
Saat Michael menoleh, Marco segera berlari kencang, agar Michael tak mengambil bukunya.
“SIAL!!”
Michael yang tertipu pun segera berlari dan menyusul Marco.
“Berhentilah! Jangan berlari. Itu sangat berbahaya.”
Michael pun dapat mengejar Marco, saat Marco menuruni tangga yang berada di dekat rumahnya.
“Berikan itu!”
Michael kembali meminta buku yang dibawa Marco.
“Lihat itu!”
Marco menunjuk seseorang yang berada di belakang Michael.
“Aku tak akan tertipu lagi. Berikan itu!”
“Itu.. Jim. Itu Jim. Ada Jim disana.”
Michael pun menoleh, dan benar saja, ia melihat Jim yang berdiri di ujung tangga, sedang melihat Michael dan Marco berebut buku.
Michael pun menghampiri Jim, sedangkan Marco berjalan cepat menuju rumahnya yang telah dekat.
Michal dan Jim pun duduk berdua di ujung tangga paling bawah untuk mengobrol sejenak.
Alasan Jim sebenarnya saat datang kesana, untuk meminta maaf pada Michael, karena ia tak bisa menemani Marco datang ke acara peluncuran buku Ella.
“Kau tahu sifatku, bukan? Aku bisa meminum satu ton bir dan tidak mabuk. Tapi aku selalu mabuk tiap minum berdua dengan wanita.”
__ADS_1
Michael pun hanya diam tanpa menjawab perkataan Jim.
“Kata para tetua, ‘Sejarah akan terbentuk saat malam, alkohol dan wanita bertemu. Tapi berbeda dengan sejarahku. Gelap gulita. Sangat gelap.”
Jim mulai melihat langit dan melantur dengan perkataannya.
“Jim.”
“Ya.”
“Sudah saatnya kau berhenti.”
“Bicaralah yang jelas. Berhenti apa?”
“Berhentilah menyulitkan dirimu sendiri dengan mengikutiku dan Marco. Menetaplah dan hidup dengan nyaman.”
Jim pun duduk tegap dan menatap mata Michael.
“Pindah atau tidaknya aku, biarlah aku sendiri yang menentukannya, termasuk mengikutimu. Kenapa kau tiba-tiba begini?”
“Apa terjadi sesuatu padamu? Kau terlihat murung sekali. Astaga, Sial. Ini pasti gara-gara wanita penulis sialan itu!”
“Apakah wanita sinting itu membuat masalah lagi?”
“Tidak.” jawab Michael
“Jangan berbohong padaku. Aku yakin dia melakukan sesuatu. Aku tahu kau sedang berbohong padaku. Ada apa? Cepat beritahu aku!”
Michael pun menghela nafas panjang lalu,
“Kukira aku yang melarikan diri, karena kakakku. Kupu-kupu atau apapun itu. Terus melarikan diri dari objek yang tak kasat mata. Kukira semua gara-gara Marco, kakakku sendiri.”
__ADS_1
“Maksudmu?” Jim kebingungan dengan ucapan Michael.
“Tiba-tiba aku berpikir, mungkin sebenarnya akulah yang ingin melarikan diri dan memaksa Marco mengikutiku.”
“Jangan berkata begitu.”
“Jika hidup ini menjadi sangat menyiksa, solusi termudah adalah kabur.”
Michael tersenyum dan menikmati kepahitan hidup yang dialaminya selama ini.
Jim duduk lebih mendekat pada Michael, lalu merangkulnya dan menepuk-nepuk pundak Michael.
Karena waktu semakin larut, Michael dan Jim pun kembali ke tempat tinggal mereka masih-masing.
Sesampainya Michael di rumah, ia berpikir untuk berpindah tempat, kembali ke kampung halamannya dahulu.
Michael teringat dengan ucapan Jane, bahwa rumah sakit panti jompo tempat Jane bekerja, sedang membutuhkan tenaga kerja.
Terlihat juga Marco yang sedang merapikan koleksi bukunya di rak.
Michael pun berniat membicarakan niatnya itu pada Marco.
“Kak, apa kau ingat tempat tinggal kita waktu kecil? Tempat tinggal kita bersama ibu.”
“Las Vegas. Kota Las Vegas.” jawab Marco yang masih sibuk menata bukunya.
“Hmm. Benar. Bagaimana jika kita tinggal disana? Jika kau tak mau…”
“Aku mau.” jawab Marco singkat.
“Kau yakin?”
__ADS_1