
Ibu kandung Ella selalu menyanyikan lagu itu saat masih ada.
Michael pun masih bingung dengan siapa yang dimaksud oleh Roy.
Waktu istirahat para perawat pun tiba.
Terlihat Ella dan Marco yang mengunjungi rumah sakit, untuk mengajak Michael makan ramen di restoran jepang.
Mereka bertiga pun berangkat bersama ke restoran yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit.
Sesampainya mereka di restoran dan pesanan telah siap,
“Ini ramennya. Ada isian cabai dan kerang. Kuahnya enak sekali.”
Marco telah siap memegang sumpit dan langsung memakan ramen yang telah disajikan.
“Kenapa harus pergi sejauh ini untuk makan ramen?” tanya Ella.
“Kami sering ke sini bersama Ibu, karena kami suka ramen di sini,” jawab Michael.
“Aku mau makan tiap hari, Ibu. Aku mau makan tiap hari.”
Marco terus mengoceh walau ia sedang makan.
“Pantas saja. Suasananya seperti tempat bersejarah.”
“Makanlah sebelum dingin. Ramen sangat nikmat jika masih panas.”
Michael pun mulai mengambil sumpit dan memakan ramen, begitupun dengan Ella.
Saat hendak memakan ramen, Michael kembali teringat pada ibunya dahulu, saat mereka makan bersama di restoran itu.
Raut wajah Michael pun berubah seketika dan terlihat seperti akan menangis.
__ADS_1
Ella yang melihat raut wajah Michael berubah pun bertanya.
“Kenapa wajahmu? Apa ramennya tak enak?”
“Tak apa. Ini sangat enak.”
“Sungguh?”
Saat Ella mulai memakan ramennya,
“Sialan! Panas! Pedas sekali ini!”
Ella pun mengambil timun untuk meredakan itu.
Michael hanya tersenyum, saat melihat Ella yang kepedasan.
“Capcay. Capcay. Capcay membuatmu ketagihan. Jika dimakan, menghasilkan endorfin dan bisa mengurangi stres. Namun, ini bisa menyebabkan diare. Lubang pantatmu akan sakit sekali.”
Setelah mereka menghabiskan makanan dan akan kembali pulang,
*BYURRR
Hujan turun membasahi sekitar restoran itu.
Untungnya, Mereka menyiapkan payung sebelum berangkat.
“Dingin sekali.”
“Terimakasih. Kami akan kembali lagi nanti.”
Marco mulai membereskan barangnya dan bergegas keluar.
Mereka hanya membawa 2 payung, satu payung untuk Ella sendiri, dan satu lainnya digunakan bersama oleh Michael dan Marco.
__ADS_1
Michael pun mulai membuka payungnya dan menyusul Marco yang telah berjalan keluar dahulu.
“Kak, kau kehujanan!”
“Hujan. Turun hujan. Enak sekali, bukan? Waaah. Langitnya cerah, tapi turun hujan. Kenapa turun hujan? Deras sekali. Aku sangat senang.”
“Pelan-pelan, Kak. Kau bisa terpeleset.”
“Capcay membuatmu ketagihan. Bukan begitu? Sudah lama aku tak makan banyak. Kenapa turun hujan. Hujan deras. Sepertinya di sana juga hujan deras.”
Marco terus mengoceh sambil mengulurkan tangannya mengambil air hujan yang menetes.
Ella yang masih berdiri di depan pintu pun sangat iri melihat dua kakak adik yang sangat harmonis itu.
Ella mulai membuka payung, lalu menyusul mereka.
“Jangan tinggalkan aku! Tunggu!”
“Capcay membuatmu ketagihan. Penulis Ella menghabiskannya karena enak. Perutmu akan sakit jika tak tahan. Pernah mengalaminya? Sangatlah sakit.”
Michael pun mengantar Marco ke halte, untuk menuju ke restoran Jim.
Sesampainya Marco menaiki bus, Ella dan Marco pergi bersama tanpa ada yang membebani mereka berdua.
Ella pun menggandeng tangan Michael dan mengajaknya untuk minum kopi bersama.
“Ayo minum kopi denganku.”
“Minum sendiri saja. Aku harus kembali ke rumah sakit.”
“Tidak. Kau harus ikut denganku. Sepuluh menit saja.”
Saat Michael akan melepas tangannya, Ella kembali menggandeng tangan Michael dan membawanya menuju kedai kopi terdekat.
__ADS_1