
Ella malah menyuruh orang tua yang menjambak Marco meminta maaf.
“Hah? Meminta maaf?” tanya balik pria itu.
“Bukan kepadanya, tapi kepadaku.”
“Apa?”
“Kau telah merusak acara peluncuran buku baruku, dan mengganggu sesi tanda tangan dan perfotoan.”
“Itu bukan salahku, tapi si bodoh….
“Arghhhhhhh.”
Ella menjambak pria itu sebelum ia menyelesaikan ucapannya, seperti yang dilakukannya pada Marco.
“Astaga!”
“Apa yang dilakukan?”
“Bukan main.”
Orang-orang yang datang di acara itu terkejut, saat Ella menjambak pria itu di tempat umum.
“Siapa yang tak menjerit jika dijambak seperti ini? Lihatlah! Kau pun juga menjerit.”
Ella menjambak rambut pria itu lebih keras lagi hingga mengerang kesakitan.
Semua orang pun mulai mengeluarkan ponselnya, untuk mengambil foto dan video.
“Argh!! Lepaskan! Lepaskan tanganmu dari rambutku!”
“Lepaskan!!”
Istri dari pria itu menarik tangan suaminya, karena tak terima.
“Dengarkan aku. Ada orang gila yang mengganggu kami. Haruskah kami diam saja?”
__ADS_1
Istri pria itu membela suaminya.
“Kau psikiater? Tahu dari mana bahwa dia gila?”
“Kau lihat saja. Dia datang dan bicara meracau tentang dinosaurus.”
“Dasar wanita gila!”
Ella malah mengumpat kepada wanita itu.
“Astaga!!!”
“Apa aku tak salah dengar?”
“Bukan main.”
“Apa aku salah mendengar?”
“Kenapa dia berkata seperti itu?”
Orang-orang yang berada di sana, kaget dengan Ella yang berani mengumpat kepada seorang wali dari seorang anak di depan umum.
“Karena kau yang meracau dari tadi, kukira kau lah yang sudah gila.”
“Sayang. Apa kau dengar itu?”
“Hei kalian. Apa kalian mendengarnya? Dia baru saja menghinaku! Kalian sedang apa? Cepat rekam dia! Ternyata penulis yang terkenal memiliki mulut yang lebar.”
Orang tua itu pergi bersama anaknya meninggalkan gedung itu.
Begitupun orang-orang yang juga mulai berhamburan meninggalkan gedung itu.
Marco yang sedang terduduk dan menangis pun berdiri, lalu berlari keluar dari gedung.
Marco masuk kedalam ruangan kosong, ruangan itu lebih terlihat seperti gudang yang sudah tak digunakan.
Marco mengunci ruangan itu dari dalam, agar tak seorang pun mengganggunya, lalu sembunyi tepat di bawah meja yang terletak di gudang itu.
__ADS_1
“Aku tak apa-apa. Aku tak jahat.”
“Aku tak jahat. Bukan aku yang jahat.”
Marco berjongkok dan bergumam sendirian di ruangan itu.
Michael yang melihat Marco memasuki ruangan itu pun, bergegas menyusulnya.
Begitupun dengan Ella yang berjalan mengikuti Michael.
Michael dan Ella duduk di depan ruangan, menunggu Marco yang masih bersembunyi di dalam.
“Kau tak masuk?” tanya Ella yang bosan menunggu.
“Jika dia sudah tenang, dia akan membukanya sendiri.”
“Berapa lama?”
“Satu jam. Paling lama, satu sampai dua hari.”
Ella berdiri dari kursinya, dan akan pergi dari sana.
Sebelum Ella melangkah, Michael menahan tangan Ella.
Ella menoleh dan,
“Kau mau aku menginap disini dan menunggu kakakmu?”
Michael yang masih duduk pun melepas tangan Ella.
“Siapa yang mengajakmu? Tak perlu khawatir dengan itu. Selesaikanlah urusanmu sendiri,” Michael memperingatkan.
“Khawatir? Aku? Hahaha. Siapa yang harus ku khawatirkan?”
“Bagian belakang kepala kakakmu pasti sangat sensitif. Seperti daerah sensitif yang merangsang sesuatu.”
“Ahhh. Mungkinkah itu seperti Saklar Bom? Saat bom dipantik, maka akan meledak dengan kencang.”
__ADS_1
“Ahh, benar juga. Bagaimana dia saat potong rambut? Apakah akan seperti ini? ‘Jangan! Jangan sentuh rambutku. Rambutku!’”