
“Kenapa kalian bisa datang bersama?” tanya Ibu Jane.
“Ya. Aku harus menggambar mural, Michael sedang mendapat sif pagi, dan Penuli Ella akan mengajar sastra,” jawab Marco.
“Begitukah? Jika kalian sempat, mampirlah ke rumahku. Aku akan memasakkan yang banyak untuk kalian.”
“Putrimu terlihat tak suka.”
Ella melihat dari tatapan Jane yang memang tak enak.
“Astaga. Dia mirip denganku, tak bisa menutupi perasaannya.”
“Datanglah kapanpun kalian sempat. Mari makan bersama. Daripada kalian saling menjambak seperti waktu itu, lebih baik jika kalian bisa berdamai,” lanjut Ibu Jane.
“Kami masuk dahulu.”
Jane menggandeng tangan ibunya, dan masuk ke dalam rumah sakit terlebih dahulu.
“Kau menyukai ibu pemilik rumah?” tanya Ella.
“Jangan beromong kosong.”
Michael pun bergegas masuk ke rumah sakit.
“Lantas, kenapa kau melepas rangkulanku tadi?”
Ella kembali menggandeng tangan Michael.
“Kenapa aku harus merangkulmu?”
“Kita adalah satu pasang. Granat harus memiliki tuas pengaman.”
Marco yang masih berdiam diri di belakang pun iri melihat mereka bergandengan tangan.
Marco bergegas menyusul mereka, dan masuk di tengah-tengah menggandeng mereka.
__ADS_1
“Lepas. Lepaskan! Aku juga mau merangkul! Lihat ke depan. Kalian bisa jatuh.”
Michael pun hanya tertawa melihat kakaknya yang iri melihat mereka bergandengan tangan.
Di dalam rumah sakit, terlihat Ella yang menemui direktur di ruangannya untuk mengobrol.
“Kukira kau akan marah dan tak mau mengajar. Aku cemas sekali kemarin.”
Direktur memulai pembicaraan.
“Kudengar para pasien merindukan kelasku.”
“Siapa yang memberitahumu? Apa perawat Michael? Tampaknya dia malu sudah mengancamku.”
“Mengancam?” tanya Ella.
“Dia memintaku untuk mengadakan kelas sastra lagi. Jika tidak, dia tidak mau menurutiku. Dia mengancamku dengan mata berapi–api.
“Hhhh. Kenapa dia melakukan itu?”
Setelah mengobrol bersama direktur, Ella pun kembali ke kelas sastranya untuk mengajar para pasien.
Di lobi rumah sakit, terlihat Marco yang hampir menyelesaikan lukisan di dindingnya.
Rose yang melihat Marco sedang melukis pun menghampirinya.”
“Wahhh. Kau sangat hebat. Lukisanmu sangat bagus.”
Rose mengacungkan jempol pada Marco.
“Halo, Kepala Perawat Rose,” sapa Marco dan menundukkan kepalanya.
“Lukisanmu membuat suasana rumah sakit menjadi lebih hidup. Sejak kapan kau pandai menggambar, Marco?”
“Sejak lahir. Menggambar adalah bakatku. Aku tak mempelajarinya sama sekali.”
__ADS_1
“Bakat dari lahir?”
“Ya. Benar.”
“Hmmm. Aku iri dengan orang yang pandai menggambar.”
“Ya.”
“Bolehkan aku menggambar bunga di sini?”
Saat Rose akan mengambil kuas, Marco tak memperbolehkannya menyentuh alat kuas dan gambarnya.
“Jangan sentuh! Jangan sentuh kuas. Jangan sentuh lukisanku.”
“Baiklah. AKu tak akan menyentuhnya. Jangan sentuh. Baiklah. Aku tak akan menyentuhnya.”
Rose pun mengalah dan tak mau menyentuh barang-barang milik Marco, lalu pergi meninggalkannya.
Saat waktu istirahat tiba, terlihat Ella yang sedang bersantai di taman rumah sakit, dan menikmati sebatang rokoknya.
Ella melihat seorang pria yang sedang beradu mulut dengan salah satu pasien wanita di rumah sakit.
Pria itu sepertinya pacar dari seorang wanita yang berada di sana.
Ia memohon agar wanita itu mau kembali lagi padanya, dan tidak meninggalkannya sendirian.
Saat pria itu akan memukul si pasien wanita,
*TUKKK!!!
Ella melempar botol minuman dan tepat mengenai jidat pria itu.
“Maafkan aku. Kukira kau memang tong sampah.”
“Penulis Ella!”
__ADS_1
Wanita itu langsung bersembunyi di belakang Ella yang menghampiri pria itu.