ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Rose Melemparkan Buku Ecca Itu!


__ADS_3

Entah apa motif Rose melemparkan buku ciptaan Ecca, Ibu kandung Ella ke kamar Marco.


Setelah Marco menyimpan buku itu di balik kasurnya, Rose masuk ke dalam kamar Marco dengan membawa boneka dinosaurus.


“Ibu…”


“Itu Ibu.”


“Ibu Dooly! Brachiosaurus!”


Marco terus menunjuk boneka dinosaurus itu.


“Halo!!!!!”


Rose keluar dari balik boneka dan menyapa Marco.


“Halo!” sapa balik Marco.


“Brachiosaurus! Besar sekali.”


Marco sangat senang saat Rose membawakan boneka dinosaurus itu padanya.


Rose juga memberikan buku ensiklopedia dinosaurus pada Marco.


“Dooly adalah ceratosaurus. Lihat ini. Ia termasuk dinosaurus karnivora. Lalu… Ibu Dooly. Lihat ini. Ibu Dooly adalah brachiosaurus. ia termasuk dinosaurus herbivora.”


Marco mulai membuka buku itu dan menjelaskan semuanya pada Rose yang berada di sampingnya.


“Ciri khasnya adalah memiliki lubang hidung yang terletak di atas kepala.”


“Tunggu sebentar. Mereka ibu dan anak. Kenapa jenis mereka berbeda?” Rose berpura-pura bertanya.


“Wahh. Pertanyaan yang bagus! Ada rahasia di balik kelahiran Dooly.”


“Benarkah?”


“Ya. Benar.”


“Ibu Dooly sebenarnya adalah ibu tiri. Ibu palsu. Bukan ibu kandung.”


“Saat Dooly masih di dalam telur, ibu kandungnya kehilangan telur itu. Brachiosaurus ini menemukan telur, mengeraminya, dan membesarkan Dooly sendirian.”


“Ini semua tebakan yang dipercayai para penggemar Dooly sepertiku.”


“Ohhh. Ia ibu yang baik, meski hanya ibu palsu,” ucap Rose.


“Ya. Palsu itu buruk, tapi semua ibu itu baik.”


“Apa ibumu juga orang baik, Marco?”


Rose tiba-tiba menanyakan ibu pada Marco.


“Dia baik bagiku, tapi buruk bagi Michael.”


“Dooly…”


***


Singkat cerita, Ibu Jane telah berhasil membujuk Marco untuk kembali ke rumahnya.


Marco dan Ibu Jane pun pulang bersama menggunakan bus.

__ADS_1


Malam harinya, terlihat Michael yang baru pulang dari rumah sakit.


Ia pulang ke rumah Ibu Jane. Saat ia masuk ke dalam kamar, Marco langsung bersembunyi di dalam tendanya agar tak bertemu dengan Michael.


Michael pun duduk di depan tenda Marco dan menangis.


“Maafkan aku, Kak. Keluarlah. Mau sampai kapan kau akan seperti ini?”


“Aku… Aku lah yang bersalah, Kak. Aku sering membayangkan memiliki kakak yang normal.”


“Semuanya adalah kesalahanku. Maafkan aku. Maafkan aku, Kak. Maafkan aku.”


Michael terus meminta maaf  dan menangis di depan tenda Marco.


Karena tak tega mendengar Michael yang menangis, Marco pun keluar dari tendanya.


Marco duduk berjongkok, lalu memeluk Michael yang sedang menangis.


“Jangan tinggalkan aku, Kak. Ini semua salahku.”


Michael terus menangis saat Marco memeluknya.


“Maafkan aku, Kak. Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku.


“Sudah. Jangan Menangis.”


Marco terus memeluk Michael dan menepuk-nepuk pundaknya.


Setelah Michael berhenti dari tangisannya, mereka berdua tidur bersama seperti biasanya.


***


Keesokan harinya di rumah sakit OLDER, terlihat Mihcael yang sudah berada di rumah sakit.


Saat membereskan itu semua, Rose datang menghampiri Michael.


“Apa kau menyukainya? Aku memberikan Ibu Dooly kepada Marco sebagai hadiah.”


