ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Sang Adik Membunuh Kakaknya!


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat Michael yang sudah memakai seragam dan kembali bekerja di RSJ.


Malam harinya, Michael tak kembali ke kastel Ella, ia pulang ke rumah Ibu Jane dan tidur bersama Jim disana.


Saat waktu istirahat tiba, Ella datang ke RSJ dan menemui Michael yang dilihatnya di lobi.


“Wahhh!!! Kau terlihat lelah. Kau seperti kurma merah kering.”


Ella menyentuh pipi Michael di lobi rumah sakit.


“Apa yang kau lakukan disini?”


Michael pun menyingkirkan tangan Ella dari pipinya.


“Aku kemari, karena kau tak kunjung pulang, aku bawakan kau ****** *****.”


“Ada banyak macamnya. Segitiga, kotak, tali, dan jala. Entah apa seleramu, kubawakan semua jenis.”


Ella memperlihatkan tas yang ia bawa pada Michael.


“Ikut aku!”


Michael keluar dari rumah sakit dan menuju sungai yang ada di belakang taman rumah sakit.


Mereka berdua berdiri berdampingan melihat air mengalir di sungai yang bagus itu.


“Setelah kupikirkan, semua yang terjadi ada baiknya. Mulai saat ini, berhentilah menjadi tahanan.”


“Tahanan?” tanya Michael.


“Berhentilah membatasi hidupmu demi kakakmu sendiri dan bertindak seperti tahanan yang berada di lapas.”

__ADS_1


“Walau kau sangat plin plan, Aku yakin kau pasti ingin hidup bersamaku. Kau juga ingin memelukku dan bermain bersamaku.”


“Tidak,” jawab Michael menggelengkan kepalanya.


“Meski mulutmu berbohong, matamu tak pernah bisa berbohong.”


“Aku sudah bangun dari mimpiku. Ini semua salahku. Seharusnya, aku hanya memperhatikan kakakku saja.”


“Seharusnya Marco lah segalanya bagiku. Kau bukan siapa-siapa. Aku menyesal menjadi tuas pengamanmu.”


“Seharusnya aku menghindarimu. Kita tak seharusnya bersama, Ella.”


“Jangan berakting? Apa kau sedang berakting? Kau bilang aku membuatmu tersenyum. Itu bukan sesuatu yang buruk,” ucap Ella.


“Kumohon. Pergilah dari hidupku.”


Michael sangatlah plin plan dengan kata-kata dan pikirannya sendiri, hingga membuat Ella semakin bingung.


“Ya. Itu semua hanya bualan saja. Itu semua hanya omong kosong.”


“Bermain untuk pertama kalinya membuatku senang hingga aku berbicara tanpa berpikir.”


“Bagiku, Kakakku sudah cukup merepotkan. Dia lebih dari cukup, jadi, kumohon padamu berhenti mengguncang hidupku dan pergilah.”


“Kau sedang berbohong, Michael. Kau pernah bilang, tiap aku mengusirmu, seolah-olah aku tak ingin kau pergi.”


“Ucapanmu tadi lebih terdengar seperti permohonan, agar aku tak meninggalkanmu, Michael.”


Ella menggenggam tangan Michael dan,


“Jangan pergi.”

__ADS_1


Michael terdiam sejenak dan sangat bingung dengan pikiran dan ucapannya sendiri yang sangat plin plan.


“Tidak.”


Michael melepas tangan Ella.


“Bagiku, kau hanya perayaan singkat, seperti kembang api. Sekarang kau bisa menghilang tanpa jejak, karena aku sudah cukup bersenang-senang.”


Michael pun pergi meninggalkan Ella sendirian di sana.


Ella pun mulai menangis dan meneteskan air matanya, saat Michael pergi meninggalkannya.


Ella memegang dadanya. Sepertinya, ia sangat sakit dan bingung ketika melihat tingkah laku Michael yang tak bisa ia pahami.


“Aku bukan kembang api, aku adalah bom! Saat meledak, aku tak hanya lenyap, tapi aku akan membunuh semua orang juga! Kau ingat itu Michael.”


Michael terus berjalan dan tak menghiraukan Ella yang berteriak dan menangis.


Di rumah sakit, terlihat Rose yang sedang berdiri di depan pintu ruangan tempat Marco berada.


Rose membuka pintu sedikit, lalu melempar sebuah buku ke dalam kamar Marco.


*BUK!!!


Marco yang berada di balik selimut pun, melihat suara apa itu.


Marco beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil buku yang berada di samping ranjangnya.


“‘Pembunuhan Penyihir dari Barat’ oleh Ecca.


Marco membaca cover buku itu dan menemukan sebuah kertas bertuliskan ‘Sang Adik membunuh Kakaknya’.

__ADS_1


__ADS_2