
Beberapa menit berlalu, Di Direktur hanya melihat tingkah laku dan apa yang dipakai oleh Marco, tanpa sepatah kata pun.
Hingga akhirnya, Marco yang tak tahu harus berbuat apa pun beranjak berdiri dan akan meninggalkan ruangan itu.
Sebelum keluar, direktur akhirnya membuka mulutnya.
“Stegosaurus?”
Marco mengurungkan niatnya untuk keluar dan memutar badannya.
“Badannya sangat besar, tapi otaknya sangat kecil. Itu sebabnya disebut dinosaurus bodoh. Ia juga sangat lucu. Siapa namanya?”
Direktur memancing Marco dengan dinosaurus, dan bertanya tentang gantungan boneka Stegosaurus yang terdapat di tas yang dibawa Marco.
“Gill. Namanya Gill. Akulah yang memberikan nama itu padanya.”
Marco menjawab dan berjalan mendekat pada direktur
Si Direktur hanya mengangguk dan tersenyum pada Marco.
Kemudian, Si Direktur mengajak Marco untuk melihat koleksi buku dongeng miliknya di ruangan itu.
“Aku punya sesuatu untukmu, Marco. Kemarilah.”
“Wahhh. Ini buku kesukaanku. Ini juga. Aku suka semua buku ini.”
Marco mulai melihat-lihat buku yang ditunjukkan oleh direktur.
“Perawat Michael!”
Direktur memanggil Michael yang sedang menunggu Marco di luar.
Michael pun bergegas masuk dan bergabung bersama Marco dan direktur.
__ADS_1
“Ini jeli kesukaanku. Aku sangat suka rasa apel yang berwarna hijau.”
Michael melihat kakaknya yang sedang melihat buku-buku bergambar dan mendekat pada direktur.
Direktur yang masih duduk pun tersenyum pada Michael, dan kembali melihat buku gambar yang dibawa Marco.
“Sepertinya dia menyukaiku, Michael. Hahaha.” ucap Si Direktur.
Michael pun hanya tersenyum dan menunduk.
“Kemampuan menggambarnya sangat mengagumkan. Sayang sekali jika bakatnya hanya dijadikan hobi.”
“Aku bahkan bisa menggambar wajahmu juga. Satu lembarnya 200 Dolar. Tidak perlu mahal-mahal.”
Marco memotong ucapan direktur dengan Michael saat ia mendengar ucapan Si Direktur.
“Apa kakakku berbicara mengenai kupu-kupu juga?”
Michael berbisik dan bertanya pada direktur.
“Tidak. Dia tak mengatakan itu sama sekali.”
Direktur pun beranjak berdiri, lalu membuka tirai jendela di ruangannya.
“Marco!”
“Ya.”
Marco bergegas berdiri saat direktur memanggilnya.
“Kau lihat itu. Pemandangan di luar sangat indah. Itulah yang menjadi kebanggan rumah sakit kami.”
Marco bergegas berjalan menuju jendela dan melihat pemandangan indah halaman rumah sakit, yang terlihat dari ruangan itu.
__ADS_1
“Aku ingin memindahkan pemandangan itu ke suatu tempat. Apa kau bisa membantuku, Marco?”
“Ya. Tentu saja. Aku akan membantumu.” jawab Michael yang masih melihat pemandangan indah halaman rumah sakit.
“Kau mau memindahkannya kemana, Pak?” Michael bartanya pada direktur.
Direktur hanya tersenyum dan,
“Mari, ikuti aku!”
Direktur berjalan keluar dari ruangannya dan menuju dinding lobi, tepat di sebelah tangga.
Michael dan Marco pun mengikuti direktur rumah sakit itu.
“Memindahkannya disini.” ucap Direktur sambil melihat dinding yang sangat putih dan bersih.
“Marco, aku percaya kau cukup berbakat, untuk menggambar pemandangan tadi persis seperti aslinya. Apa kau sanggup?”
Marco hanya melongo sambil melihat dinding tembok yang luas itu.
“Direktur. Apa kau…”
“Ini resep yang kuberikan untuk Marco. Kau tenang saja.”
Direktur meyakinkan Michael yang ragu dengan keputusan direktur.
“Berapa bayarannya? Kau berani bayar berapa? Berapa?”
Marco masih tetap melongo dan malah bertanya untuk bayaran yang akan diberikan direktur, jika ia dapat menggambar sesuatu di dinding.
“Apa?” tanya direktur yang kebingungan.
“Kak!”
__ADS_1
“Aku bersedia jika dibayar mahal. Kau. Kau berani bayar berapa untuk ini?”
Marco tetap ngotot ingin meminta bayaran untuk terapi yang diberikan direktur.