
“Kak Marco. Marco sahabatku. Buka pintunya. Aku datang. Buka pintunya.”
Marco malah mengunci pintu kamarnya dari dalam, saat Ella mengetuk pintunya.’
“Jika tak dibuka, aku akan mendobrak pintunya. Kau tahu? Aku membawa gergaji mesin saat ini. Aku tak bercanda.”
Ella mengeluarkan ponselnya, lalu menyalakan rekaman gergaji mesin untuk menipu Marco.
“Kesabaranku hanya tiga detik. Cepat buka.. Satu. Dua. Tiga!”
*BRAKKK!!!
“Jangan dihancurkan! Jangan hancurkan pintunya.”
Marco mendobrak pintu dan keluar dari kamarnya, karena takut, jika Ella akan benar-benar melakukan hal itu.
Marco pun terdiam dan merasa terbodohi, saat melihat yang bersuara adalah ponsel Ella.
“Ini. Kuberikan padamu. Ambil kembali. Dia batal diadopsi.”
Ella memberikan Mozza kepada Marco.
“Mozza? Batal diadopsi? Kenapa batal?”
“Sebagai ganti Mozza, berikan Michael padaku. Aku menginginkan Michael.”
“Senyuman palsu,” ucap Marco.
“Sunggu. Aku bosan tanpamu, sahabat. Bukankah kau ingin menjadi sahabatku?”
“Tidak. kau berbohong.”
“Aku tak berbohong, Kak. Aku datang untuk menjemputmu untuk kembali tinggal di kastel, agar kita bisa menciptakan buku dongeng.”
“Kau berbohong.”
“Sebenarnya, hari ini aku berulang…”
“Kau berbohong.
“Aku ingin teman untuk hadiah ulang tahunku. Apa kau tak ingin memberiku sebuah hadiah?”
“Kau berbohong.”
Marco terus ngedumel pada Ella yang sedang berbicara padanya.
“Apa kau pendeteksi kebohongan?” tanya Ella yang mulai kesal dengan Marco karena bergumam sendiri.
“Kau berbohong! Jangan berbohong! Kau berbohong! Pembohong adalah orang jahat! Pembohong.”
Marco membuang Mozza ke lantai dan kembali ke kamarnya.
“Katamu pergi bermain sendiri. Katamu pergi sendiri. Sahabat harus berbagi rahasia, tapi kau bermain berdua tanpaku!”
Marco terus bergumam di kamarnya, tepat di balik jendela kamar tempat Ella berdiri di luar.
“Aku tak butuh ini. Aku tak butuh mobil kemah! Tidak butuh!”
Marco membuka jendela, lalu membuang poster mobil itu keluar jendela, dan tepat mendarat di depan Ella.
Ella pun mengambil poster mobil itu, lalu mendekat ke jendela kamar Marco.
“Kak. Orang jahat adalah mereka yang tak mempercayai ucapan orang lain.”
“Tidak! Bukan! Tidak seperti itu!” balas Marco dari dalam kamar.
“Apa kau tahu cerita Penggembala dan Biri-biri?”
“Penggembala biri-biri yang selalu berbohong. Dia terus berbohong kepada penduduk desa mengenai kemunculan serigala.”
“Apa kau tahu kenapa dia terus melakukan itu?”
“Karena dia bosan.”
Marco masih sempat mendengarkan dan menjawab pertanyaan dan cerita Ella, saat ia sedang marah.
“Tidak, Kak. Bukan. Karena dia kesepian. Dia kesepian tinggal sendirian di gunung.”
“Penggembala itu berbohong karena terlalu kesepian. Saat serigala benar-benar muncul, tak ada yang datang menolongnya.”
“Jika ada satu orang saja yang percaya dan pergi membantunya, penggembala itu tak akan mati.”
__ADS_1
Setelah tak mendapat jawaban dari Marco, Ella pun kembali ke rumahnya.
***
Kembali ke rumah sakit OLDER, di sana terlihat para perawat yang sedang mencari seorang pasien wanita yang menghilang dari sana.
Wanita itu sangat terobsesi menjadi seorang Ecca, ibu kandung Ella sendiri.
Sepertinya, pasien wanita itu kabur menuju ke rumah Ella untuk berpura-pura menjadi ibu kandungnya dan mengucapkan selamat ulang tahun pada anaknya.
Saat Michael telah sampai di kastel, ia langsung menuruni mobilnya dan masuk ke rumah, untuk melihat keadaan Ella.
“ELLA!! ELLA!!!”
Michael terus berteriak mencari Ella saat ia memasuki kastel.
Michael juga melihat semua benda yang berada di sana telah berantakan di lantai ruang.
Michael juga melihat darah yang ada di meja, tempat Ella menulis dongeng.
Sepertinya, Ella telah melakukan sesuatu hingga berhasil mengusir wanita gila yang berpura-pura menjadi ibunya.
“Michael!”
Ella memanggil Michael dari tangga.
Michael pun berjalan mendekati Ella, lalu memeluk Ella sekencang-kencangnya.
“Syukurlah. Kau aman. Syukurlah.”
“Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?”
Michael melihat darah yang sudah berada di tangan Ella, karena ulah yang dibuatnya sendiri.
“Ohh. Wanita gila itu…”
“Dimana dia? Dimana pasien itu?” tanya Michael.
“Dia sudah pergi, Michael.”
“Kapan” Kemana perginya? Kapan perginya?”
Michael bertanya dengan nada tinggi, yang membuat Ella kaget.
