
Saat Michael akan melepas tangannya dari pundak Ella,
*PLAKKK!!!
“Aku tidak suka cara ini.”
Ella menahan tangan Michael, lalu membalikkan badannya.
Ella meraih leher Michael dan mendekatkannya. Ella pun juga menaruh kedua tangannya pada pundak Michael. Sekarang, mereka tepat berhadap-hadapan.
“Trauma harus dihadapi seperti ini, bukan dirangkul dari belakang.”
Beberapa saat Michael terdiam dengan apa yang dilakukan oleh Ella, lalu ia teringat kembali pada Marco yang masih berada di ruangan.
“Kakakku!”
Michael melepas tangan Ella dari pundaknya, lalu pergi ke ruang tempat kakaknya berada.
Begitupun dengan Ella yang mengikuti Michael, yang berjalan dengan cepat.
“Kenapa kau kabur begitu saja?”
“Aku mau melihat kakakku. Pelan-pelan saja. Kakiku akan sakit jika melangkah mengikutimu.”
Michael tak mempedulikan ucapan Ella dan terus berjalan dengan langkah cepatnya.
“Hei.”
“Hei!”
“HEI!!!”
Hingga Ella berteriak sebanyak tiga kali, baru Michael menghentikan langkahnya.
“Jangan buat aku marah. Karena itu bisa meledak.”
__ADS_1
Ella tersenyum pada Michael.
“Makanya aku ajari kau metode itu.”
“Itu tidak akan berhasil untukku. Mulai saat ini, jadilah tuas pengaman untukku!”
“Apa?”
“Aku mau kau menahanku supaya tak meledak.”
“Kau sendiri yang bilang, tak mau dihalangi. Katamu tak mau dihalangi, bukan?”
“Astaga. Dasar pendendam.”
“Ya, benar. Aku memang pendendam.”
“Baiklah. Sekarang kau berhak menghalangiku.”
“Kenapa aku harus mau melakukan itu?”
“Aku tak tertarik. Carilah orang lain saja.”
“Aku akan berikan bayaran yang tinggi untukmu. Aku bisa membayarmu sepuluh kali lipat dari tempat kerjamu sebelumnya. Berapa yang kau mau? Sebutkan saja.”
“Ada kalimat yang selalu kami ucapkan kepada pasien, saat mereka mulai membaik dan sembuh.”
“Apa itu?”
“‘Jangan Sampai Kita Bertemu Lagi’ Aku berharap kita tak bertemu lagi. Cukup sampai disini. Jangan ikuti aku!”
Michael pun bergegas pergi dari sana meninggalkan Ella.
Michael menuju lift untuk turun ke lantai satu dan akan melihat keadaan Marco.
Sebelum ia memasuki lift, ternyata Ella mengikutinya dan,
__ADS_1
“Aku bukanlah pasien. ‘Jangan Sampai Kita Bertemu Lagi’. Itu ucapan perpisahan kepada pasien, tapi aku bukan pasien.”
“Benar juga. Kau berbeda dengan pasien. Disuntik dan minum obat tak akan menyembuhkanmu.”
Michael menghela nafas dan menunggu lift terbuka, lalu melanjutkan ucapannya.
“Kau hanya terlahir seperti itu. Jadi tidak ada obat untukmu. Prognosis mu buruk. Tidak ada pilihan yang baik untukku selain menghindar.”
*TIING!!!
Pintu lift pun terbuka, lalu Michael memasuki lift itu.
Sebelum pintu lift itu kembali tertutup,
“Kau bukannya menghindar, tapi kabur karena ketakutan. Dasar laki-laki penakut!”
Pintu lift pun tertutup saat Ella selesai berucap.
Di dalam lift, Michael terngiang-ngiang dengan perkataan Ella, yang mengatakan bahwa dirinya lah yang menghindar dan penakut.
Ia juga kembali mengingat masa kecilnya, bertemu seorang wanita yang membelah kupu-kupu menjadi dua bagian di hadapannya langsung.
Sesampainya Michael di lantai utama, ia melihat Marco yang sudah keluar dari ruang sembunyinya, dan duduk di kursi depan ruangan.
“Kak.”
Michael menyapa kakaknya, dan bergegas menghampirinya.
Wajah Marco masih terlihat kacau dan berantakan.
“Mari kita pulang.”
Michael mengulurkan tangannya pada Marco yang sedang duduk.
Marco pun berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Michael.
__ADS_1
Mereka berdua menaiki bus untuk kembali ke tempat tinggalnya yang agak jauh.