
“Sekarang, bukalah matamu.”
Michael mengeluarkan boneka kecil dan memperlihatkannya pada Ella.
“Sial! Sampah apa lagi ini?”
“Dia boneka mimpi buruk. Jika kau menggenggamnya saat tidur, ia akan menyimpan semua mimpi burukmu dan memakannya sepanjang malam.”
“Dengan begitu, kau bisa tidur nyenyak.”
“Sangat kekanak-kanakan.”
“Aku membawanya dari rumah. Awalnya ini milik Marco.”
“Apa maksudmu? Kau memberikan barang bekas ini untukku?”
“Tidak. Aku membuatnya sendiri.”
“Hmm. Jika ini buatan tanganmu, aku akan menerimanya.”
“Boneka ini kuberi nama, Mozza.”
“Kenapa kau beri nama itu? Apa karena Michael dan Marco, dan kau beri namanya Mozza?”
“Hahaha. Kami tiga bersaudara. Sebenarnya, kakakku bermimpi buruk seperti dirimu. Dia terus bermimpi buruk sejak kematian ibuku.”
“Kakakku sangat menderita, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa membuatkannya boneka konyol ini.”
“Astaga. Akan tetapi, boneka ini terlihat lucu saat dilihat dari dekat.”
“Kau mau?”
“Ya, aku mau,” jawab Ella.
“Baiklah. Kau boleh memilikinya. Selamat tidur.”
Michael pun berdiri dari tangga, lalu berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1
Ella yang masih duduk di tangga, ia melihat dan memegangi boneka kecil itu.
“Mozza?” ucap Ella sendirian.
Di kamarnya, Michael melihat kakaknya yang sudah tertidur.
Ia pun mendekati kakaknya yang sedang tertidur dan,
“Kak. Apa kau tidur?”
“Sungguh sudah tidur? Huffttt.”
“Kau bau miras. Aku benci sekali. Kau bau miras. Bau sekali.”
Marco pun memalingkan tubuhnya dan tidur membelakangi Michael.
“Hahahaha. Kak. Kapan kita makan ramen di tempat kita makan bersama ibu?”
“Itu di dekat pintu masuk pasar.”
“Ya. Aku tahu itu. Kau sangat menyukai ramen dari restoran itu, bukan?”
“Tidak. Kau selalu berkata…”
“Ada isian cabai dan kerang. Kuahnya enak sekali. Kau selalu merengek, menginginkan setiap hari. Itu sebabnya Ibu selalu membelikan ramen tiap berbelanja ke pasar.” potong Marco.
Michael pun kembali teringat dengan ibunya, saat Marco mengingatkannya kembali.
“Sulit menurunkan lima kilogram. Jangan minum soda, atau makan nasi. Bobotku sudah turun 5 kilogram. Luar biasa.”
“Michael. Kau harus mendengarkan Ibu. Kita harus mendengarkan perkataan Ibu.”
“Kita harus mendengarkan Ibu agar menjadi orang yang baik. Ibu kita tahu segalanya. Ibu kita tahu… Beliau tahu segalanya. Jangan pilek. Jangan minum soda.”
Marco terus bergumam yang membuat Michael diam-diam menangis meneteskan air matanya.
Michael pun memeluk kakaknya dari belakang, dan menangis diam-diam, agar Marco tak mengetahuinya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, terlihat Michael yang sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya.
Layaknya suami istri, Ella mengantarkan Michael hingga halaman rumah.
“Bawalah mobilku. Langsung pulang begitu kau selesai bekerja. Bermainlah denganku.”
Ella mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikannya pada Michael.
“Baiklah. Sampai nanti.”
“Cepatlah pulang. Jika terlambat, aku akan memakanmu.”
Michael pun menerima kunci dari Ella, lalu berangkat menggunakan mobil.
Sesampainya di rumah sakit, Michael bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk bekerja.
Terlihat Rose yang sedang menyuntikan obat khusus untuk Roy yang sedang terbaring di kasurnya.
Setelah menyuntikkan obat, Rose menemui Michael di lobi dan menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya.
“Perawat Michael, Pak Roy banyak mengeluarkan liur. Tolong ganti bajunya.”
“Baik, Bu.”
Saat Michael mengganti pakaian Roy, Roy berkata,
“Wanita itu menyanyikan sebuah lagu.”
“Lagu? Lagu apa?” tanya Michael.
“‘Oh My Darling, Clementine.”
“Padahal dia sudah meninggal. Wanita itu ada di sini.”
“Siapa wanita itu?”
__ADS_1
“Padahal dia sudah meninggal. tapi ada di sini.”
Wanita yang dimaksud Roy adalah istrinya sendiri, Ibu kandung Ella.