“Ohh. Begitu rupanya. Terimakasih banyak telah memperhatikan Marco, Bu Rose.”


“Apa kau tahu? Ibu Dooly bukanlah ibu kandung.”


“Hahaha. Kakaku tak memberitahu itu kepada semua orang,” jawab Michael.


“Hmmm. Baiklah kalau begitu. Lanjutkan urusanmu.”


Rose pun pergi meninggalkan Michael.


***


Malam harinya, terlihat Ella yang sedang duduk sendirian di depan rumah Ibu Jane.


Ella sepertinya sedang stress dan bingung. Sudah beberapa hari ia tak bisa menghubungi Michael.


Beberapa saat kemudian, Ibu Jane pun datang dan melihat Ella yang sedang menyendiri duduk di rumahnya.


“Kenapa kau kemari?” tanya Ibu Jane.


“Bukankah kau pernah mengundangku untuk datang kemari dan makan bersama?”


“Waahh. Benar. Kau mau makan apa? Masuklah dahulu ke dalam.”

__ADS_1


Ibu Jane mempersilahkan Ella untuk masuk ke dalam rumahnya.


Ibu Jane menghidangkan banyak macam makanan di meja hanya untuk Ella seorang.


Ibu Jane juga menuangkan air soda untuk Ella di gelasnya.


“Selamat ulang tahun. Kau bukan ibu yang bersalin, tapi mau makan sup rumput laut. Kau pasti sedang berulang tahun. Ini hadiah ulang tahun dariku. Makanlah.”


Sungguh sangat baik Ibu Jane, walau mengetahui Ella adalah orang yang sangat dibenci anaknya, ia tetap mau menerima Ella untuk memberi makan padanya.


Ella pun mulai mencicipi sup rumput laut buatan Ibu Jane.


“Apa kau suka?”


“Ya. Lumayan. Masakanmu sangatlah enak, dan belum berubah sejak aku kecil.”


“Baguslah, kalau begitu.”


Ibu Jane pun kembali ke dapur dan membereskan alat memasaknya,


Begitupun dengan Ella yang mulai mencoba semua makanan yang telah dihidangkan oleh Ibu Jane.


Saat Ella sedang menikmati makanannya, terlihat Tom dan Feli yang baru kembali ke rumah Ibu Jane.


“Astaga. mengagetkan saja.”


Tom terkejut saat melihat Ella ada di rumah Ibu Jane.


“Hei. Kau mengabaikan pesan dan teleponku. Bisa-bisanya kau makan di sini? Aku mau mentraktir steik…”


“Ini sup daging sapi. Kau tak perlu repot-repot,” potong Ella.


Setelah menghabiskan makananya, Ella kembali duduk menyendiri di depan rumah Ibu Jane.


Saat ia mengeluarkan rokok dan akan menyulutnya dengan api, tiba-tiba Tom datang mengambil rokoknya dan duduk di sampingnya.


“Sial. Itu rokok terakhirku.”


“Aku akan berikan sesuatu yang lebih berharga dari pada itu, Ella.”


Tom mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


“Aku sudah mennyiapkan hadiah untuk ulang tahunmu, Ella. Taraa…”


Tom membuka kotak kalung kecil, lalu memberikannya pada Ella.


“Konon kalung ini mampu menyatukan dua hati, jadi, aku memilihnya. Menyatukan hati kita. Sangat sempurna, bukan? Kau menulisi buku, dan aku menjualnya.”


Tom masih terus membicarakan bisnis disaat Ella sedang sedih.


Ella pun mengambil kalung itu, lalu memakainya.


“Astaga. Sangat cocok untukmu. Kau terlihat lebih keren.”


“Hhh. Kau pasti memberikannya padaku agar aku cepat menulis karya baru. Baiklah, aku akan melakukannya.”


Ella pun juga sudah tau jika Tom hanya ingin Ella segera kembali menulis dongeng.


“Bukan begitu, Ella.”


Ella pun berdiri, lalu berjalan ke kamar Marco dan meninggalkan Tom sendirian.

__ADS_1


“Ella. Kau mau kemana? Astaga. Sial.”


*DOK DOK DOK!!!


__ADS_2