
...🍃Soundtrack #Belum siap kehilangan-Stevan pasaribu 🍃...
...🌾🌾Banyak yang memiliki luka dan menyimpannya, seperti Lukaku yang kian banyak dan menimbun🌾🌾...
Ketukan terdengar dari arah luar kamar mandi, Feli yang masih berusaha untuk menguatkan hati terlonjak kaget kemudian berusaha menetralkan raut wajah habis menangis nya itu.
"Apa masih lama? " Terdengar suara Angkasa dari luar. Mungkin karena Feli terlalu lama berada dikamar mandi hingga Angkasa datang menyusulnya.
"Sudah selesai pak, hehehe maaf kalau saya terlalu lama. " Senyum Feli mencoba untuk terlihat kuat.
Angkasa sendiri tak bisa memungkiri keteguhan hati Feli, bagaimana bisa gadis itu masih saja tersenyum saat mata bengkak nya tak bisa menutupi fakta bahwa ia baru saja menangis.
"Sudahlah tidak apa, apa kamu baik-baik saja? Maafkan perkataan mamah tadi. " Angkasa bersikap seolah simpati padahal itu adalah salah satu rencananya, ia sangat senang saat melihat Feli terhina tadi.
"Hahaha saya baik-baik saja pak, bapak tidak perlu khawatir. " Senyum Feli terlihat sangat dipaksakan.
"Kita lihat sejauh mana kamu akan kuat, ini masih belum apa-apa dibanding yang akan datang setelah ini. " Batin Angkasa tersenyum.
"Loh, om sama tante dimana pak? " Tanya Feli bingung saat melihat ruang tamu sudah tidak ada kedua orang tua Angkasa.
"Sedang ada urusan tadi. Kita sudahi saja dulu pertemuan hari ini, mari ikut saya. " Feli hanya menurut mengikuti Angkasa meninggalkan pekarangan rumah milik Angkasa.
Ditengah perjalanan mereka hanya diam saja, Feli sibuk memikirkan bagaimana ia akan menghadapi ketidaksukaan orang tua Angkasa padanya. Ia merasa tak akan ada keserasian anatara ia dan mamah Angkasa.
"Pa,, pak, apa bapak yakin akan melanjutkan pernikahan ini? " Tanya Feli dengan ragu namun ia harus memperjelas nya.
Angkasa yang sedang fokus menyetir mobil itu melirik kearah Feli yang melihat kearahnya dengan penuh pertanyaan.
"Kenapa? Kamu ingin membatalkannya? " Tanya balik Angkasa.
"Bukan begitu maksud saya pak, melihat ketidaksukaan tante rasanya sangat tidak pantas untuk saya pak. Bagaimana jika tante membenci bapak karena saya? Saya hanya ingin memastikan nya pak. " Feli sedikit ragu dengan pernyataannya sendiri.
"Kamu tidak usah khawatir, seiring waktu berjalan mamah pasti akan setuju. Yang terpenting sekarang adalah kamu bersedia dan saya juga demikian. Maka semua akan normal seiring berjalannya waktu. " Angkasa dengan wajah lempeng terus saja menyetir.
"Eughh,, kenapa bapak memilih saya? Padahal masih banyak gadis yang tentunya akan mau dengan bapak. "
"Karena kamu punya hutang pada saya, saya tidak butuh uang untuk dibayar jadi bayar saja saya dengan pengabdian mu. " Ringkas Angkasa hingga Feli mengangguk mengerti.
Lagi-lagi ia kepikiran dengan reaksi mamahnya Angkasa saat melihat nya. Bagaimana ia akan hidup kedepannya jika reaksi mamah sama saja seperti tadi.
"Mulai sekarang jangan memanggilku dengan sebutan bapak saat kita berdua dan dihadapan keluarga, kamu tidak ingin kan hubungan kontrak ini sampai ketahuan? Kalau sampai ketahuan maka perjanjian kita akan batal. "
"Lantas, bagaimana saya harus memanggil bapak? "
"Apa saja ,intinya jangan sampai menimbulkan kecurigaan. "
"Bagaimana dengan sebutan mas? Apa bapak keberatan? "
"Terserah, itu lebih baik dari pada bapak. Umur kita sepertinya tidak terlalu jauh berbeda. "
"Baik mas, " Feli memang sangat patuh karena ia tak ingin melepaskan kesempatan untuk melunasi hutangnya itu.
