
Saat akan mengambil kelinci, Ibu Jane menarik kelinci agar Marco mau keluar dari sana.
“Keluarlah. Kalau kau keluar, kuberikan kau ini. Aku akan membuatkanmu kura-kura atau kelinci dari lobak.”
Tetap saja Marco lebih memilih untuk tetap berada di bawah meja daripada boneka kelinci.
“Ya ampun. Michael sedang menunggumu di depan. Kau mau bermalam disini sendirian?”
“Jika kau pergi, aku bisa membersihkan tempat ini, dan pulang lebih cepat. Marco!”
Marco malah memalingkan wajahnya dan membalikkan posisinya menghadap ke tembok.
“Ayo keluar. Ayo cepat pulang ke rumah.”
Ibu Jane menarik tas yang dibawa Marco, agar ia mau keluar dari sana.
“Aku tak mau.”
“Ayo cepat keluar!”
*BUUKK!!!
“Aduhh!! Astaga Pinggangku..”
Marco melepas tas yang ia bawa, yang menyebabkan Ibu Jane jatuh ke belakang.
Ibu Jane bergegas pergi dari sana, lalu menemui Michael yang sudah menunggu di depan ruang dapur.
__ADS_1
“Tante. Dimana Marco?” tanya Michael.
“Aku akan mengantarnya pulang. Kau pulang saja dahulu. Ini.”
Ibu Jane memberikan tas Marco yang berhasil didapatkannya.
“Aku minta maaf jika telah banyak merepotkanmu, Tante. Mohon bantuanmu.”
“Tak perlu meminta maaf, Nak. Pergilah. Jangan makan malam dahulu. Aku akan membawakanmu tumis daging sapi.”
“Baiklah. Aku pamit dulu.”
Michael pun pergi meninggalkan rumah sakit dan berjalan menuju halte bus.
Di tengah-tengah perjalanan, Michael melihat ada seorang wanita yang berjalan sendirian dari kaca jendela bus.
Saat bus melewati wanita yang sedang berjalan sendirian, Michael membuka kaca jendela bus dan melihat wajah wanita itu.
Ella berjalan kaki semenjak ia pergi dari rumah sakit hingga jalan raya, tanpa mobilnya.
Michael pun berniat ingin mengajak Ella untuk menaiki bus bersama.
Akan tetapi, ia masih gengsi dan malu, telah memarahi Ella di belakang rumah sakit.
Michael pun kembali menutup jendela, saat bus sudah jauh berjalan jauh dari posisi Ella yang sedang berjalan.
Sore menjelang petang pun tiba. Begitupun Michael yang baru sampai ke rumah.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Michael membereskan barang-barang Marco yang berserakan di lantai kamar, dan tak sengaja ia melihat buku baru Ella yang dilarang beredar.
‘Kisah Hidup Zombie’
Michael pun penasaran dengan cerita dari dongeng itu, lalu membuka dan membacanya.
“Di sebuah desa kecil, lahirlah seorang anak laki-laki. Dia memiliki kulit yang pucat dan mata yang besar.”
“Saat anak itu tumbuh besar, sang ibu segera menyadari bahwa anak laki-laki itu tak memiliki perasaan.”
“Dia hanya memiliki nafsu makan, seperti zombie. Sang ibu mengurung anaknya di bawah tanah untuk menghindari penduduk desa.”
“Setiap malam, sang ibu memberinya makan dengan hewan ternak yang dicurinya.”
“Hari ini, dia mencuri ayam. Hari esoknya, dia mencuri babi. Dia melakukan itu selama bertahun-tahun.”
“Hingga suatu hari, wabah menyebar membuat semua hewan ternak mati. Banyak orang meninggal.”
“Semua orang yang selamat pergi meninggalkan desa itu. Sang ibu tak bisa meninggalkan anaknya sendirian.”
“Demi meredakan rasa lapar anaknya, sang ibu memberikan salah satu kakinya, kemudian salah satu tangannya.”
“Setelah kaki dan tangannya, hingga hanya tubuhnya yang tersisa.”
“Sang ibu memeluk anak itu untuk terakhir kalinya, dan memberikan sisa tubuhnya.”
“Dengan kedua tangannya, anak itu memeluk erat tubuh ibunya, dan berbicara untuk pertama kalinya.”
__ADS_1
“Ibu.. Kau hangat sekali.”
Seketika Michael menangis meneteskan air matanya. Akhirnya, Michael dapat mengambil kesimpulan dibalik cerita yang kejam itu.