ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Wanita Menyukai Pria Humoris.


__ADS_3

“Aku sangat serius. Kenapa tidak? Kondisi Jack juga jauh membaik setelah kejadian yang menimpanya tempo hari. Aku hanya perlu menghukum orang yang memukul perawat kita.”


“Baiklah. Terserah kau saja, Pak. Bukan aku yang menjadikanmu licik, kan?”


Rose bergegas berdiri dan meninggalkan ruangan direktur.


Di lobi rumah sakit, terlihat Marco yang sudah berada disana, dan bersiap untuk memulai melukis, di dinding yang telah disebutkan oleh direktur tempo hari.


Marco berjongkok di depan dinding sambil melihat foto pemandangan luar rumah sakit dari ponselnya, dan merencanakan untuk memulai dari bagian mana.


“Di bagian atas ada langit. Ombak. Laut. Di sini laut. Di bagian tengah, ada rumah sakit, lalu ada ayunan di bawah pohon dan..”


Marco terus bergumam sendirian dan menunjuk-nunjuk dinding dengan kuas yang sedang dipegangnya.


Saat Marco sibuk sendiri dengan itu, Ella datang dan melihat apa yang sedang dilakukan Marco.


“Apa ini? Apa hanya orang autis yang bisa melihatnya?” gumam Ella sendirian.


Ella pun berjalan mendekat ke belakang Marco yang sedang duduk berjongkok di depan dinding.


“Apa ini?” tanya Ella.


“Ini.. Laut. Ini laut,” jawab Marco yang masih tak melihat Ella.


“Apa kau mengetahui laut?” ucap Marco yang kemudian menoleh ke Ella yang sedang berdiri di belakangnya.


Marco sangat kaget saat melihat Ella yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

__ADS_1


“Hai, Kak Marco. Akhirnya kita bisa bertemu,” sapa Ella dengan senyuman manisnya.


“Astaga. Bagaimana ini? Aku bertemu Penulis Ella.”


Marco masih tak menyangka ia bisa bertemu dengan Ella disana.


Ella pun mengajak Marco untuk duduk di sofa yang ada di lobi.


Disana, Marco mengeluarkan ponsel jadul miliknya, lalu mengajak Ella untuk berfoto bersama.


Ella pun hanya mengangguk dan setuju untuk berfoto bersama.


“Lihat ke arah kamera. Satu, dua, tiga.”


*CREEK


*CREEK


Marco terus mengambil foto sebanyak mungkin, saat dia bersama Ella.


Saat mereka berdua tengah asyik berfoto bersama, Jane pun datang dan menyapa Marco.


“Kak, Marco!!”


“Astaga. Sudah selesai.”


Marco kembali menurunkan ponselnya, lalu melihat hasil dari jepretan, tanpa menghiraukan Jane yang memanggilnya.

__ADS_1


Jane pun berjalan mendekati mereka berdua, lalu bertanya pada Ella,


“Apa kau datang kemari karena ditelepon?”


Ella pun memalingkan wajahnya saat melihat Jane datang dan,


“Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk berpura-pura saling tak mengenal?”


“Telepon apa?” tanya Ella.


“Maksudku. Kau tak mengajar hari ini, jadi mengapa kau datang kemari?”


“Aku datang untuk mengajak Roy jalan-jalan. Seseorang marah padaku, karena aku tak menepati janji. Aku mau meredakan kemarahannya, dan melakukan jumpa dengar penggemar gratis.”


Ella melihat Michael yang masih melihat hasil jepretan di ponsel jadul miliknya.


“Benar. Gratis. Gratis. Aku tahu itu. Jika pesan pizza ukuran penuh, akan mendapat karikatur gratis,” tambah Marco.


“Astaga. Apa maksudmu? Konyol sekali.”


Ella pun sebenarnya tak tahan dengan sikap Marco. Jika bukan karena ingin mendekati Michael, Ella pun tak akan sudi untuk berfoto dengan orang autis seperti Marco.


“Wanita sangat menyukai pria humoris. Astaga! Aku bersama penulis Ella.”


Marco kembali bergumam sendiri karena merasa sangat senang bisa berfoto dan bertemu dengan Ella.


“Baiklah, kalau begitu,” ucap Jane yang kemudian pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Saat Jane sudah pergi, Ella mengajak Michael untuk bermain di taman rumah sakit.


__ADS_2