
“Astaga. Lebih baik kalian bermalam di hutan saja,” ucap resepsionis yang kemudian menutup loket.
Michael hanya diam dan tak tahu harus berkata apa pada Ella.
“Huft. Sepertinya kau pergi terburu-buru. Hingga tak bisa bisa berpikir sebelum bertindak.”
*POK POK POK!!
“Tak apa, Michael
Ella menepuk pundah Michael yang masih tak berkata sama sekali.
“Wajar bagi pria bergerak sesuai insting. Nyalakan motormu!”
*POK!
Ella kembali menepuk pundak Michael dan bergegas keluar dari motel.
Begitupun Michael yang menyusul Ella yang telah keluar dari motel lebih dulu.
Michael membawa Ella ke tempat tinggalnya, di rumah Jane.
Sesampainya mereka disana, Ella masih memeluk perut Micahel dari belakang.
“Lepas! Kita sudah sampai.”
Michael pun dapat melepas tangan Ella yang memeluk perutnya, lalu turun dari motor.
“Turunlah! Kau lihat apa?”
Sejenak Ella terdiam dan melihat rumah Jane, yang juga Michael juga menyewa salah satu kamar disana.
Michael pun masuk ke dalam dengan Ella yang menyusulnya dari belakang.
Michael mengendap-endap masuk ke rumah, agar tak diketahui oleh orang lain.
__ADS_1
Michael melewati tangga yang berada di luar rumah dan langsung menuju lantai 2, dimana kamarnya berada.
Sesampainya mereka di kamar Michael, Ella sangat terkejut, ternyata ada orang yang bisa tinggal, dimana kamar mandi, kamar tidur, dan dapur berada di satu ruangan.
“Menarik sekali. Bagaimana bisa tempat makan, tempat tidur, dan toilet berada dalam satu tempat? Ckckckckck. Ini lebih terlihat seperti kandang hewan.”
“Bukankah tinggal disini terasa seperti hewan ternak?” lanjut Ella.
“Cepat mandi, lalu ganti bajumu.”
Michael memberikan handuk dan setelan kaos dan celana miliknya pada Ella.
“Dimana Kakakmu?”
“Dia di bawah.”
“Baiklah. Jangan panggil dia kemari,” ucap Ella.
“Tentu. Aku tak mau dia bertemu denganmu.”
“Jangan pernah dekati kakakku.”
“Apa kau mengancamku.”
“Terserah. Apapun katamu, jangan pernah ganggu dia!”
“Hahaha. Apakah dia setuju denganmu? Baiklah. Bagaimana jika kita langsung tanya padanya?”
Sebelum Ella pergi ke lantai satu dan melapor pada Marco, Michael telah mencegah Ella dengan memegang pundaknya.
“Kenapa? Ada apa? Kenapa tatapanmu?” tanya Ella.
“Seperti apa ekspresiku sekarang?” tanya balik Michael.
“Kau tampan.”
__ADS_1
“Bukan itu, tapi ekspresiku saat ini.”
“Ekspresimu menyebalkan. Sangat menyebalkan.”
“Apa yang kau tahu dari perasaaan, emosi dan kondisiku ini?”
Michael terus bertanya dan memojokkan Ella.
“Ah, sudahlah. Aku tidak peduli.”
Ella melepas tangan Michael dari pundaknya dan kekeh untuk pergi menemui Marco.
“Aduhh!!!”
Michael kembali menahan Ella dengan, memegang pundaknya lebih erat lagi, hingga Ella kesakitan.
Michael menghadapkan Ella pada sebuah poster ekspresi wajah manusia, yang tertempel di dinding kamar.
“Perhatikan ekspresi mereka, dan pelajari emosinya. Kau harus mempelajarinya.”
“Jika tak ingin merasakan emosi, gunakan ingatanmu. Kau harus tahu kecuali kau mau sendirian selamanya.”
“Aku tak mau. Kenapa aku harus melakukan hal bodoh ini?”
“Kau harus mau!”
“Lepaskan! Aku tidak autis. Aku hanya….”
“Kau bukan autis, dan juga bukan anak zombie. Tanpa emosi, dan hanya punya nafsu makan,” sambung Michael.
“Menurutmu apa keinginan anak itu? Memenuhi rasa lapar, kah? Atau kehangatan seorang ibu? Menurutmu apa jawabanmu?”
“Makanan? Apa dia hanya ingin memenuhi nafsu makan?”
Michael terus bertanya pada Ella tentang kesimpulan dari buku dongeng yang dibuat Ella sendiri.
__ADS_1