
“Adakah kemungkinan dia masih hidup, Pak?” tanya Michael.
“Jika masih hidup, dia tak akan membiarkan para penggemar bukunya merasa penasaran dan menunggu selama hampir 20 tahun, untuk cerita jilid terakhir.”
Michael pun kembali teringat dengan perkataan Ella, yang selalu bermimpi buruk bertemu sosok ibunya.
“Aku yakin pasti Ella merindukan ibunya.”
“Bagaimana jika bukan kerinduan, tapi rasa takut yang mendatanginya setiap hari?” tanya Michael.
Direktur pun kaget dan sepertinya telah menyimpulkan perkataan dari Michael, tentang Ella yang malah ketakutan saat bertemu sosok ibunya dalam mimpi.
Setelah mereka selesai berbincang, Michael keluar dari ruangan direktur dan menuju ruang, tempat kelas sastra Ella.
Michael melihat poster tulisan diatas kertas yang di tempel di ruangan itu, berisi berita tentang ditiadakannya kelas sastra untuk sementara.
*BUK!
“Astaga. Kau mengagetkanku, Bu Rose.”
Rose dari belakang memukul pundak Michael yang sedang melihat poster itu.
“Kau sedih karena kelasnya ditiadakan?” tanya Rose.
“Tidak. Bukan begitu.”
“Sepertinya para pasien sedih. Katanya, kelas sastra sangat menyenangkan,” ucap Rose.
“Memang menyenangkan. Cobalah baca buku Penulis Ella saat kau mempunya waktu luang.”
“Tidak. Aku tidak suka buku seperti itu. Aku suka kisah cinta seperti tragedi atau novel horor.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu, Bu Rose. Aku akan mengantar air ke ruang isolasi.”
“Baiklah. Silahkan.”
***
Saat siang hari tiba, Ella datang ke rumah sakit OLDER menggunakan mobilnya.
Entah apa yang membuatnya pergi ke rumah sakit.
Saat Ella berjalan melewati ruangan kelas, ia melihat tulisan, bahwa kelas sastra ditiadakan untuk sementara.
Seketika Ella marah, saat kelas sastranya ditiadakan tanpa sepengetahuannya.
Saat Ella berada di ruang direktur, ia tak melihat direktur yang biasanya duduk di ruangannya.
“Tua bangka itu, beraninya dia meniadakan kelas tanpa memberitahuku lebih dulu. Sial! Akan kubunuh jika aku menemukanmu.”
Ella pun keluar dari rumah sakit dan mencari direktur di taman.
“Disana kau rupanya.”
“HEI!!!!”
Direktur yang mendengar teriakan Ella pun bergegas lari dari sana, meninggalkan kopinya di taman.
“Sial. Apa dia makan obat? Kenapa cepat sekali dia menghilang?”
Saat Ella terus berjalan mengejar direktur,
“ELLA!!!”
__ADS_1
Dari belakang, Michael menyusul Ella dan mencegahnya agak tak mengikuti kemana direktur pergi.
Michael pun berlari dan menahan Ella.
“Ikut aku!”
Michael memegang tangan Ella dan membawanya kembali ke dalam rumah sakit.
“Kau mau kemana? Lepaskan! Aku akan membunuh tua bangka itu.”
“Hentikan.”
Marco terus menarik tangan Ella hingga lobi rumah sakit.
Mereka berdua berdiri di depan tembok yang telah dilukis Marco.
“Tenangkan dirimu.”
Setelah Ella cukup tenang, Michael pun mengajaknya berbicara.
“Apa kau tak merasa panas? Lehermu pasti berkeringat.”
Michael bertanya saat melihat pakaian Ella yang berbahan tebal dan terlihat sangat nyentrik.
“Jika ingin modis, kau harus keras kepala dan merasa tak nyaman.”
“Omong-omong, kakakku menyukai salah satu dongengmu.”
“Aku tahu itu. ‘Anjing Musim Semi’.”
“Dahulu kala, hiduplah seekor anjing yang pandai menyembunyikan perasaannya. Anjing itu diikat di bawah pohon rindang.”
__ADS_1
“Ia disebut ‘Anjing Musim Semi’ oleh penduduk desa, karena suka mengibaskan ekornya dan bertingkah lucu.”
“Pada siang hari, anjing itu senang bermain dengan anak-anak desa. Namun tiap malam, ia merengek dan menangis saat sendirian.”