
Ibu Jane membawa singkong, dan duduk bersama mereka berdua.
“Astaga. Semua ibu adalah pendosa, Nak.”
“Walaupun kau begitu, cobalah memaklumi ibumu.”
Ibu Jane mulai mengambilkan beberapa potong singkong dan memberikannya pada Michael.
“Memangnya kau pikir mudah membesarkan anak tanpa suami? Astaga. Membesarkan seorang putri saja membuatku ingin melarikan diri.”
“Meskipun begitu. Ibumu hebat. Dia bisa membesarkan kedua putranya, tanpa seorang suami. Ditambah keadaan Marco yang tak biasa.”
Michael pun terdiam dan memikirkan perkataan Ibu Jane. Setelah dipikir-pikir, perkataan Ibu Jane ada benarnya juga.
“Kau pasti tahu karena telah merasakan hidup sebagai wali kakakmu. Bayangkan betapa kesulitannya ibumu.”
Ibu Jane pun mengambil se bir botol dan mengangkatnya ke atas.
“Oii! Mari bersulang. Inu untukmu di atas sana.”
Ibu Jane menurunkan tangannya dan meminum bir itu. Begitupun dengan Jim dan Michael yang ikut minum.
Michael pun mulai memakan potongan singkong, untuk menahannya agar tak menangis.
Setelah menghabiskan semua botol bir dan singkong, Michael pun kembali bergegas kembali ke kastel.
Jim yang tak tega melihat Michael setengah mabuk pun, memesankan taksi untuknya.
Di dalam taxi, Michael memeriksa ponselnya.
Banyak pesan masuk dari Ella yang tak sempat ia lihat. Dengan kondisi setengah mabuh, Michael membaca pesan dari Ella.
“Kau dimana?”
“Kapan pulang?”
“Cepat pulang. Aku bosan.”
“Kenapa kau mengabaikan pesanku? Kau mau mati?”
__ADS_1
Michael hanya tersenyum dan membalas,
“Tunggu.”
***
Sesampainya Michael di kastel, ia membuka pintu kastel dan melihat Ella yang tertidur dengan posisi duduk di anak tangga.
Dengan sempoyongan, Michael berjalan medekati Ella yang sedang tertidur, lalu duduk di sampingnya.
Michael pun menyenggol-nyenggol pundak Ella dengan tangannya, agar ia bangun.
Saat Ella sudah bangun, ia langsung marah-marah pada Michael.
“Kenapa kau baru pulang? Darimana saja kau?”
“Kenapa kau tidur di sini? Disini sangat dingin.”
“Kau sendiri yang menyuruhku untuk menunggu. Sial!” ucap Ella yang kesal.
“Kau minum miras? Dengan siapa? Wanita munafik itu?”
Ella mencurigai Michael, saat ia mencium bau miras.
“Kau bertemu teman dunia maya?” tanya Ella.
“Teman dunia maya? Apa maksudmu? Hahahaha.”
Michael malah tertawa saat Ella bertanya.
“Apa kau mabuk?”
“Aku sempat mabuk, tapi sopir taksi tak mau mengantarkan saat malam hari, karena rumahnya angker dan membawa sial.”
“Dia menurunkanku di tengah jalan. Lalu setelah berjalann, aku sudah tak mabuk.”
Michael pun semakin melantur dengan ucapannya.
“Kalau begitu, ayo minum denganku.”
__ADS_1
Ella berdiri dan akan mengambil bir di kulkasnya.
“Tidak perlu. Ini sudah cukup. Aku sudah tak kuat lagi.”
Michael menarik tangann Ella, agar kembali duduk.
“Aku sangat ingin minum.”
“Tak boleh. Kau tak boleh minum. Kau masih belum bisa menahan diri.”
“Jika kita berdua mabuk akan sangat berbahaya.”
Michael menasehati Ella.
“Kenapa? Kau takut aku akan menyerangmu?”
*TUK!
“Aduh!!!”
Michael menyentil dahi Ella dengan jarinya, hingga membuat Ella kesakitan.
“Jangan konyol. Kau tak mungkin menang melawanku. Hahaha.”
“Sial. Kau baru saja memukulku?” ucap Ella yang memegangi dahinya karena kesakitan.
“Ssssttt. Kau sendiri menusukku dengan pisau.”
“Astaga. Kau pandai membantah saat mabuk.”
Mereka berdua pun tertawa bersama di anak tangga.
“Aku ingin melepas tuas pengamanmu,” ucap Ella.
“Tutuplah matamu, Ella.”
“Kenapa?”
“Sudah. Lakukan saja.”
__ADS_1
“Hmmmm. Aku tak asing dengan situasi ini.”
Ella pun menutup matanya dan memonyongkan bibirnya, berharap Michael akan menciumnya disana.