ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Kau Tak Lihat Pasangan Gila Tadi?


__ADS_3

“Kau tak lihat pasangan gila itu? Pasti mereka kabur besok pagi. Lihatlah mereka. Mampukah mereka berpisah?”


Ella melihat pasangan gila yang sedang terlihat mesra.


“Akal sehatmu tak akan menang melawan nafsu, Michael. Apa kau akan membiarkan mereka kabur? Kau melepas tanggung jawabmu sebagai perawat?”


“Atau memisahkan mereka meskipun tahu mereka sedang kasmaran? Tanpa kasihan sedikitpun?”


“Mari menginap untuk malam ini saja, agar kau bisa mengantarkannya ke rumah sakit besok. Bagaimana, Perawat Michael?”


“Aku sedang diskors. Aku tak punya tanggung jawab untuk mereka.”


Saat berjalan pergi, tiba-tiba Michael menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak.


Akhirnya, Michael pun mau bermalam di villa itu dan menjaga sepasang kekasih yang kabur dari RSJ.


***


Malam harinya, terlihat Michael yang sedang duduk di balkon villa dan melamun sendirian.


Michael sedang melihat terus ke ponselnya menantikan Marco menghubunginya.


Ella menghampiri Michael dan membawa minuman dari dalam villa.


“Pemilik villa memberikan kita minuman ini. Dia yang membuat ekstrak buah ini.”


Ella pun menuangkan minuman yang ia bawa  ke dalam gelas, dan memberikannya pada Michael.


“Kau belum mendapat panggilan dari kakakmu? Berikan ponselmu. Biar aku yang menghubunginya.”


“Tak perlu. Aku akan menghubunginya sendiri.”


Michael pun berdiri dan menjauh dari Ella untuk menghubungi Marco.


“Ya,” jawab Marco dari teleponnya.


“Kau suda makan, Kak?”


“Pizza.”


“Waahh. Kalian pasti berpesta. Sekarang sedang apa?”


“Kau sendiri?” Marco balik tanya.


“Apa? Aku? Aku.. sedang berbicara denganmu.”


Michael gugup dan mencari jawaban, agar Marco tak mencurigainya.


“Kapan kau pulang?”


“Soal itu, sepertinya aku akan sangat terlambat.”


“Tengah malam? Atau pukul 01.00? Pukul 02.00?”


“Bukan begitu. Mungkin aku tak pulang hari ini. Aku akan bermalam di sini.”


“Kau tidur saja, Kak. Jangan menungguku pulang. Tutup tirai jendela kamar sebelum tidur. Jangan tidur di lantai. Pastikan kipas angin menyala agar kau tak kepanasan.”


“Hubungi aku, jika kau bosan atau tak bisa tidur.”


“Kau juga. Hubungi aku jika bosan.”


Marco pun mematikan sambungan teleponnya setelah itu.


Michael kembali ke balkon dan duduk bersama Ella.


Ia meminum minuman yang telah dituang Ella ke dalam gelasnya.


“Aku pernah melihat ekspresimu di drama,” ucap Ella.


“Apa maksudmu?” tanya Michael.


“Ekspresi pria yang ketahuan menyelingkuhi istrinya. Hahaha. Aku tak mau jadi selingkuhanmu. Aku mau jadi istrimu.”


“Bukankah mereka tak bisa menjadi sahabat? Kakakku sangat senang menjadi sahabatmu.”


“Aku juga menyukai kakakmu. Dia sangat menggemaskan.”


“Seumur hidup, ibuku menginginkan kakakku mempunyai teman. Teman sejati yang memahaminya. Cukup satu.”


“Aku juga pernah punya teman seperti itu. Teman yang memahamiku saat aku masih duduk di bangku SD..”


“Gadis itu takut dengan teman-teman sekelasnya. Sedangkan teman-teman sekelasnya takut denganku.”


“Aku senang saat itu karena mempunyai teman bermain. Dia juga senang karena tak diganggu teman-teman sekelasnya lagi.”


“Namun, dia tak puas dengan satu teman. Dia ingin berteman dengan semua orang.”


“Sementara aku membenci dia yang seperti itu.”


Ella mulai bercerita tentang temannya saat ia masih kecil pada Michael.


Dan benar saja. Teman yang dimaksud oleh Ella adalah Jane.


“Lalu? Kau mengganggu teman-temannya?” tanya Michael.


“Ya. Kupikir dia hanya akan berteman denganku, jika dia sendirian lagi.”


“Ternyata aku salah. Sejak awal aku tak ada teman yang bisa saling mengerti.”


“Berbaikanlah dengannya.”


