ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Kau Terlihat Berbeda Belakangan!


__ADS_3

Terlihat Michael yang sudah berada di restoran Jim. Setelah ditinggal Ella, Michael mencari bus dan pergi ke restoran Jim untuk makan dan menemui Jim.


Di restoran Jim, Jim memberikan potongan pizza pada Michael yang terlihat sedang stress dan banyak pikiran.


Michael pun menceritakan apa yang terjadi padanya pada Jim. Ia juga bercerita bahwa telah diskors dari tempat kerjanya.


Michael pun mulai memakan potongan pizza yang telah dihidangkan Jim.


“Ckckckck. Astaga, temanku. Kau terlihat berbeda belakangan ini.”


“Hahaha. Aku belum makan siang, Jim.”


“Kau pandai menahan lapar dan berhenti kerja. Namun, setelah kau diskors karena memukul pengunjung rumah sakit, kau masih bisa makan selahap ini?”


“Hmmmm. Ini sangat enak. Pizza buatanmu sangat enak, Jim.”


Michael terus mengunyah pizza yang berada di mulutnya, tanpa memperhatikan ucapan Jim.


“Kawan, akalmu pasti sudah sakit. Ayo kita periksa.”


Jim meletakkan punggung tangannya dan menyentuh jidat Michael.


“Apa menurutmu, aku sedikit aneh?”


“Bukan sedikit, tapi sangat aneh.”


“Kenapa aku bisa aneh begini, Jim?” tanya Michael.


“VIRUS PSIKOPAT,” jawab Jim.


“Virus?”


“Ketika Ella menusukmu dengan pisau, virus psikopat wanita itu masuk ke aliran darahmu, lalu merusak fungsi otakmu.”


Jim menjelaskan itu, seolah-olah terjadi pada Michael.

__ADS_1


“Aku hampir mempercayaimu, Jim.”


Michael hanya mengangguk-angguk saat mendengar Jim yang membual.


“Aku terpikir untuk menulis novel.”


“Apa kau tahu bahasa korea dari novel?” tanya Michael.


“Novel? Kau pikir aku sebodoh itu? Hahahaha. Kau ingin tahu dalam bahasa korea? Ayolah, Michael. Masa tak tahu?”


Jim terus beralasan dan ngeles, saat Michael bertanya padanya.


“Astaga. Sudah. Lupakan saja. Ganti topik. Lupakan.”


“Jim. Aku ingin pergi bermain,” ucap Michael.


“Baiklah. Kenapa tidak? Sudah lama. Ayo bepergian naik motor ku. Kau mau kemana?” tanya Jim.


“SERENGETI,” jawab Michael.


“Sereng… Apa?”


“Astaga.”


Jim pun mulai bercerita pada Jim, soal kekesalannya pada Tom. Jim sangat kesal pada Tom, karena tinggal sekamar bersamanya.


“Dia mendengkur, menggertakkan gigi, dan kentut. Semuanya terus dilakukan sekaligus seperti orang autis.”


Michael pun tertawa terbahak-bahak, saat Jim mulai menirukan Tom saat tidur.


“Aku yakin tiap Tom tertidur, seluruh lubang di tubuhnya terbuka. Astaga, lucu sekali.”


“Jika tak tahan dengannya, tidur saja di kamar yang aku tempati dulu, Jim. Kamarnya kosong,” ucap Michael.


“Bolehkah aku?” tanya Jim.

__ADS_1


Jim pun menganggukan kepalanya.


Begitupun Jim yang tersenyum padanya.


“Omong-omong, Jim. Aku juga mau meminta bantuanmu.”


“Bantuan?” tanya Jim.


“Soal Marco, bisakah besok kau……”


“Baiklah. Aku bisa.”


Jim memotong ucapan Michael yang belum usai.


“Aku belum selesai bicara, Jim.”


“Tak perlu selesai dan tak perlu dijelaskan. Setuju tanpa bertanya dan mengeluh, itulah loyalitas persahabatan pria.”


“Hahaha. Terimakasih, Jim. Kau memang sahabat terbaikku.”


“Kau lebih suka aku atau Marco?” Jim kembali menanyakan pertanyaan bodoh itu pada Michael.


“Tak perlu kujawab, Jim. Aku suka dua-duanya. Baiklah. Aku akan pergi dulu. Aku pamit.”


Michael pun berdiri dari kursi, menepuk bahu Jim dan pergi dari restoran.


“Aku juga menyukaimu, Michael,” gumam Jim sendirian.


***


Malam hari di kastel Ella, terlihat Ella dan Marco yang duduk bersama dan menonton serial kartun di kamar Marco.


“Kak. Aku pulang.”


Terdengar suara Michael yang masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Saat mendengar Jim datang, Ella beranjak berdiri dan pergi dari kamar Marco.


“Bisa kita bicara?”


__ADS_2