ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Tergantung Hasil Gambaranmu!


__ADS_3

Direktur hanya tersenyum dan,


“Tergantung hasil dari gambaranmu, Marco.”


“AAAAAAA….”


Marco merasa semangat dan senang, lalu pergi meninggalkan direktur dan Michael.


“Kak! Kau mau kemana?”


Michael pun menyusul Marco yang berjalan pergi dari sana.


Sepertinya, Marco ingin mempersiapkan semua peralatan yang akan digunakan untuk melukis di dinding rumah sakit.


***


Malam harinya, terlihat Marco yang sedang mencari sesuatu di kamarnya.


Marco mengambil sebuah kotak kecil yang tergembok.


Marco mengeluarkan kunci dari sakunya untuk membuka gembok yang mengunci kotak itu.


*KLEK


“Mari kita lihat.” ucap Marco sendirian.


Di dalam kotak itu berisi lembaran uang yang tak seberapa banyaknya.


Kotak itu mungkin tabungan milik Marco yang ia simpan.


Saat membuka kotak itu, tiba-tiba Michael muncul dan menghampiri Marco.


“Astaga. Uangmu banyak sekali, Kak.”


Michael berbasa-basi dan duduk bersama kakaknya di lantai.


Saat Michael menghampiri Marco, Marco langsung menyembunyikan kotak itu di belakang badannya.


“Coba lihat. Aku mau lihat berapa jumlahnya.”

__ADS_1


“Tidak. Tidak. Tidak. Tidak boleh. Sebelum targetku tercapai, tak boleh kuperlihatkan kepadamu.”


Michael pun menghela nafas dan,


“Hhhh. Aku ini adikmu, Kak.”


“Bagi penderita autisme, keluarga ibarat orang asing terdekat. Orang asing terdekat.”


Marco tetap ngeyel tak mau memberitahu isi kotak itu.


“Kalau begitu, berapa target mu?” tanya Michael.


“Tiga puluh ribu dolar.”


“Untuk apa uang sebanyak itu, Kak? Apa kau yakin?”


“Untuk membeli mobil.”


“Mobil?” tanya Michael yang tak menyangka.


“Ya. Mobil.”


“Mobil.”


“Apa itu juga rahasia yang tak boleh aku ketahui?”


“Pokoknya mobil.”


Marco tak mau menjawab dan malah memalingkan wajahnya dari Michael.


“Baiklah. Aku tak akan bertanya lagi.”


Michael pun berdiri dan bergegas untuk beristirahat.


Marco pun membuka kembali kotaknya, lalu mengambil selembar kertas poster.


“Ini.”


Marco mengulurkan tangannya, memberikan kertas poster itu pada Michael, tanpa menatapnya.

__ADS_1


Michael pun mengambil kertas yang diberi Marco, lalu membukanya.


Kertas poster itu berisi sebuah promosi tentang mobil kemah Van seharga, tiga puluh ribu dollar.


“Memberimu kenangan indah dan gaya hidup romantis. Pergi kemana pun terasa seperti rumah. Mobil van, mobil kemah.”


“Harga spesial tiga puluh ribu dolar. Diskon besar-besaran. Sangatlah murah.”


Marco bahkan hafal dengan semua tulisan yang berada di poster itu.


“Kenapa kau ingin ini, Kak?”


“Eeee. Jika. Jika kita membeli itu, kita tak perlu pindah tiap tahun.”


“Saat kupu-kupu muncul, kita bisa langsung kabur menggunakan itu.”


“Kita tak perlu berkemas dan berpindah-pindah tempat tinggal. Kau juga tak perlu mendengar omelan dari pemilik rumah. Kita bisa pergi kemana pun. Mobil van. Mobil kemah.”


“Kak!”


“Ini masih kurang banyak sekali. Aku harus mencari uang.”


Michael yang sedang berdiri pun langsung duduk dan memeluk Marco dari belakang.


Michael sangat terharu dengan ucapan Marco.


“Kak. Aku tak butuh rumah, mobil, atau uang. Aku hanya membutuhkanmu. Aku bersungguh-sungguh. Kau segalanya bagiku.”


“Mencari uang itu sangat sulit. Sangat sulit. Sulit sekali bahkan. Sulit. Masih banyak lagi yang harus kudapatkan.” ucap Marco yang sedang dipeluk Michael.


***


Keesokan harinya, Michael berangkat kerja bersama Jane.


Jane sengaja memberikan tumpangan pada Michael di mobilnya, karena mempunyai shift yang sama di pagi itu.


Michael duduk di di samping Jane yang sedang menyetir.


Di mobil Jane, Michael sedang melihat ponselnya, dan mencari-cari mobil van kemah, yang memiliki harga lebih murah, dibanding postur yang diberi Marco.

__ADS_1


__ADS_2