Michael pun sepertinya mengerti, bahwa Jane lah yang dimaksud Ella.


“Aku tak mau.”


“Kenapa?”


“Karena aku sudah punya sahabat, dan aku sudah punya dirimu.”


Ella duduk mendekati Michael dan bersandar di pundaknya.


“Astaga. Kau… Pipimu…”


“Lepas!”


*BRUKK!!!


Michael terjatuh dari bangku saat melepas tangan Ella dari pipinya.


“Masuklah. Sudah malam. Mari berstirahat.”


Michael pun berdiri dan bergegas masuk ke dalam villa sederhana itu.


Begitupun Ella yang menyusul Michael masuk ke dalam villa.


Mereka berdua menggelar dua kasur lantai berjajar, untuk tidur dan beristirahat.


Saat Michael telah tidur lebih dulu, Ella memandangi wajah tampan Michael, walaupun ia sedang tertidur.


Ella pun mengambil ponsel Michael yang berada di samping bantalnya, lalu mematikan agar tak ada orang yang mengganggu mereka.


“Hei! Tidurlah di kamar sebelah.”


Michael terbangun dan menyuruh Ella untuk tidur di dalam kamar.


“Aku tak mau. Aku mau di sini bersamamu.”


Michael pun tidur miring dan membelakangi Ella.


“Sial. Jangan memunggungiku.”

__ADS_1


Ella menarik kembali pundak Michael agar tak tidur miring membelakanginya.


“Hahahahaha.”


Michael hanya tersenyum, lalu tertawa dengan itu.


“Kau tertawa seperti orang bodoh saat sedang mabuk.”


“Menyenangkan saat bersamamu. Aku bisa terus tersenyum,” ucap Michael dengan matanya yang sudah sayup-sayup mengantuk dan menutup matanya.


“Huft. Tak bisa begini,” ucap Ella.


“Apa maksudmu?” tanya Michael dengan mata tertutup.


Ella pun mulai mengambil bantal lalu memukulkannya pada Michael.


*BUK!!


Michael yang tak terima pun mulai membalasnya. Mereka saling pukul memukul di dalam villa.


Hingga Michael mengunci dan menahan tangan Ella, agar tak memukulnya kembali.


“Baiklah. Lepaskan aku. Aku mau tidur.”


Ella pun menyerah saat ia tak bisa bergerak, karena ditahan oleh Michael.


“Kubilang aku mau tidur. Sudahlah, lepaskan aku.”


Saat Michael melepas tangan Ella, Ella malah menarik leher Michael yang membuatnya menjadi berganti posisi.


Mereka berdua berpelukan di lantai, akibat Michael tak siap saat Ella menariknya.


Michael memeluk Ella dan melindungi kepalanya agar tak terbentur ke lantai saat jatuh.


Begitupun Ella yang merasa sangat terlindungi oleh Michael.


“Kumohon. Diamlah seperti ini. Cepat tidur,” ucap Michael yang masih memeluk Ella di lantai.


“Konon bisa lebih cepat tertidur saat kepalamu diusap.”


Michael pun mengelus-elus kepala Ella agar cepat tertidur pulas.


Setelah Ella tertidur, Michael memindahkan kepalanya ke bantal dengan perlahan agar tak membangunkannya.


Michael pun duduk dan bersandar di tembok melihat Ella yang tertidur pulas.


“Sudah kubilang. Jika aku bersamamu, aku tak akan pernah bisa menahan diriku lagi. Mulai sekarang, aku tak bisa melarikan diri,” ucap Michael pada Ella yang sedang tertidur.


****


Pagi harinya, Ella terbangun dari tidurnya dan melihat Michael yang tak ada di sampingnya.


Ella pun mulai bingung dan mencari di sekitar villa.


Ella keluar dari villa saat ia belum menemukan Michael.


Di halaman villa, Ella melihat Michael yang datang entah dari mana.


Michael berjalan mendekatinya dengan membawa sesuatu yang disembunyikan di balik badan kekarnya.


“Kau dari mana?” tanya Ella.


“Akuuu…”


“Ada yang belum sempat kuberikan padamu waktu itu.”


“Apa?” tanya Ella.


Michael pun mengeluarkan buang melati yang ia bawa dan mengeluarkannya dari balik badannya.


Entah dari mana Michael mendapatkan bunga melati yang sangat indah itu.


“Jangan diinjak kali ini,” ucap Michael.


“Cantik sekali.”


Ella pun menerima bunga melati yang diberikan oleh Michael di pagi itu.


“Kau juga cantik.”


Dengan penuh percaya diri, akhirnya Michael mencium bibir setelah mengatakan itu.