"Kamu turunlah, "
__ADS_1
"Hah? " Bingung Feli saat Angkasa menghentikan mobil ditengah jalan lalu menyuruhnya untuk turun.
"Saya tidak ingin orang dikantor tau dengan hubungan kontrak kita, saat berada dikantor usahakan jangan sampai menimbulkan kecurigaan termasuk jangan sampai ketahuan. Anggap saja kita hanya sekedar bos dan bawahan. Ingat jangan sampai mengacaukan rencana saya. " Angkasa sangat tegas hingga Feli sedikit kaget.
"Ba,, baik mas. " Feli kemudian turun dengan pelan lalu menutup pintu mobil.
Angkasa menjalankan mobilnya meninggalkan Feli ditengah jalan. Memang jaraknya dengan kantor sudah lumayan dekat. Feli juga faham maksud dan tujuan Angkasa menurunkannya disana hanya untuk berjaga-jaga saja agar tidak ketahuan oleh orang-orang dikantor.
"Aku juga tidak ingin menempatkan pak Angkasa dalam bahaya, bagaimana jika ada yang tau hubungan kontrak kami? Aku takut mereka akan menggangu pak Angkasa. " Gumam Feli terus berjalan menuju kantor.
"Wahhh semakin ngelunjak aja yah kamu, apa kamu sudah gila datang ke kantor jam segini? Masa pak boss lebih dulu datang dibandingkan kamu. " Hardik salah satu rekan kerja Feli.
Feli yang sedang mengganti baju langsung kaget karena suara keras itu.
"Dengar gak sih? Jangan pura-pura budeg yah. " Rekan kerja Feli memang sedikit sarkastik hingga tak segan-segan mengenai tangannya kearah Feli. Seringkali mereka menjatuhkan tangan kearah Feli. Saat Feli ingin membalas mereka pasti akan berkata bahwa fakta meninggalnya seluruh anggota keluarga nya adalah perbuatan Feli. Karena itu ia lebih memilih untuk diam saja.
Perlahan Feli menarik nafas dalam dan berjalan mengabaikan gadis dihadapan nya yang menatap nya dengan tatapan menghakimi. Lebih baik lanjut bekerja daripada harus berhadapan dengan mereka.
"Wahh makin berani aja tuh anak, kita harus kasih pelajaran biar kapok. Makin menjadi-jadi sikap arogan nya. "Hasut salah satunya lagi.
" Akhhh, "pekik Feli saat ia merasakan rambutnya ditarik dari belakang.
Dan ternyata rekan kerjanya yang menarik rambutnya dengan keras karena kesal melihat Feli yang berani mengabaikan nya.
" Makin berani aja yah lu? Apa karena kita baik-baikin lu jadi seberani ini? Dasar tidak tahu diri, gadis hina kayak gak berhak ngabaiin gue. "Seketika ia mengeraskan tarikan dirambut Feli.
Feli mencoba untuk tetap menahannya saja namun, itu sungguh sangat menyakitkan.
" Lepaskan.. "Feli dengan wajah datarnya mencoba untuk melepaskan tarikan itu.
" Lepas... "Feli masih saja mencoba untuk tetap sabar karena ia sungguh sangat tidak ingin memperpanjang masalah. Ia hanya ingin hidup damai itu saja.
" Gak akan.. "
Tarikan itu semakin keras hingga Feli benar-benar merasakan perih diarea kepala nya. Jangan bilang rambutnya sampai rontok gara-gara tarikan itu?.
"Akhhh,, "
"Gua gak akan lepasin sampai lu minta maaf sama gua. "
"Maaf saya tidak bersalah sampai harus meminta maaf. " Feli.
"Gak bersalah? Dengan lu hidup aja udah salah total. " Rekan kerja Feli yang satu ini sangat suka cari masalah memang. Paling sirik dan gak bisa lihat Feli bahagia.
"Akhh,, lepas. "
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini? " Tanya seseorang tiba-tiba masuk.
Ternyata itu adalah Angkasa yang sedang berjalan-jalan dikantor nya. Namun, saat ia berjalan ia mendengar perseteruan dari arah ruang penyimpanan. Sejak tadi ia mendengarkan perseteruan itu hingga akhirnya ia datang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"E,, eh pak bos. Kita sedang berdiskusi pak heheh. " Rekan kerja Feli langsung saja cari muka dengan senyum fake nya.
Feli sendiri hanya diam saja, ia benar-benar berpura-pura tidak mengenal Angkasa.
