
Michael pun segera memesan dua gelas americano panas di kasir untuk menghangatkan tubuh.
Saat Ella duduk sendirian menunggu Michael, tak disangka ada seorang penggemar laki-laki yang menyapanya di sana.
“Permisi, Nona. Apa kau penulis Ella? Astaga, ternyata benar. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.”
“Kau mengenalku?” tanya Ella.
“Tentu saja. Aku penggemarmu sejak lama. Tunggu sebentar.”
Pria itu mengeluarkan kartu nama miliknya dan memberikannya pada Ella.
“Ini kartu namaku.”
Ella pun menerima kartu nama itu dan,
“CEO?”
Ternyata pria itu adalah seorang CEO di perusahaan majalah iklan.
Michael yang melihat ada seorang pria yang mendekati Ella pun mulai menampakkan wajah yang tak senang.
Ia bergegas membawa americano yang telah dipesan, dan kembali ke meja bersama Ella.
“Apa dia pacarmu?” tanya pria itu.
“Bukan. Dia hanya kenalanku.”
Ella sengaja menjawab seperti itu agar dia bisa melihat reaksi Michael.
Dan benar saja, wajah Michael pun semakin merengut dan tak senang, saat Ella mengucapkannya.
“Silahkan duduk!” Ella mempersilahkan pria itu duduk di sampingnya.
“Kalau begitu, permisi.”
“Musim panas tahun lalu, kami sempat menyelenggarakan acara buku dongengmu. Kau tak ingat?”
__ADS_1
“Aku hanya melihatmu dari kejauhan waktu itu. Aku tak percaya bisa bertemu denganmu di sini.”
“Mungkin ini yang disebut dengan takdir,” sahut Ella yang membuat Michael semakin panas,
“Hahaha. Begitukah? Semoga dengan takdir itu, kita bisa terus berhubungan.”
Ella pun tersenyum pada pria itu.
“Mari makan bersama, jika kau ada waktu luang.”
“Baiklah. Kapanpun kau mau,” jawab Ella.
“Kalau begitu, tolong tuliskan nomor teleponmu di sini.”
Pria itu mengambil buku catatannya dan mengeluarkan pulpen yang sangat bagus dan modis, lalu memberikannya pada Ella.
Saat memegang pulpen pria itu, Ella sangat ingin memilikinya, karena memiliki model dan bentuk yang runcing, seperti benda-benda runcing lainnya yang sangat ia sukai.
Pria itu terlihat sangat senang, ketika mendapatkan nomor Ella.
Pria itu meminta tolong pada Michael untuk memotretnya bersama Ella.
“Ya. Tentu.”
Dengan berat hati, Michael menerima ponsel pria itu.
“Satu, dua…”
“Tanganmu di pinggang….”
Saat Michael akan memotret, ia melihat tangan pria itu mulai merangkul pinggang Ella.
“Tangan di pinggang? Baiklah.”
Ella malah membuat Michael semakin cemburu dengan menarik tangan pria itu merangkul pinggangnya.
“Sudah. Begini? Ayo potret.”
__ADS_1
Michael memotret mereka dengan beberapa jepretan dan memberikannya kembali ke pria itu.
Saat pria itu telah pergi, dan telah menghabiskan kopinya, mereka keluar dari kedai dan,
“Kau baik dengan penggemarmu,” ucap Michael.
“Tom bilang, tiap aku tersenyum, aku menjual satu buku.”
“Penulis hanya perlu menulis. Tak perlu mengobral. Kau tak seharusnya memberikan nomor teleponmu ke orang asing.”
“Aku tak tahan, Michael. Aku suka yang keren.”
“Keren katamu?”
“Kenapa?” tanya Ella.
“Cepat pulang. Aku harus kembali bekerja.”
“Apa kau cemburu?”
“Cemburu apanya? Aku terlambat karenamu.”
“Keren apanya? Pria itu menggelikan
Michael pun pergi meninggalkan Ella di depan kedai dan bergumam sendirian.
Saat Michael telah pergi, Ella mengeluarkan pulpen milik pria tadi yang telah diambilnya.
“Keren sekali pulpen ini.”
Ella terus memandangi bentuk pulpen yang runcing dan tajam itu.
***
Di rumah sakit OLDER, terlihat Ibu Jane sedang makan bersama Tom.
Entah apa yang akan direncanakan oleh Tom untuk itu.
__ADS_1