Michael hanya meringis tersenyum setelah mencium bibir Ella.  Ia terlihat sangat polos dan kaku.


Begitupun dengan Ella. Ia sangat terkejut Michael mencium bibirnya di halaman villa.


Ella juga tersenyum melihat Michael yang tertawa karena salah tingkah.


Mereka berdua pun bergandengan tangan dan kembali ke villanya.


Michael segera mengemasi barangnya, lalu pergi dan mengantar sepasang kekasih yang melarikan diri dari RSJ.


Sesampainya mereka di rumah sakit, pasangn itu bergegas kembali ke ruang direktur untuk melapor, lalu kembali ke kamarnya.


Michael pun juga bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Marco yang sedang menyelesaikan lukisan muralnya.


Di dalam rumah sakit, terlihat Marco yang sedang membersihkan tangannya dari cat di toilet.


Saat ia kembali dan melewati ruang direktur, Marco mendengar obrolan pasien yang kabur, tentang Ella dan Michael yang menginap bersama di villa.


Marco pun mulai terdiam dengan wajah yang melas, tapi tak tahu harus marah kepada siapa, karena Michael telah berbohong padanya.


Saat ia kembali ke lobi dan akan membereskan peralatannya, ia melihat Michael yang sedang mencarinya di sana.


“Kau dari mana? Kenapa tak mengangkat telepon dariku?” tanya Marco.


“Maafkan aku, Kak. Baterai ku habis, jadi, aku tak bisa mengangkat telepon darimu.”


“Kau dari mana? Jawab pertanyaanku!”


“Sudah kubilang, bukan? Aku pergi ke Texas karena ada janji urusan.”


“Kau berbohong. Sudah kubilang, jangan berbohong kepadaku.”


“Kak, ada apa denganmu?” tanya Michael yang belum menyadari bahwa Marco sudah mengetahui semuanya.


“Siapa yang lebih kau suka? Aku atau Ella?”


“Kenapa kau menanyakan itu, Kak. Tentu saja..”


“Kau pilih siapa? Aku atau Ella?”


Marco terus merengek dan bertanya pada Michael.


“Astaga, Marco. Dia tentu lebih menyukaimu.”


Rose yang juga berada disana ikut menenangkan Marco yang akan meledak.


“Harus kau yang jawab! Jawab aku!!!!”


Marco pun berteriak di sana.


Rose yang tak mau ikut campur pun pergi meninggalkan saudara kandung yang sedang bertengkar itu.


“Tentu saja, aku lebih menyukaimu, Kak.”


“Tidak. Kau bohong.”


“Kau bohong. Semuanya bohong. Bohong. Sudah kubilang jangan bohong!!!”


*BRUSH!!!

__ADS_1


Marco melempar cat dan menumpahkannya pada baju Michael.


“Jangan bohongi aku! Semuanya bohong!”


“Tidak. Tidak, Kak. Aku tak berbohong padamu.”


Michael masih berusaha menenangkan Marco disaat para pasien lain melihat mereka bertengkar.


“Maafkan aku. Aku bersalah. Aku tak akan mengulanginya.”


Untungnya, direktur rumah sakit segera datang dan menenangkan Marco di ruang khusus pasien yang terkena gangguan mental.


Direktur membawa Marco ke ruangan itu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Direktur pun menemui Michael yang menunggu Marco di luar ruangan.


“Dia tertidur setelah minum obat penenang. Sementawa waktu, biarkan dia di sini. Tidak perlu dirawat, hanya untuk perlindungan sementara.”


“Baik, Pak. Aku percayakan semuanya padamu,” ucap Michael yang terlihat putus asa.


Direktur pun pergi kembali ke ruangannya meninggalkan Michael.


“Dia akan tertidur cukup lama. Sembari menunggu, carilah udara segar di luar,” ucap Rose yang juga ikut meninggalkan Michael.


Ella yang berdiri di samping tembok pun, merasa sangat kasihan pada Michael.


Michael seperti sangat tertekan dengan keberadaan kakaknya yang selalu membebaninya.


Michael hanya bisa menahan dan bersabar atas semua yang terjadi padanya.


Michael pun beranjak berdiri, lalu keluar meninggalkan rumah sakit.


Ia terus berjalan dengan sempoyongan, karena lemas pikirannya saat memikirkan kakaknya.


Begitupun Ella yang berjalan keluar mengikuti Michael.


Michael terus berjalan tanpa tahu tujuan yang membuat Ella merasa capek terus mengikutinya dari belakang.


“Hei. Kau mau kemana? Seberapa jauh kau akan berjalan pergi? Kakiku sudah tak kuat. Michael!!!”


