ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Mana Jal4ng Komplotanmu Itu?


__ADS_3

Tanpa memperdulikan omongan itu, Robert terus berjalan dan memasuki ruang direktur.


*TOK TOK TOK


*KLEEK!!


Michael pun mengetuk pintu, lalu memasuki ruang direktur.


Michael pun menundukkan kepalanya pada Direktur Rumah Sakit dan Robert yang sedang menunggunya.


“Kenapa kau sendiri? Mana ****** komplotan mu?” tanya Robert.


“Dia tak datang. Hanya aku yang perlu kemari. Dia tak perlu datang,” jawab Michael.


“Dia pelakunya! Kenapa dia tak datang?”


“Putramu kabur atas kemauannya sendiri, Tuan. Tak ada yang memaksanya untuk kabur.”


“Hei!!! Apa kau bodoh? Anak itu sudah tidak waras. Dia pasien gangguan jiwa yang suka melepas pakaiannya sendiri.”


“Aku sengaja mengurungnya di sini agar ia tak berkeliaran membuat masalah!”


“Astaga. Tak kusangka dia lepas sampai tempat kampanyeku. Kalian pasti sengaja melakukan itu untuk menjatuhkanku dan supaya aku dihujat publik, bukan?”


Robert terus mengomel dan marah-marah karena kejadian tempo hari.


“Meskipun kau dihujat publik, keadaan putramu jauh membaik berkat insiden itu. Dia bahkan bisa segera pulang dan kembali kepada keluarganya.”


“Apa kau tak senang, jika melihat anakmu sudah mulai sembuh?”

__ADS_1


Direktur pun ikut menjelaskan yang malah membuat Robert semakin marah.


“Apa kau juga bodoh? atau bahkan gila, seperti pasienmu lainnya? Siapa yang akan mengurusnya jika dia keluar dari sini?”


“Yang jelas, kau sendiri yang akan mengurusnya, Tuan, sebagai seorang, Ayah. Kau tidak boleh kejam dengan anakmu sendiri, Tuan” ucap Direktur.


“Aku tidak butuh anak yang tidak berguna untukku!” sangkal Robert.


“Tidak berguna? Kau bilang jika anakmu tak berguna?” tanya Michael yang kesal dengan ucapan Robert.


“Apa?” tanya balik Robert.


“Apakah seorang anak harus berguna bagi orang tuanya?” lanjut Michael.


Robert pun berdiri dari sofa dan,


“Hei! Seorang anak terlahir karena dibutuhkan orang tua. Tanyakan saja pada orang tuamu. Apakah mereka membutuhkan anak yang tidak berguna?”


“Sialan!!!!”


*PLASSSSS!!!


“Beraninya kau membentakku. Sial!”


Robert menampar Michael di ruangan direktur.


Michael sangat ingin meninju wajah Michael saat itu juga. Akan tetapi, jika Michael melakukan itu, ia akan menambah sebuah masalah untuk rumah sakit dan untuknya.


Akhirnya, Michael pun keluar dari ruang direktur, lalu menuju toilet rumah sakit.

__ADS_1


Michael membasuh mukanya dengan air di wastafel, sambil masih menahan amarahnya pada Robert.


Kembali ke ruang direktur, terlihat Robert dan para kru nya yang sudah pergi dari ruangan itu.


Saat para kru robert telah pergi, Rose bergegas masuk ke dalam ruang direktur.


*BRAKKK!!!


Rose membuk pintu ruang direktur dengan keras yang membuat direktur terkejut.


“Astaga. Ketuk dahulu sebelum masuk!”


“Sudah ku ketuk. Kau tak akan membiarkan Anggota Dewan Robert, bukan?” tanya Rose sewot.


“Biarkan saja dia. Kenapa aku harus merayu orang sepertinya?”


“Astaga, Direktur!!!”


“Kemarilah. Lihat ini! Aku mau menunjukkan sesuatu untukmu.”


Rose pun berjalan mendekat ke PC milik direktur.


Direktur memutar rekaman sebuah video.


Ternyata, itu video rekaman cctv yang terekam di ruangannya.


Cctv itu merekam Robert saat menampar Michael. Direktur berencana untuk memanfaatkan rekaman itu untuk mengancam Robert dan memerasnya untuk dana rumah sakit.


“Aku ingin mengancamnya, dengan menyebarkan cupikan rekaman ini ke media.”

__ADS_1


“Jika memungkinkan, aku akan meminta donasi juga untuk rumah sakit padanya.”


“Kau serius, Pak?” tanya Rose.


__ADS_2