ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Aku Seperti Pernah Melihatnya!


__ADS_3

Tom dan Feli pun juga kebingungan saat Marco yang keluar dari pintu, bukannya Ella.


“Siapa kau?” tanya Tom.


“Astaga.”


*BRAKK!


Marco kembali menutup pintu dan menguncinya, karena tak mengenal siapa yang datang.


“Siapa dia?” tanya Tom pada Feli.


“Orang itu. Sepertinya aku pernah melihatnya.”


Feli kembali berusaha mengingat.


“Benar. Dia adalah kakak dari perawat laki-laki itu. Orang yang membuat keributan saat peluncuran buku, Nona Ella.”


“Astaga, perawat itu lagi?”


“Hei! Ella! Buka pintu nya!”


*DOK DOK DOK!!!


Tom kembali menggedor pintu kastel dengan keras dan memangil Ella.


“Buka pintunya! Biarkan aku masuk!”


“Baiklah, Ella. Jika kau tak keluar, aku akan mendobrak pintu ini. Satu… Dua….”


*BUUKK!!!


“Aduh!!!”


Marco membuka pintu itu, sebelum Tom mendobrak, yang membuat Tom terjatuh di lantai kastel, tepat di depan Ella yang sudah berada disana.


“Kenapa kau datang?” tanya Ella.


Tom beranjak berdiri dan menyuruh Ella untuk mengusir Marco dari sana.

__ADS_1


“Cepat usir orang ini, Ella.”


“Aku tinggal di sini. Kenapa kau menyuruh Pennulis Ella untuk mengusirku?”


“Apa maksudmu?” tanya Tom.


“Benar. Kami memang tinggal bersama,” ucap Ella.


“Bukan sebagai suami istri. Hanya tinggal bersama. Aku menjadi pegawai baru Penulis Ella,” lanjut Marco.


“Astaga. Kalian tinggal bersama?” Tom masih tak menyangka dengan hal itu.


“Pegawai akan tinggal di studio perekrut dan menggambar ilustrasi disana. Ilustrasi. Kau tahu ilustrasi?”


Marco terus mengoceh menjawab Tom.


Ella hanya tersenyum dan,


“Perkenalkanlah. Dia ilustrator yang sangat istimewa.”


“Halo. Aku Marco. Usiaku 35 tahun. Golongan darah AB. Aku lahir di tahun gajah. Meski mengidap spektrum autisme, aku bisa mengurus diriku sendiri.”


“Namaku Feli. Penata artistik. Aku juga pernah mengurus ilustrasi untuk Penulis Ella.”


“Tidak! Aku tidak setuju dengan tim ini!” potong Tom.


“Aku setuju.” Ella mengangkat tangannya.


“Setuju.” Marco juga mengangkat tangannya.


“Aku juga setuju,” Feli yang ikut menimbrung.


Tom pun sangat stress dan pusing memikirkan yang telah terjadi.


“Astaga. Ella. Kau selalu berulah karena tak bisa mengandalkan diri. Lantas bagaimana caramu merawatnya? Bagaimana jika kalian meledak bersamaan?”


Tom terus berusaha membujuk Ella.


Ella pun tersenyum dan,

__ADS_1


“Tuas pengaman ku.”


“Apa? Tuas apa? Apa maksudmu, Tuas?” tanya Tom.


“Kau tak perlu cemas, karena aku sudah punya tuas pengaman.”


Ella mengedipkan matanya pada Michael yang sudah sampai di kastelnya.


“Itu. Lihatlah. Dia datang.”


Tom, Feli dan Marco pun melihat kedatangan Michael dengan membawa tas dan koper berisi pakaiannya.


“A… Michael.”


“Michael adikku. Dia adikku. Dia adik kandungku.”


“Meskipun pengecut, dia masih adikku.”


Marco pun mulai berjalan mendekati Michael yang berdiri di pintu kastel.


“Apa kau baik-baik saja, Michael? Maafkan aku.”


Michael hanya tersenyum pada marco dan,


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Baiklah. Ayo masuk.”


Marco pun mengajak dan menggandeng adiknya memasuki kastel.


Tom pun mulai putus asa dan mengajak Feli untuk pergi dari sana, untuk memikirkan cara agar dapat membujuk Ella.


Ella mengajak Mihcael untuk duduk dan mengobrol bersama meja makannya yang cukup luas, sedangkan Marco sedang sibuk memasak makanan mentah yang dibawa Michael.


“Apa kau memutuskan untuk memilih kakakmu?” tanya Ella


“Ada beberapa syarat yang…”


“Apa aku termasuk salah satu alasan dari pilihanmu?” potong Ella

__ADS_1


“Di sini selama hari kerja, dan pulang di akhir pekan.”


__ADS_2