
Jane membuka selimutnya dan beranjak duduk.
“Ella…”
“Michael hanya menyebut namanya. Dia bahkan tak melihatku, hanya menatap Ella.”
“Dia berbicara formal denganku, tapi bicara santai pada Ella. Aku sangat kesal dengan itu.”
Jane terisak-isak karena masih menangisi kejadian tadi.
“Ckckckckck. Apa itu perlu kau tangisi?”
“Ibu! Dia lebih dekat denganku daripada dengan Ella, sebelumnya. Kenapa dia memanggilku dengan formal, sementara memanggil Ella dengan panggilan akrab?”
“Dia juga meminjamkan baju nya pada wanita gila itu. Padahal, dia membeli baju itu saat sedang mendatangi obral bersamaku.”
“Kenapa dia meminjamkan baju itu pada Ella? Bagaimana bisa Ella tidur di kamar itu?”
Jane terus menangis merengek dan tak bisa menerima itu semua.
“Sudahlah. Michael pasti mempunyai alasan untuk melakukan itu. Michael bukanlah lelaki yang suka membawa wanita sembarangan.”
“Jangan khawatir. Kau masih punya kesempatan untuk mendapatkan Michael.”
Jane berhenti menangis sejenak dan,
“Bagaimana… Bagaimana Ibu bisa tahu?”
“Tahu apa? Mengenai kau menyukai Michael? Astaga, Nak. Semua orang di sini sudah tahu, kalau kau menyukainya. Cepat makan.”
Ibu Jane pun mengambil sesendok makan, lalu menyuapkannya pada Jane yang duduk di kasur.
__ADS_1
Jane pun membuka mulutnya, dan memakan makanan suapan dari ibunya.
“Percuma jika kau memendamnya. Cepat nyatakan cintamu.”
“Bagaimana jika dia menolakku?”
“Terus dekati dia.”
“Jika dia kabur?”
“Maka kejarlah sampai ke ujung dunia.”
“Ibu juga berusaha sangat keras untuk bisa menikahi mendiang ayahmu. Ayo, makan lagi.”
Ibu Jane kembali menyuapkan sesendok untuk Jane.
“Meski begitu, Ella tumbuh dengan sangat cantik, bukan?”
“Apanya yang cantik? Dia tidak cantik!!!”
Ella kembali menangis dan berbaring, menutupi dirinya menggunakan selimut.
***
Malam harinya, Michael dan Jim sedang meminum bir bersama di sebuah bar kecil yang terletak di pinggiran kota.
“Kalian tidur bersama? Kalian berpacaran? Kau menyukai wanita psikopat itu?”
“Apa kau sudah mabuk? Bicara apa kau?” Michael mengalihkan pembicaraan, saat Jim bertanya padanya.
“Lantas kenapa kau naik motor menjemputnya saat hujan? Jika kau tak menyukainya, kenapa kau bawa wanita itu ke kamarmu? Memberi makan dan tempat tidur?”
__ADS_1
“Apa kau sedang beramal atau bersedekah? Kau mempunyai agama sekarang?”
“Berikan aku birnya, Jim. Birnya tak terasa.”
Michael kembali mengalihkan pembicaraan, saat Jim mulai menyudutkannya.
Jim menjauhkan beberapa botol bir yang ada di meja, agar Michael tak mengambilnya.
“Michael. Jangan melakukan yang tak biasa kau lakukan. Kau bisa mati mudi kalau terus seperti ini.”
“MATI MUDA, BUKAN MATI MUDI.”
Michael membenarkan perkataan Jim, yang bisa-bisanya salah, saat menasehati Michael.
“Apa pun itu, terserah kau saja. Kau harus berhati-hati, Michael. Apa kau sudah lupa? Di hari pertama kalian bertemu, wanita itu menusuk tangan mu dengan pisau!”
Jim kembali mengingatkan Michael, saat ia tertusuk oleh Ella.
“Kau benar, Jim.”
Michael mengambil botol yang disingkirkan Jim, lalu menuangkannya ke gelas.
“Astaga. Apa kau sedang mengenang masa itu dan menjadi sentimental?”
“Bukan begitu, Jim.”
“Hei. Kuberitahu kau. Psikopat tak memandang umur dan jenis kelamin. Dalam sekejap dia bisa berubah menjadi monster menyeramkan.”
Jim meraih tangan Michael dan menunjukkan bekas luka yang dibuat oleh Ella padanya.
“Lihat ini. Kau harus selalu mengingatnya. Selanjutnya buka hanya telapak tanganmu, tapi nyawamu sendiri yang akan melayang.”
__ADS_1