ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Lukisan 100 Dolar Yang Bagus.


__ADS_3

Sesampainya mereka di taman, Marco ingin menunjukkan lukisan wajah Ella yang telah ia buat dari jauh hari.


“Astaga, cantik sekali. Aku suka dengan ini.”


Ella pun memuji Marco, karena lukisan Marco memang bagus.


Marco senyum-senyum sendiri, lalu mengulurkan tangannya untuk meminta upah atas lukisan yang telah dibuatnya.


“Itu 100 dolar.”


*BAK!


“Katamu gratis?”


Ella meletakkan kembali lukisan Marco dan papan lukis di atas meja.


“Memangnya kau pesan pizza? Kau tak pesan pizza. Kau harus pesan pizza di tempat Jim dahulu, baru lukisan ini gratis untukmu,” jawab Marco.


“Hahahaha. Aku harus bagaimana? Kau sangat menggemaskan sekali.”


Saat Ella akan mengelus rambut Marco di kepala belakang,


“Jangan sentuh rambutnya!”


Michael datang dari belakang dan memegang tangan Ella yang hampir menyentuh kepala belakang Marco.


Ella pun tersenyum pada Michael, lalu bertanya.


“Apa kau masih marah denganku? Aku kemari untuk mengajak ayahku jalan-jalan. Kau marah karena aku ingkar janji, bukan?”

__ADS_1


“Kak. Masuklah kedalam. Tunggu aku di lobi.”


Michael menyuruh kakaknya untuk kembali ke dalam rumah sakit.


“Tak mau. Aku tak mau masuk. Aku mau disini bersama Penulis Ella. Bersama Penulis Ella…”


“TURUTI PERINTAHKU!!!!”


Michael berteriak pada Marco karena tak mau menuruti perkataannya.


Semua pasien dan para perawat lain, yang berada di taman pun ikut terkejut saat mendengar teriakan Michael yang sangat keras.


Tapi tidak dengan Ella, Ella hanya diam tanpa ekspresi apa pun dan memandangi wajah Michael yang terlihat kesal.


“Tunggu di lobi! Aku akan menyusulmu.”


Marco hanya diam ketakutan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Kak. Apa kau mendengarku?”


“Hei. Kau kenapa. Apa kau dipukul?” tanya Ella yang melihat pipi Michael merah karena ditampar oleh Robert.


Michael pun memegang tangan Ella, lalu menariknya berjalan ke suatu tempat, meninggalkan Marco sendirian di taman.


“Siapa yang memukul wajahmu? Kenapa wajahmu? Bajingan mana yang memukulmu? Siapa? Aku akan membalasnya. Katakan padaku!”


Ella terus bertanya tentang siapa yang memukul Michael, saat ia diajak Michael pergi ke suatu tempat.


Michael menggandeng Ella menuju belakang rumah sakit, agar tak dilihat oleh banyak orang.

__ADS_1


Sesampainya mereka disana, Ella terus mengoceh.


“Kau menahannya lagi? Kau dipukul dan menahannya seperti pecundang.”


“Siapa pelakunya? Tunjukkan dirimu, seperti saat kau meninju wajah orang yang hendak menampar ku tempo hari.”


“Kenapa kau marah? Kenapa kau heboh?” tanya balik Michael.


“Apa maksudmu? Kau dipukul.”


“Lalu? Apa hatimu terluka? Atau membuatmu sedih?”


Michael melangkah mendekati Ella dan,


“Apa perasaanmu sekarang? Kau tak mengerti perasaan yang membuatmu bereaksi seperti ini. Kau juga tak tahu. Kau tak merasakan apa pun. Kau hanya bersuara, seperti tong kosong.”


Ella hanya menatap Michael dan tak mengatakan sepatah kata pun.


“Itu sebabnya, jangan bertingkah seolah-olah kau tahu atau memahamiku. Jangan berkhayal.”


“Bahkan hingga ajal menjemput, kau tak akan pernah mengerti.”


Michael pun menatap mata Ella sejenak, lalu pergi meninggalkannya sendirian.


Ella hanya diam mematung, saat Michael pergi meninggalkannya.


Sepertinya, Ella sedang bersedih karena Michael meninggalkannya begitu saja, saat ia memperdulikan keadaan Michael.


Ella kembali menuju ke taman dan duduk menyendiri.

__ADS_1


Saat Ella sedang melamun, ia melihat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangkai bunga tepat di sebelah Ella duduk.


__ADS_2