"Mbak suka makan sayang, ini bukan apa-apa bagi Mbak hehehe. " Feli mulai memakan nasi itu dengan berat hati.


Bagaimana bisa ia akan menghabiskan nasi sedemikian banyak begitu? Untuk menelan air saja ia tak sanggup karena perlakuan mamah Angkasa dan sekarang ia disuruh memakan nasi yang sangat berjumlah banyak itu.


"Wahh menantu, papah sangat suka kalau kamu suka makan begitu. Jadi papah gak perlu khawatir kamu akan kurusan, jaga kesehatan yah menantu. " Papah tersenyum dengan tulus dan langsung dibalas senyum oleh Feli.


"Kok mas cuma masukin nasi doang, nih mas lauknya banyakin biar Mbak Feli makannya makin selera. " Tawar Vania memberikan beberapa jenis lauk yang sangat lezat.


"Mbak mu hanya suka nasi, dia tidak terlalu suka lauk pauk apalagi yang berminyak seperti ini. " Angkasa lagi-lagi berbohong.


Feli tersedak karena terlalu banyak menelan nasi, ia sungguh sudah tak sanggup untuk melakukannya lagi.


"Minumlah sayang, walaupun kamu sangat menyukai nasi jangan sampai tersedak begini dong hahaha. Masih banyak jangan terlalu buru-buru gak ada yang rebut nasinya dari kamu kok. " Angkasa menambahkan satu sendok besar lagi kepiring Feli hingga Feli semakin panik.


"Kenapa dia melakukan hal-hal seperti ini? Ada apa sebenarnya dengan mas Angkasa? Kenapa dia sangat berbeda dengan mas Angkasa yang kukenal diawal jumpa? " Bingung Feli meminum minuman yang diberikan oleh Angkasa.


"Ayok dimakan lagi sayang, kamu kan sangat suka nasi ini. " Angkasa menyuruh Feli untuk memakannya lagi dan lagi.


Papah hanya tersenyum melihat putranya ternyata sangat mengenal menantunya dan melihat mereka saling memperhatikan satu sama lain ia jadi yakin kalau Putra nya benar-benar bahagia dengan pernikahannya ini.


"Pelan-pelan Mbak makannya hehehe, mas ternyata perhatian juga yah hahaha kirain gak bakal bisa bucin kayak gini. " Vania tersenyum melihat keuwuan yang sangat berbeda dengan orang banyak itu.


"Papah juga gak nyangka kamu begitu perhatian dengan menantu, melihat kalian begitu saling mengenal hingga makanan dan kebiasaan membuat papah bahagia. Semoga pernikahan kalian abadi dan selalu saja dipenuhi dengan kebahagiaan saja. Papah turut bahagia sayang. "


Angkasa tersenyum kearah papahnya walaupun sebenarnya ia merasa sedikit bersalah karena telah mempermainkan perasaan anggota keluarga nya. Ini hanya pernikahan yang sangat berbeda dengan pernikahan umumnya. Ini lebih tepatnya pernikahan untuk membalaskan dendam nya.


"Ayok dimakan sayang, sampai kenyang. "


"Setelah itu mentahkan semuanya jangan sampai tersisa, " Gumam Angkasa membatin.

__ADS_1


Kenangan lama saat Feli memperlakukan ia saat SMA dulu terputar lagi. Gadis ini juga pernah melakukan hal yang sama dengan nya. Menyuruhnya memakan semua jenis roti yang ada dihadapannya dipermalukan didepan banyak orang dan dihina karena memiliki tubuh yang sangat gemuk.


Angkasa masih ingat wajah Feli yang begitu menghinakan nya. Dan saat itu dengan penuh keterpaksaan Angkasa memakan semua roti tanpa rasa itu hingga habis dan tanpa sepengetahuan mereka Angkasa muntah hampir seluruh isi perutnya keluar.


Ia bahkan sampai masuk rumah sakit karena kehilangan banyak sekali cairan dalam tubuhnya.


"Kamu pasti sudah lupa dengan semua perbuatan kejimu padaku dulu, sedangkan aku sedetikpun tidak pernah lupa dengan semua perbuatan mu itu. " Batin Angkasa tersenyum saat melihat Feli begitu kesusahan memakan seluruh nasi diatas piring itu.


"Seperti nya menantu sudah kekenyangan, kalau sudah tidak sanggup untuk menghabiskannya jangan terlalu memaksakan diri nak. " Papah tersenyum kearah Feli. Karena terlihat dari jauh pun kita bisa tahu bahwa Feli sudah tak sanggup untuk memakaikannya lagi.


"Loh, papah bukannya masuk sekarang yah? Vania kamu juga nanti telat. "


"Eh iya mas, aku berangkat bareng papah yah? Yuk pah nanti aku telat nih huuu. "


"Yaudah iya sayang, kita berangkat sekarang yah kamu dirumah saja dulu berdua dengan istrimu. " Papah kemudian berlalu.


Setelah papah dengan Vania pergi Angkasa melihat kearah Feli yang terlihat sangat kekenyangan itu.


"Cepat habiskan itu, jangan sampai ada sisa. "


"Ta,  tapi mas. "


"Jangan banyak protes lakukan saja, aku paling tidak suka dengan orang yang banyak protes. "


"A,, aku sudah tak sanggup lagi mas. A,, "


"Cepat!!! " Bentak Angkasa dengan keras hingga Feli kaget bukan main.


Laki-laki dihadapannya ini kenapa sebenarnya? Sangat berbeda dengan Angkasa yang pertama kali ia temui.


"Ba,, baik mas. " Feli dengan buru-buru memakan nasi diatas piringnya dengan sesekali minum untuk membantu nya menelan nasi tanpa lauk itu.


Bayangkan betapa hambarnya rasa dari nasi itu.


...🎋🎋Bersambung🎋🎋...


Wahhh gile juga nih si Angkasa.


Semoga pada suka yah.


See you guys 🌺

__ADS_1


__ADS_2