ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Pernah Mendengar Janggut Biru?


__ADS_3

Malam harinya, saat Michael dan Marco akan beranjak tidur, terlihat Marco yang baru keluar dari kamar mandi dan kembali berjalan ke kamarnya.


Saat ia berjalan, Marco melihat sebuah pintu yang terbuka. Marco pun berjalan mendekati pintu yang terbuka itu.


Saat Marco mulai memasuki ruang itu, ia melihat tangga yang menuju ruang bawah tanah.


Sebelum Marco menuruni tangga, Ella datang dari belakang dan menahan pundak Marco, yang membuatnya terkejut.


“Itu… Di bawah itu…” Marco menunjuk tangga yang menuju ke ruang bawah tanah.


“Kak. Apa kau pernah mendengar kisah ‘Janggut Biru’?”


“Dahulu kala, ada seorang pria berjanggut biru yang tinggal sendirian di sebuah kastel yang megah.”


“Dia sangat kaya raya, tapi karena memiliki janggut berwarna biru, semua orang takut dan menghindarinya.”


“Pada suatu hari, seorang wanita miskin mengunjungi kastel untuk menjadi mempelai wanita dari pria berjanggut biru itu.”


“Pria berjanggut biru itu dipenuhi kebahagiaan. Dia mengeluarkan seluruh berlian dan harta dari tiap kamar dan memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya.”


“Namun, ada satu pengecualian, yaitu sebuah kamar di bawah tanah. Dia memperingatkan istrinya untuk tidak membuka kamar itu.”


“Namun, istrinya sangat penasaran, dan membuka kamar itu tanpa sepengetahuan suaminya.”


“Apa kau tahu isi kamar itu, Kak?”

__ADS_1


Marco yang mendengar itu hanya melongo, dan menggelengkan kepalanya.


“Ada banyak mayat wanita yang bergantungan di dinding.”


“Disanalah akhir dari yang tragis bagi para istri yang mengabaikan peringatan dari pria berjanggut biru, untuk tidak membuka kamar itu.”


Marco yang punya syndrom autis, masih tak mengerti apa maksud dari ucapan Ella.


Ia pun bergegas kembali ke kamarnya, dan menceritakan semua yang ia lakukan dan apa yang telah diceritakan Ella pada Michael.


“Kak.”


“Mulai sekarang, jangan pernah ke kamar bawah tanah. Ini bukan rumah kita. Kita harus bersikap sopan.”


“Mungkin, karena dia berbeda dengan yang lain. Di saat semua pria memiliki janggut hitam, ia mempunyai janggut yang berwarna biru sendirian.”


“Apakah menjadi berbeda itu menakutkan?” Marco kembali bertanya.


“Sepertinya begitu,” jawab Michael.


“Haruskah tinggal sendirian di kastel saat kita berbeda?”


“Tidak juga, Kak. Suatu hari, dia akan menemukan cinta sejati yang tak takut janggut biru dan mengatakan bahwa tidak apa-apa menjadi berbeda,” jawab Michael.


Marco pun telah terlelap tidur saat Michael selesai menjelaskan.

__ADS_1


Michael pun menggunakan selimutnya untuk Marco dan beranjak tidur di sampingnya.


Di luar kamar, terlihat Ella yang berdiri dan mendengarkan semua yang telah dibicarakan mereka berdua.


Ella pun juga beranjak pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya, terlihat Marco yang sedang menyapu dan mengepel semua lantai kastel.


Begitupun dengan Michael yang sedang memasak makanan untuk sarapan pagi.


Saat Ella bangun dari tidurnya, ia bergegas turun dari lantai dua dan melihat Marco yang telah selesai mengepel, dan menjemur semua bantal dan kasur.


Saat Marco melihat Ella yang sudah bangun, ia pun menyapanya.


“Oh. Penulis Ella. Apa tidurmu nyenyak?”


Ella hanya menganggukkan kepalanya dan masih bengong, melihat Marco membereskan semua pekerjaan rumah.


Marco pun melanjutkan kegiatannya merapikan barang-barang yang tak terurus di setiap sudut sambil berbicara pada Ella.


“Kami bangun pukul lima pagi, mencuci semua sprei, mengambil semua belanjaan, dan berbenah, saat kau masih tertidur lelap.”


Marco pun mengajak Ella menuju dapurnya.

__ADS_1


__ADS_2