Saat Michael akan mengejar wanita gila itu, Ella menarik tangan Michael untuk menahannya.
“Apakah kau kemari hanya untuk menangkap pasien yang kabur? Bukan karena aku atau merindukanku?”
“Kau jelas lebih mementingkan Marco, daripada aku. Bahkan para pasien lebih kau utamakan daripada aku.”
Ella pun ngambek dan kembali ke kamarnya.
Michael pun menyusul Ella ke kamar untuk membujuknya.
“Bangunlah. Aku mau bicara.”
Michael melihat Ella yang berbaring menutup dirinya menggunakan selimut.
Michael pun duduk di ranjang, tepat di samping Ella, saat Ella masih belum beranjak.
Michael meraih tangan Ella yang terluka, lalu mengobatinya dengan kotak P3K.
“Kenapa kau membalut tanganku? Apa aku kesakitan? Apa aku memintamu untuk membalutnya?”
Michael terus mengobati tangan Ella tanpa menghiraukan ucapan Ella.
“Hanya luka kecil di telapak tanganku. Tidak akan terasa sakit. Katamu, kita tak seharusnya bersama.”
“Berhenti mengguncang hidupku dan pergilah. Omong kosong yang kau katakan itu jauh lebih menyakitkan bagiku.”
Ella membalikkan ucapan Michael, yang sangat menyakitinya saat itu.
“Katamu aku bukan tong kosong. Kenapa kau memperlakukanku seperti tong kosong. Ini adalah hari penting bagiku! Aku tak mau sendirian. Kau malah mengatakan hal yang menyakitkan.”
Michael pun memegang kedua pundak Ella dengan tanggannya agar tak marah-marah dan terus mengomel.
“Saat kau tak bisa menahan diri, berhitunglah sampai tiga.”
Ella pun mulai berhitung.
“Satu. Dua. Tiga.”
__ADS_1
Setelah hitungan ketiga, Michael langsung mencium bibir Ella, untuk menenangkannya.
Michael terus mencium bibir Ella dan memeluknya dengan erat.
Hingga mereka berdua sama-sama berbaring dan berciuman di ranjang.
Ella merasa sangat senang, Michael langsung mencium bibirnya dan menenangkannya saat itu.
“Selamat ulang tahun. Aku sangat merindukanmu,” ucap Michael setelah mencium Ella.
“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Michael.
“Mungkin karena kepanasan. Bukankah panas sekali, saat ini? Wajahmu juga merah.”
“Sepertinya aku sakit.”
Michael mengangkat tangan Ella untuk memeriksa suhu tubuhnya.
“Astaga. Kau panas sekali. Kau demam?”
Ella pun segera beranjak dari tempat tidurnya, untuk menyiapkan bak mandi Michael.
“Bangunlah. Aku sudah mengisi bak dengan air dingin.”
“Kenapa air dingin?”
“Harus didinginkan karena kau demam. Aku melihatnya di film. Buka bajumu dan berendamlah.”
“Hahahahaha.”
Michael malah tertawa saat mendengar ucapan Ella.
“Kenapa kau tertawa? Kau mau mandi bersamaku? Perlu bunga mawar juga?”
“Tidak perlu. Berikan aku saja aku handuk basah.”
Ella pun mengambil handuk basah, lalu mengkompres Michael yang sedang terbaring di ranjangnya.
“Wanita itu…”
“Apa dia kabur dari rumah sakit?” tanya Ella.
“Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?” Michael balik tanya.
“Seolah-olah dia berpura-pura menjadi ibuku dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku karena cemas, jika aku akan kesepian.”
“Sepertinya, dia salah satu penggemar ibuku.”
“Lalu?”
“Dia hampir mati di rumah sakit hari ini. Dia mengatakan itu. Kenapa dia bisa begitu?”
“Terkadang para pasien saling bertengkar. Kau tak perlu memikirkannya.”
Michael pun menarik tangan Ella dan memeluk untuk tidur disampingnya.
Ella pun tertidur dengan nyenyak di pelukan Michael.
Begitupun Michael yang tidur dengan nyenyak dengan memeluk Ella.
***
Keesokan harinya, Ella dan Michael bangun bersama, lalu bergegas membeli sarapan di luar dan melanjutkannya pergi ke RSJ.
Sebelum mereka berangkat, mereka menjemput Marco untuk mengajak nya berangkat bersama.
Sesampainya mereka di RSJ, mereka bertiga memasuki rumah sakit bersama-sama tanpa ada perbincangan sedikitpun.
Betapa terkejutnya Ella saat ia sampai di lobi. Ella melihat ada sebuah kupu-kupu bersayap tiga di mural, tempat Marco melukis.
Begitupun Marco dan Michael yang juga terkejut melihat kupu-kupu yang tiba-tiba sudah tergambar di muralnya.
Kupu-kupu dengan 3 pasang sayap itu sama persis seperti bross yang hanya dimiliki oleh ibu kandung Ella.
Kupu-kupu itulah yang selama ini membuat Marco ketakutan.
Karena Marco juga melihat wanita yang membunuh ibu kandungnya menggunakan bross yang sama, yang tergambar di muralnya.
Ella pun mulai menangis dan akan kabur dari rumah sakit, meninggalkan Michael dan Marco.
Ella tak mampu menahan malu, sedih dan rasa kasihan nya.
__ADS_1
Ia pergi berlari meninggalkan Michael dan Marco.
Michael yang melihat Ella pun, berlari dan menyusulnya.