
Bukannya membuka pintu, Ella malah membuka jendela kamar Michael, yang membuat Michael tambah kesal pada Ella.
“Saling bertatapan begini, kita sudah seperti Romeo dan Juliet,” ucap Ella melalui jendela yang terbuka.
“Tentu. Kau benar. Seperti musuh bebuyutan yang tak seharusnya bertemu,” lanjut Michael.
“Itulah yang seharusnya. Itulah takdir…..,” sambung Ella.
“Takdir yang tragis karena keduanya mati,” potong Michael.
“Kau tahu kenapa keduanya mati? Karena hanya Juliet yang meminum obat tidur. Jika keduanya minum obat tidur, maka tak akan mati.”
“Jadi, ayo tidur bersama saling bersebelahan.”
Ella malah menggoda Michael saat Michael sangat kesal padanya.
“Astaga. Logika macam apa itu? Cepat buka pintunya.”
“Aku akan tidur disini.”
“Buka pintunya!!!”
“Kau harus tidur di sampingku.”
Ella terus membantah perkataan Michael.
“Buka pintunya, atau kudobrak.”
“Apa kau mau kita tidur bertiga dengan Marco, Kakakmu? Baiklah. Biar ku panggil.”
__ADS_1
“Kak Marco!!!”
*SEPPP
Michael kembali menutup mulut Ella yang nekat berteriak memanggil Marco saat sudah malam.
“Baiklah. Terserah kau saja. Cepat buka pintunya.”
Michael pun melepas tangannya yang menutup mulut Ella, agar Ella segera membuka pintu kamar.
Akhirnya, Ella dan Michael pun tidur berdampingan di kasur lantai yang sama, dan hanya guling yang memberi jarak diantara mereka.
Michael pun memiringkan badannya, membelakangi Ella yang berada di sampingnya.
“Kakakku, Marco. Dia selalu melihat wajahku. Mataku, bentuk alis ku, sudut mulutku, hingga kerutan di wajahku.”
Michael malah bercerita pada Ella tentang kakaknya.
“Itu yang terpenting untukku. Aku tak peduli jika senyumku palsu. Karena tersenyum tidaklah sulit bagiku untuk melakukannya.”
“Kalau begitu, tersenyumlah padaku juga. Katamu tak sulit. Tersenyumlah,” sahut Ella.
“Cepat tidur! Sudah malam.”
Michael mengalihkan pembicaraan, lalu memejamkan matanya.
Saat Michael mulai terlelap, Ella berusaha mendekatkan kasur lantainya ke kasur lantai Michael.
Dengan sengaja, Ella berguling-guling di kasur lantai dan memeluk Michael yang tidur membelakanginya.
__ADS_1
Michael yang merasa risih pun, menjauhkan tangan dan kaki Ella yang sedang memeluknya.
Akan tetapi, Ella tetap berusaha mendekat dan memeluk Michael, hingga Michael berdiri dan menyeret kasur lantai Ella menjauh darinya.
Ella yang sudah malas pun tak mau bergerak dari kasur lantainya, hingga dapat membuat Michael tidur dengan tenang, tanpa gangguan.
***
Keesokan harinya, terlihat Jane yang baru datang ke rumah, lalu turun dari mobilnya.
Jane terlihat sangat lelah, karena baru pulang dari rumah sakit setelah mendapat shift untuk piket malam.
Saat turun dari mobil, Jane melihat ibunya yang sedang menyirami tanaman di halaman rumah. lalu Jane pun bergegas menghampiri ibunya.
“Astaga. Kau terlihat lelah sekali. Kau sudah bekerja keras, putriku sayang. Apa menjadi piket malam sehari bisa membuat bokongmu mengempis dalam satu malam? Hahaha.”
Ibu Jane pun memukul bokong Jane yang memang terlihat tepos.
“Ini untukmu.”
Ibu Jane memberikan susu dalam botol pada Jane.
“Biar aku yang naik.”
Jane malah mengambil susu itu, dan berniat memberinya pada Michael yang berada di lantai atas.
Betapa terkejutnya Jane saat ia sudah di lantai atas, ia melihat Ella yang sedang merokok di balkon depan kamar Michael.
Jane pun menghampiri Ella dan,
__ADS_1
“Hei! Kenapa kau disini?”