
Michael berteriak dan mengambil paksa kertas yang dibawa Marco, lalu menyobek kertas itu.
“Tidak boleh! Jangan dirobek! Itu milik Marco! Itu milikku! Tidak boleh! Itu milikku!”
Marco merengek dan menangis histeris, saat Michael merobek kertas kontrak itu.
“Kak! Sadarlah.”
“Itu milikku! Itu milik Marco! Aku adalah milikku! Bukan milikmu!”
*BRAKKKK!!!
Marco sangat marah pada Michael, lalu menyeruduk Michael dan mendorongnya hingga keluar dari pintu, dan terjatuh di halaman kastel.
Mereka berdua pun berguling-guling di halaman kastel, dan Marco menindih tubuh Michael dan memukulinya berkali-kali.
“Astaga, Kak.”
“Tidak. Itu milikku!”
“Tidak! Tidak! Tidakkkk!”
“Aku adalah milikku!”
“Marco adalah milik Marco!”
“Aku adalah milikku! Aku bukan milikmu!”
“Aku adalah milikku!”
“Michael! Aku adalah milikku!”
“Itu milikku!”
__ADS_1
“Bukan! Itu bukan milikmu!”
Marco terus menindih tubuh Michael dan memukulinya sambil merengek dan menangis.
Begitupun Michael yang hanya menahan pukulan Marco, dan tak mungkin untuk membalasnya.
“Cukup, Kak. Hentikan!”
Ella berjalan mendekati dua saudara yang sedang bertengkar, dan mencoba menghentikannya.
“Kak! Kembalilah ke dalam rumah.”
Ella menahan tangan Marco yang akan memukul Michael.
“Aku…….”
“Aku bukan milikmu. Marco adalah milik Marco, bukan milik Michael.”
“Ayo, Kak. Masuklah ke dalam.”
Michael masih terbaring dengan nafas terengal-engal, karena tak menyangka kakaknya akan semarah itu padanya.
Ella mengulurkan tangannya dan berniat membantu Michael berdiri.
Tanpa menghiraukan bantuan Ella, Michael berdiri dengan sendirinya.
“Lihatlah. Kakakmu sudah membuangmu. Sekarang giliranmu memilih. Apa kau akan membuangnya juga, atau terus hidup bersamanya seumur hidup?”
“Jangan sampai kau bersikap plin-plan seperti waktu itu.”
Ella pun masuk ke dalam rumah menyusul Marco, dan meninggalkan Michael sendirian di halaman.
Michael pun terdiam sejenak saat mendengar ucapan Ella.
__ADS_1
Akhirnya, Michael pun berjalan pergi meninggalkan kastel Ella.
Michael sangat marah dengan apa yang telah terjadi. Akan tetapi, ia tak tahu harus marah pada siapa.
Apakah ia harus marah dan benci pada kakak yang sangat ia sayangi, atau marah dan membenci Ella yang pernah ia sukai.
Michael pun meneteskan air matanya dan mulai menangis, karena tak tahan dengan emosi yang dihadapinya.
Di dalam kastel Ella, Marco sedang melihat Michael yang berjalan pergi meninggalkan kastel.
Marco mondar-mandir di ruang tamu dan terlihat sangat khawatir dengan Michael.
Ella pun mendatanginya dan,
“Kak! Dengarkan aku! Kau tak perlu mengkhawatirkan adikmu. Kau tak perlu mencemaskannya. Aku yakin dia tak akan bisa meninggalkanmu.”
Marco hanya diam dan menunduk dan masih mondar-mandir di dalam kastel.
Beberapa saat kemudian, saat Marco telah lelah dan capek, Marco duduk dan tertidur di balik pintu.
Ella yang melihat Marco pun merasa kasihan, lalu mengambil selimut dari kamarnya dan memakaikannya pada Marco yang sudah tertidur.
***
Keesokan harinya, terlihat Michael yang sedang duduk sendiri dan melamun di balkon kamarnya.
Ibu Jane pun menghampiri Michael yang sedang duduk sendirian dan bertanya,
“Astaga. Kau tak masuk kerja? Apa kau libur hari ini?”
Michael hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Aku mau merebus kentang yang dikirimkan saudaraku….”
__ADS_1
Ucapan Ibu Jane terpotong saat melihat wajah Michael sedikit memar karena dipukul oleh Marco.
“Wajahmu kenapa? Apa kau diamuk pasien?”