ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Cambuk, Borgol atau Lainnya?


__ADS_3

“Hangatkan tubuhmu disini,” ucap Michael yang kemudian turun dari motor.


“Baiklah, kita bisa bersama disini,” lanjut Ella.


“Tidak. Kau saja,”


Michael pun bergegas masuk ke dalam motel dan memesan kamar untuk Ella.


Saat mereka berdua memasuki motel kecil itu, mereka telah disambut resepsionis dari loket.


“Selamat datang. Astaga. Kalian benar-benar basah kuyup.”


Resepsionis motel pun menggelengkan kepalanya saat melihat Ella dan Michael yang telah basah kuyup.


“Baiklah. Untuk semalam atau hanya beberapa jam?” tanya resepsionis.


“Itu…” Michael bingung akan menjawab apa.


“Mau kamar apa? Kamar cermin? Bertema? Kostum tambahan?”


“Tidak. Itu…” jawab Michael yang masih kebingungan.


“Kemarilah. Mendekat!”


Resepsionis menyuruh Michael untuk mendekat ke loket tempat resepsionis berada.


Dengan polosnya, Michael menuruti dan mendekat pada loket tempat resepsionis berada.


“Disini juga menyediakan pelengkap.”


Resepsionis berbisik dan mengedipkan matanya.


“Apa?” tanya Michael.


“Kursi cinta? Kasur getar? Mungkin alat cambuk atau borgol? Atau dildo?”

__ADS_1


“Jika kau bayar dengan uang tunai, kau bisa mendapatkan diskon sepuluh persen.”


Michael pun menjauh dari loket dan malah mengajak Ella pergi dari sana.


“Ayo pergi dari sini!”


“Tidak. Aku sangat suka tempat ini,” ucap Ella yang tersenyum pada resepsionis.


“Ayo. Biar aku yang mengantarmu pulang.”


“Aku bisa mati kedinginan jika harus pulang sekarang, Michael.”


“Di setiap kamar menyediakan penghangat, kau bisa menggunakannya jika mau,” tambah resepsionis.


“Apa rumahmu jauh?” tanya Michael.


“Bukan itu masalahnya. Kenapa kau membawa motor di saat hujan deras?”


“Kalau begitu, aku pesankan taxi untukmu.”


Ella mengulurkan tangannya dan meminta ongkos taxi pada Michael.


“Jangan bilang kau…..”


“Ya, benar. Aku meninggalkan dompet, mobil dan ponselku,” jawab Ella.


Michael pun menghela nafas panjang dan,


“Apa kau gila? Jika aku tak menjemputmu, kau…”


“Aku akan kehujanan semalaman seperti wanita gila,” Ella memotong ucapan Michael.


“Berpikirlah sebelum bertindak! Jangan gegabah dan seenaknya! Kau bukan anak kecil.”


“Bagaimana kalau kau dijahati saat gelap dan sepi? Kenapa berkeliaran sendirian. Kau sangat nekat.”

__ADS_1


“Jika terjadi sesuatu…”


Michael terus memarahi Ella di depan resepsionis motel, yang hanya heran melihat mereka berdua.


“Kenapa kau marah? Siapa peduli aku berkeliaran saat malam atau bahkan bertelanjang bulat di tengah hujan? Kenapa kau heboh? Apa kau cemas? Apa kau marah? Apa hatimu terluka?”


Ella malah membalikkan perkataan Michael, sesuai yang dikatakan pada Ella di belakang rumah sakit.


“Apa kau menyukaiku? Kau benar. Aku bertanya karena tak mengerti. Kau pasti tahu.”


“Aku hanya tong kosong yang tak memahami bagaimana perasaanmu hingga ajalku.”


Ella terus membalikkan perkataan Michael, yang membuat Michael terdiam tak bisa menjawab apapun.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Katakan! Kenapa kau diam saja? Apa kau tong kosong, sama sepertiku?”


“Aku…..”


“Aku…”


“Katakanlah! Aku mencintaimu,” resepsionis pun ikut bergumam sendirian saat melihat mereka berdebat.


“Aku.. pesan satu kamar.”


Michael mengalihkan pembicaraan, lalu kembali ke lobi untuk memesan kamar.


“Berikan saja, kamar yang hangat dan bersih.”


“Baiklah. Biayanya seratus dolar.”


Resepsionis memberi tagihan


Saat Michael akan membayar, ia lupa jika tak membawa dompet. Michael terus berpura-pura mencari dompet di kantong saku celana dan jaket yang sedang dipakai Ella.


“Apa. Kau tak bawa uang? Ponsel juga?” tanya Ella.

__ADS_1


__ADS_2