ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Hei Kenapa Tak Melepas Tali Itu?


__ADS_3

“Sebenarnya anjing itu ingin melepaskan tali lehernya dan berlarian dengan bebas di ladang musim semi. Karena tak bisa melakukannya, ia menangis tiap malam.”


“Suatu hari, hati kecil anjing itu berbisik dan bertanya, ‘Hei, kenapa kau tak melepaskan tali lehermu dan melarikan diri?’ lalu anjing itu menjawab……”


“Karena sudah lama terikat, aku lupa cara melepaskannya.” Michael memotong Ella yang akan melanjutkan ceritanya.”


Ella pun kaget jika Michael juga mengetahui isi dongeng itu.


Michael mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Ella.


“Kau hebat, Ella.”


“Apa maksudmu?”


“Kau bisa membantu anjing kecil itu bebas.” jawab Michael.


Michael pun menatap dan tersenyum pada Ella, begitupun dengan Ella yang membalasnya dengan senyuman.


Saat jam kerja telah usai, Ella mengajak Michael untuk pulang bersama.


Akan tetapi, Michael mempunyai urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.


Dengan berat hati, Ella pun pulang ke kastel sendirian.


Saat Ella berjalan di taman, ia melihat ayahnya yang sedang duduk sendirian dengan kursi rodanya, tepat di ujung pintu keluar.


Ella terus berjalan menuju pintu keluar, dan berpura-pura tak melihat ayahnya yang sedang duduk di sana.


“Kau akan berakhir seperti ibumu. Kau tak akan bisa lepas darinya.”


Ella pun menghentikan langkahnya dan,

__ADS_1


“Tidak. Aku berbeda darinya.”


Ella kembali meneruskan langkahnya dan meninggalkan ayahnya sendirian.


***


Malam harinya, terlihat Michael yang baru pulang dari rumah sakit.


Michael tak langsung kembali ke kastel, ia mampir ke rumah Ibu Jane untuk menemui Jim dan mengobrol.


Michael juga membawa beberapa botol bir dan snack untuk dimakan bersama.


*DOK DOK DOK!!!


Michael mengetuk pintu kamar yang pernah ditempatinya, yang saat ini ditempati oleh Jim.


*BRAKKKK!


Jim membuka pintu kamarnya dengan keras.


Sepertinya Jim sangat kecewa dengan Michael, karena tak menuruti omongannya.


*DOK DOK DOK!!!


“Keluarlah, Jim.  Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Kubawakan kau bir dan banyak snack.”


Setelah sekian lama menunggu di luar kamar, akhirnya Jim pun keluar dan mau menemui Michael.


Mereka berdua duduk di atap balkon untuk mengobrol dan minum bir bersama.


Setelah menjelaskan semuanya, Jim pun memaklumi, kenapa Michael bisa pindah ke kastel terkutuk itu.

__ADS_1


“Astaga!”


Michael pun merebahkan badannya di dipan tempat mereka berdua duduk sambil melihat bintang-bintang di langit.


“Kenapa kau sedih begitu? Kau membuatku tidak bisa marah padamu” ucap Jim.


“Berbaringlah Jim. Berbaringlah juga.”


Jim pun menuruti perkataan Michael, lalu ikut berbaring di samping Michael.


“Jim.”


“Ya?”


“Apakah ibuku di atas sana merasa bersalah denganku? Apakah dia menyesal pernah memperlakukanku dengan buruk?”


“Apa kau berharap begitu, Michael?” tanya Jim.


“Ya,” jawab Michael singkat.


Michael pun menangis seketika, setelah menjawab pertanyaan Jim. Ia tak kuat jika harus mengingat ibunya kembali.


“Bu! Kenapa kau memperlakukan Michael seperti itu! Apa putramu hanya Marco saja? Aku tahu Marco mempunyai kelainan, tapi kenapa kau membeda-bedakan anakmu sendiri?”


Jim berdiri dan berteriak menghadap langit, karena merasa sangat kasihan pada sahabatnya sendiri.


“Dasar gila!”


Michael pun tersenyum saat masih menangis, ketika melihat tingkah laku Jim.


“Bu! Tunggu di sana selama 60 tahun. Jika bertemu denganmu, aku akan….”

__ADS_1


“Kau akan apa? Apa yang akan kau lakukan?”


Ibu Jane pun datang, karena mendengar suara Jim yang berteriak.


__ADS_2