“Aduh!!!”


Ella terjatuh karena kakinya terkilir.


Walau begitu, Michael tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Ella.


“Sudah kubilang jangan memunggungiku!”


*BUK!!


Ella melempar sepatunya hingga mengenai punggung Michael.


Akhirnya, Michael pun menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ella.


“Hmmm. Salahmu sendiri, tak mau berhenti dan mempunyai punggung yang sangat bidang.”


Ella berjalan dengan kaki yang sedikit pincang mendekati Michael.


“Kau tak lapar? Dua stasiun dari sini ada kedai udon yang sangat enak.”


“Ella. Berhentilah mengikutiku.”


Saat Michael akan meneruskan langkahnya, Ella menahan tangan Michael.


“Kita bergandengan. Kita harus selalu bersama.”


Ella tersenyum pada Michael dengan penuh harapan.


“Pulanglah, Ella. Aku harus bersama kakakku.”


Michael pun pergi meninggalkan Ella.


Begitupun dengan Ella yang menangis dan tetap berdiri di tempatnya, karena sudah tak kuat untuk mengikuti Michael.


***


Malam harinya, setelah Michael berjalan tanpa tujuan, akhirnya Michael tetap kembali untuk melihat keadaan kakaknya.


Ia terus melihat Marco dari luar jendela yang tetap tak mau membuka pintu untuknya.


Michael pun sangat bingung dan sedih.


Michael pun tertidur di kursi depan ruang kakaknya hingga esok hari.


Direktur yang melihat Michael pun menggelengkan kepalanya dan tak menyangka Michael akan menunggu kakaknya seperti itu.


“Astaga. Dia seperti hantu penunggu ruangan.”


Direktur pun masuk ke dalam ruangan Marco.


Marco masih bersembunyi di balik selimut dan menggerak-gerakkan tangannya sendiri di balik selimut.


“Marco. Kau pasti merasa kepanasan. Bukankah kau ingin keluar?”


Setelah tak mendapat jawaban dari Marco, direktur pun keluar dari ruangan dan mengajak Michael pergi dari sana.


Saat direktur telah keluar, Marco membuka selimutnya, lalu membuka pintu ruangannya.


Ia melihat Michael dan direktur yang berjalan bersama meninggalkan ruangan itu.


Direktur mengajak Michael untuk berbicara di ruangannya.


“Makanlah ini. Ini adalah makanan terbaik saat tak nafsu makan.”


Direktur menawarkan sebuah permen jahe kepada Michael.


Michael pun mengambil permen itu dan memakannya.


“Kau pernah bermain balap 3 kaki?” tanya direktur.


“Salah satu kaki diikat dengan rekanmu dan berlarian bersama. Aku sudah melakukannya beberapa kali bersama putraku.”


“Kami tak pernah bisa sampai ke garis akhir karena aku selalu tersandung. Hahahaha.”


“Kalian seperti sedang balapan tiga kaki.”


“Apakah kami menghalangi satu sama lain?” tanya Michael.


“Tidak. Kalian malah saling ketergantungan. Jika salah satu bertahan dengan baik saat yang lain tersandung, kalian tak akan jatuh bersamaan.”


“Cobalah tetap bertahan. Siapa tahu? Marco mungkin jadi penolongmu nantinya.”


“Aku pikir Marco sudah melupakan semuanya. Dia tak pernah membicarakan kejadian itu. Aku pikir dia sudah melupakannya.”


Michael sangat yakin bahwa Marco sudah melupakan tentang kupu-kupu.


Marco juga sangat tak menyukai kupu-kupu, karena ibunya terbunuh oleh seorang psikopat wanita yang saat membunuh ibunya, ia memakai bros kupu-kupu di bajunya.


“Itu yang ingin kau yakini. Kebanyakan penderita autisme memiliki daya ingat yang sangat baik.”


“Namun, terkadang mereka menghindari perasaan mereka, atau mengungkapkannya dengan cara yang berbeda dari kita.”


“Menghindar?” tanya Michael.


“Jangan sampai kau menghindar, tapi hadapilah. Cepat mulai bekerja.”


“Dengan sedikit ancaman dariku, pria yang kau pukul saat itu telah mencabut tuntutannya.”


“Kau sudah diskors beberapa hari. Itu lebih dari cukup untuk hukumanmu, walau mungkin aku menganggapnya hanya pembelaan diri.”


Sepertinya direktur akan mempekerjakan Michael lagi di RSJ OLDER.

__ADS_1


“Akan tetapi…”


“Sudahlah. Penggantimu tak bisa bekerja dengan baik. Aku hanya ingin kau bekerja kembali.”


__ADS_2