
“Kau bohong. Kau tak memberiku pesangon, tapi malah membelikan aku tas ini dan mengajakku kemari. Apa kau penipu?”
Feli pun kesal pada Tom.
“Hei! Aku mengajakmu untuk menangguna masa depanmu!” sangkal Tom.
“Kau sudah bangkrut, tak perlu lagi urusi hidupku!” ucap Feli.
Tom pun berdiri dan,
“Hei!! Jaga ucapanmu. Siapa yang bangkrut? Masih ada Ella, harapan terbesarku. Bukan begitu, Ella?”
Tom pun memuji Ella dan berlutut berharap mendapat bantuan darinya.
“Keluar dari sini! Menyebalkan sekali.”
Ella malah mengusir mereka berdua dari kastelnya.
“Ella!”
“Kenapa aku harus menjadi harapan untuk hidupmu yang hancur?”
“Ayolah, Ella. Ini semua terjadi karena…”
“Ini karenamu,” potong Ella.
Tom berdiri, menganggukkan kepalanya dan,
“Kau benar. Ini semua salah CEO yang tak becus. Ini semua salahku.”
“Dasar bajingan tak becus,” Feli malah mengumpat pada mantan bosnya sendiri.
__ADS_1
“Jika kau sudah tahu pergilah,” Ella kembali mengusir Tom.
“Ayolah, Ella. Jangan begitu padaku. Biarkan aku membantumu menerbitkan buku baru. Kau bahkan mengajakku tinggal di sini. Apa kau lupa?”
“Bukankah kau sendiri yang melarikan diri dari sini, malam itu?”
Tom pun terdiam, karena memang dia sendiri yang kabur saat itu.
“Orang lain yang akan tinggal di sini bersamaku,” lanjut Ella
“Siapa itu? Jangan bilang kalau perawat laki-laki itu.”
Ella hanya tersenyum menandakan, benarnya perkataan Tom.
***
Di rumah sakit OLDER, semua pasien, perawat, dokter, dan direktur, sedang melakukan senam bersama di pagi hari.
Begitupun Michael dan Jane yang juga ikut serta dalam senam pagi yang dilaksanakan rutin setiap minggu dua kali.
Jane memberikan semua harapan atas perasaannya pada Michael, ia menyukai Michael sejak lama, tapi belum pernah mengungkapkannya sekalipun.
Setelah selesai melakukan senam, para pasien dan perawat kembali ke dalam rumah sakit dan mengganti pakaiannya yang telah basah karena berolahraga.
Begitupun dengan Marco yang telah datang ke rumah sakit untuk melukis di dinding, sesuai permintaan dari direktur.
Marco mulai mengeluarkan alat lukis dari tasnya, dan membuka tutup cat lukis.
Marco mulai mencampur warna-warna di wadah cat lukis, dan siap untuk melukis.
Sebelum Marco mencoret dinding dengan dengan alat lukisnya, tiba-tiba dia bingung,
__ADS_1
“Bukan ini. Tidak.”
Marco kembali mengganti kuas lukisnya dengan warna lain, lalu kembali mencoba.
“Bukan ini juga. Apa warna hijau cocok?”
Marco terlihat sangat bingung dan gugup, lalu menurunkan alat lukisnya.
“Astaga. Bukan juga.”
Direktur yang baru mengganti pakaian dan membersihkan diri pun, melihat Marco yang sedang kebingungan untuk memulai lukisan.
Ia pun menuruni tangga dan menghampiri Marco.
“Astaga. Semua permulaan itu memang sulit, Marco. Setelah mengambil langkah pertama, semuanya menjadi mudah.”
“Astaga. Tidak.”
Direktur mengambil kuas dan mencelupkannya pada cat warna hijau, lalu mencoret dinding yang membuat Marco melongo, karena tak setuju dengan kemauannya.
“Sekarang saatnya pelukis menggunakan keahliannya.”
Direktur mengembalikan kuas itu ke atas meja lukis Marco.
“Tidak! Tidak boleh! Kau jahat!”
*PLAKKK!!!
Marco mengambil kembali kuas yang dipakai direktur, dan mengarahkan kuas itu pada muka direktur, yang membuat wajah direktur menjadi penuh cat berwarna hijau.
“Astaga. Aku minta maaf, Marco. Aku tak tahu, jika kau tak akan menyukainya.”
__ADS_1
Direktur pun bergegas lari meninggalkan Marco.
“Tidak. Tak boleh. Kenapa kau begitu. Kemarilah! Nakal sekali kau!”