
Sebelum Ella keluar, Michael menahan tangan Ella, agar tak pergi.
Mereka berdua pun berbicara di balkon, depan kamar Ella.
“Mau bepergian besok?” tanya Michael.
“Apa kau tadi bersikap berlebihan hanya untuk bermain sehari?”
“Bagiku sehari sudah cukup, Ella. Satu hari itu adalah pelarian yang selalu kuimpikan.”
“Sial! Menyebalkan sekali.”
Ella malah mengumpat saat mendengar ucapan Michael.
“Mau bepergian besok?” tanya Michael kembali.
“Terkadang, kau lebih mirip pawang dibanding perawat,” ucap Ella.
“Perawat?” tanya Michael.
“Aku merasa kau menjinakkan ku, Michael.”
“Hhhh. Bagiku malah sebaliknya. Aku terus melakukan hal-hal yang tak biasanya karena dirimu.”
“Saat aku meninju wajah pria itu dengan keras, aku tak bisa mendengar, atau melihat apa pun. Aku merasa harus meretakkan tengkorak pria yang menamparmu itu.”
“Aku pasti sudah gila. Aku tak bisa menahan amarahku.”
Michael mendekati Ella dan menyandar di pagar balkon.
“Kau tak gila, Michael. Kau sangat keren. Kau pria terkeren yang pernah kutemui.”
Kepala Michael pun mulai mendekati Ella, seperti akan mencium bibir Ella.
Begitupun Ella yang menyadari itu dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
__ADS_1
Sebelum Ella dapat ciuman dari Michael,
*NGAKKK!!!
Suara hewan di hutan yang keras pun menyadarkan Michael.
“Ehmm. Kalau begitu, apa kau mau berangkat besok pagi-pagi?”
Michael tersadar sebelum dapat mencium Ella, lalu mengalihkan pembicaraan.
“Ya. Baiklah.”
“Selamat malam. Aku akan tidur terlebih dahulu.”
Michael pun pergi meninggalkan Ella yang masih termenung di balkon, karena tak mendapat ciuman dari Michael.
“Rusa sialan! Awas kau! Akan kupelintir lehernya sampai mati, jika aku menemukannya!”
*NGAKKK!!
“Diam! Dasar rusa sialan! HAAAAAA!!!”
Ella kembali memaki dan meneriaki rusa itu.
***
Di rumah ibu Jane, terlihat Feli dan Jaen yang sedang tidur. Jane tidur di ranjang, sedangkan Feli tidur di kasur lantai.
Saat Jane terbangun dari tidurnya dan akan keluar dari kamar,
“Jane. Mau kemana?”
Feli terbangun dari tidurnya, saat Jane membuka pintu.
Jane pun mengajak Feli untuk duduk dan mengobrol bersama di balkon atap rumah.
__ADS_1
Mereka berdua mengambil bir dan camilan, lalu duduk dan mengobrol bersama.
“Feli. Pernahkan cintamu tak berbalas?”
“Tak pernah. Aku tak pernah sebodoh itu, Jane. Buang-buang waktu saja.”
“Benar. Itu membuang waktu,” sambung Jane.
“Kau terlalu baik untuknya.”
“Apa kau tahu siapa yang kusukai?”
“Michael, bukan? Aku mungkin tak peka saat bekerja, tapi untuk masalah percintaan, aku sangat peka,” bisik Feli.
“Mari blak-blakan dan realistis. Kau lebih baik daripada Perawat Michael. Wajahnya saja yang tampan, tapi dia tak punya apa pun.”
“Kae benar, Feli. Dia tak punya apa pun. Sama sekali. Mungkin itu sebabnya, aku merasa mampu mengisi kekosongan hidupnya.”
Jane mulai bercerita dan curhat pada Feli.
“Hahahaha. Ada apa denganku?” ucap Jane yang mulai tersenyum sendiri.
“Aku pasti mabuk. Ayo masuk usai menghabiskan ini semua.”
Jane pun meminum bir di kaleng yang baru dibukanya.
“Menurutku kau lebih cocok dengan pria yang lebih tua, santai, berpikiran terbuka, seperti karakter seorang pebisnis. Pasti ada pria seperti itu di sekitarmu, Jane.”
Jane hanya tersenyum kecil, mendengar ucapan Feli.
Tak disangka, Tom sedang duduk di balik tangga, dan menguping semua pembicaraan Jane dan Feli.
“Hhh. Akhirnya dia bertindak sesuai upahnya.”
Sepertinya Tom menyuruh Feli untuk menjodohkannya pada Jane, karena Tom juga menyukai Jane.
__ADS_1