
“Juga saat kakakmu memukulmu di halaman rumahku, pertama kali dia pindah. Kau hanya menahannya dan diam dipukul. Bagaimana caramu melakukan itu?”
“Jika aku menahan diri, tak akan terjadi hal buruk. Jika aku mengikuti emosiku, tanpa memikirkan akibatnya, kami tak akan bisa hidup seperti sekarang.”
“Menahan diri adalah satu-satunya cara untuk melindungi Marco.”
Ella pun tersenyum saat mendengar jawaban Michael dan,
“Pantas saja kita ditakdirkan bertemu dan bersama. Kau pendai menahan diri, dan aku pandai menghancurkan. Tuas pengaman dan granat. Kita adalah satu pasang.”
“Hahahaha. Kau punya berapa takdir?” tanya Michael.
“Apa maksudmu?”
“Tanyakan saja pada penggemar yang kau sebut keren itu.”
Michael kembali mengungkit kejadian tadi siang, saat mereka di kedai kopi.
“Keren? Ohhh. Pulpen ini? Bagaimana menurutmu? Bukankah ini keren? Lihatlah bentuknya. Sempurna.”
Ella mengambil pulpen yang diambilnya dari salah satu pria penggemarnya.
“Dibandingkan pulpen ini, kau jauh keren. Fuuuuhhh!!!”
Ella mendekatkan wajahnya pada Michael dan meniup kupingnya.
“Ada apa denganmu?”
Michael merasa geli dengan itu.
“Hahahaha. Jangan cemburu.”
Ella merebahkan badannya dan menggunakan paha Michael sebagai bantal.
__ADS_1
“Aku tak cemburu.”
“Ssstttt. Aku mengantuk.”
“Tidurlah di kamarmu. Jangan di sini.”
Michael tak mau menyuruh Ella tidur di kamarnya.
“Aku tak mau. Mozza masih ada di sini. Aku mau tidur bersama Mozza. Lemaskan saja ototmu.”
*PLAK PLAK!!
Ella memukul kaki Michael yang digunakannya sebagai bantal agar tak tegang.
“Apa direktur rumah sakit belum menghubungimu? Untuk kembali mengajar kelas sastra?”
“Dia menghubungiku.”
Ella pun telah tertidur pulas di pangkuan Michael, saat tak menanggapi ucapannya.
Dengan perlahan Michael memindahkan kepala Ella dan menggantinya dengan bantal, lalu menyelimutinya agar tak kedinginan.
Michael juga menyelipkan Mozza yang telah selesai ia benarkan di pelukan Ella.
Setelah itu, Michael kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Pagi harinya, terlihat Jane dan ibunya menaiki mobil untuk berangkat bekerja bersama.
Ibu Jane pun masih melihat wajah Jane yang sangat murung karena tak terima jika harus menerima Tom dan Feli tinggal di rumahnya.
“Kenapa wajahmu? Ada masalah apa lagi?”
__ADS_1
“Kenapa ibu menanyakan pekerjaan orang tua Tom saat di rumah?”
“Kita akan tinggal bersama, apa aku tak boleh menanyakan hal itu?”
“Ibu terlihat tertarik dengannya.”
“Bukan aku yang tertarik dengannya, tapi dia yang tertarik denganmu.”
“Tahu darimana?” tanya Jane yang kaget.
“Di usia ibu yang sekarang, ada beberapa hal yang bisa langsung ibu ketahui.”
“Jika ibu sudah tahu, jangan pernah memberinya kesempatan,” ucap Jane.
“Dia pekerja keras dan ceria. Tampak bertanggung jawab. Apa salahnya?”
“Apa Ibu tahu alasanku seperti ini?”
“Ibu tahu itu, Nak. Itu sebabnya Ibu mengatakan ini. Ibu membenci pria yang tak membalas cinta putriku. Sangat benci, tapi aku juga kasihan padanya.”
“Walaupun begitu, kau lebih penting bagi Ibu.”
“Bukankah ibu bilang aku harus mengejarnya ke ujung bumi?”
“Ibu takut jika terus begini, kau akan mengejarnya sampai ujung jurang.”
Jane pun terdiam dan memikirkan ucapan singkat dan banyak arti dari ibunya.
Sesampainya mereka di rumah sakit OLDER, mereka bertemu dengan rombongan Ella, Michael, dan Marco yang juga baru sampai di sana.
“Halo, Ibu Jane!” sapa Marco.
“Wahhh pemilik rumah,” sahut Ella.
__ADS_1