__ADS_1
"Lalu ada apa dengan tangan mu yang menarik rambut gadis itu? " Tanya Angkasa yang juga berpura-pura tak mengenali Feli.
"Ah saya sedang merapikan rambutnya pak, dia memang memiliki kebiasaan datang ke kantor dengan penampilan yang berantakan jadi saya membantunya merapikan rambutnya hehehe. "
Feli hanya menarik nafas kesal karena melihat sikap gadis dihadapan nya, sangat bermuka dua dan benar-benar seorang penjilat.
"Baiklah, sebaiknya kalian berdiskusi setelah selesai bekerja saja." Angkasa beralih pergi tapi setelah itu ia melihat kearah Feli yang sangat tertekan itu, gadis itu terlihat sangat tidak nyaman berada disana.
"Ternyata bukan cuma aku yang ingin melihat gadis itu sengsara hahaha. " Batin Angkasa sedikit senang.
Hari ini ia sangat senang karena melihat juga mendengar Feli diperlakukan secara tidak wajar, sedikit demi sedikit rasa sakitnya dimasa lalu kian terobati saat melihat lawan yang selama ini ia ingin jatuhkan diperlakukan secara menyedihkan dihadapan nya.
"Rasa sakitku selama bertahun-tahun tak akan terobati secepat itu, kita lihat apakah kamu akan mampu menahannya seperti aku menahannya dulu? " Angkasa tersenyum smirk lalu berjalan menuju ruangan nya.
Hari ini sangat melelahkan bagi Feli, Sudah tubuhnya yang sedang tidak fit ia bahkan harus berhadapan dengan mamah Angkasa yang sangat menghinakan dia. Belum lagi dikantor ia harus kuat menghadapi rekan kerjanya yang selalu mengintimidasi nya.
"Aku ingin istirahat, " Gumam Feli berjalan menuju rumahnya.
Namun, saat ia hendak berjalan ia mendengar suara kucing dari arah samping. Suara kucing tersebut seolah sedang meraung kesakitan.
"Hah? Kasihan sekali kamu. Bertahanlah aku akan mengeluarkan mu dari situ. " Feli merasa kasihan saat melihat seekor kucing tengah terperangkap disebuah lubang disudut jalan.
Dengan hati-hati Feli berhasil mengeluarkan kucing itu, sebagian dari tubuh kucing itu sedikit kotor namun dengan perlahan dibersihkan oleh Feli dengan tisu ditasnya.
"Kamu pasti sudah terperangkap disana seharian, " Iba Feli karena merasa ia dan kucing itu sama-sama bernasib sangat buruk hari ini.
"Disini rupanya. " Tiba-tiba sebuah suara datang dari hadapan Feli.
Seorang laki-laki bertubuh gagah tengah berdiri dihadapan Feli dengan wajah khawatir nya.
Karena sadar Feli langsung berdiri, ia sangat yakin bahwa laki-laki di hadapan nya itu adalah sang mantan
Pemilik kucing itu.
"Ini kucing nya yah mas? " Tanya Feli ragu-ragu.
"Seharian saya cari ternyata disini, padahal tadi saya kesini Eri tak ada disini. "
"Namanya Eri yah mas? Tadi saat saya berjalan saya mendengar suara kucing dari lubang disudut jalan. Mungkin ia sangat kelaparan dari tubuhnya yang bergetar itu. " Feli menyodorkan kucing bernama Eri itu kearah laki-laki yang merupakan pemilik sang kucing.
"Terima kasih karena sudah mengeluarkan Eri dari lubang itu. Kamu pasti sangat ketakutan disana yah? " Khwatir laki-laki itu terlihat dari wajah nya.
"Saya permisi mas. " Feli berlalu bahkan saat laki-laki itu hendak berbicara kembali dengan nya.
"Huh, dengan kucing saja aku cemburu. Dia memiliki seseorang yang bertanya apakah ia ketakutan, ia memiliki seseorang yang mencarinya, ia memiliki seseorang yang sangat peduli padanya. " Gumam Feli terus berjalan kerumah nya.
"Aku tak punya siapa pun yang akan mencemaskan ku. " Rasa sepi Lagi-lagi menyelimuti hari hari feli.
...🎋🎋Bersambung 🎋🎋...
Wahhh makin banyak aja masalah nya Feli yah. Kelar satu datang lagi.
Jangan lupa yah like, komen dan vote.
__ADS_1
See you guys🌺