ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Tunggu, Aku Akan Menjemputnya!


__ADS_3

“Tidak sama sekali?” Ella tak menghiraukan apa yang diucapkan Michael.


“Jika dia mau berhenti, aku akan menjemputnya.”


“Sedikitpun, aku tak masuk sebagai alasan pilihanmu memilihnya?”


“Kau juga harus menghormati kakakku, walau kondisinya buruk.”


“Baiklah. Aku bisa.”


Ella akhirnya menanggapi ucapan Michael.


“Apa ucapanmu bisa dipercaya?”


“Kau mau apa? Apa perlu dicap darah?” Ella malah menantang Michael.


“Bukankah katamu janji seperti tisu bekas ingus?” tanya balik Michael.


Ella pun menatap mata Michael dan,


“Aku akan menepatinya. Karena ini janji kita berdua.”


Ella pun mengajak Marco dan Michael berkeliling di dalam kastelnya yang sangat luas, dan menunjukkan tempat yang akan digunakan untuk Marco membuat ilustrasi.


“Kau bisa bekerja disini.”


Ella membuka pintu ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan itu berisi berbagai macam buku dongeng yang ditulis oleh para penulis yang sudah wafat.


Marco menyukai buku, ia sangat senang ketika masuk dan melihat buku yang tertata rapi di rak.


“Astaga. banyak sekali bukunya! Lantai dua.. Lihatlah. Ada lebih banyak buku disana.”


Marco pun masuk dan mendahului Ella, lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua.


“Hati-hati, Kak. Kau bisa terjatuh.”


Michael memperingatkan kakaknya yang berlari menaiki tangga.

__ADS_1


“Gambarnya besar sekali. Banyak sekali bukunya! Marco suka buku. Marco sangat menyukai semua buku.”


Marco terus bergumam dan berjalan mengelilingi ruangan yang penuh buku itu.


“Jika kakakmu suka buku, kau suka apa, Michael?” tanya Ella.


“Tidak ada yang kusuka.”


“Kakakmu memintaku untuk membelikan mobil kemah, sebagai upahnya. Apa kau suka berpergian?”


“Aku tak pernah bepergian.”


“Sekalipun?”


“Aku hanya ingin berpergian.”


“Ke mana itu?”


“Kemana pun itu. Aku ingin pergi tanpa tujuan,” jawab Michael.


“Kami tak pernah bepergian, tapi sering sekali pindah. Sekitar 17 kali. Ini yang ke-18.”


“Kenapa kalian sering berpindah?” tanya Ella.


 “Ada yang terus mengejarku,” jawab Marco.


“Siapa itu?”


“Kak!”


“Dia terus mengejarku…”


“Sudah cukup, Kak!”


Michael memegang pundak Marco agar tak melanjutkan omongannya.


Sepertinya Marco akan berucap, kupu-kupu lah yang akan terus mengejarnya, kemanapun ia pergi.

__ADS_1


Akan tetapi, Michael dapat mencegah Marco agar tak melanjutkan omongannya, dan didengar oleh Ella.


“Dimana kamar kami?”


Ella pun berjalan dan menunjukkan kamar untuk Michael dan Marco.


“Astaga. Banyak sekali bukunya!”


Ella membawa mereka berdua menuju kamar yang ia pakai saat kecil.


Di kamar itu, terlihat banyak boneka milik Ella dulu, dan kasur yang cukup luas dan sangat empuk.


“Halo! Kau cantik sekali!”


Marco menyapa boneka yang terpajang rapi di atas lemari kecil.


“Astaga. Kamarku cantik sekali.”


Marco melihat sekeliling kamar.


“Ini kamarku saat masih kecil.”


“Apa kau membutuhkan ranjang dan kasur juga?” tanya Ella pada Michael.


“Panggil saja aku, jika kau membutuhkannya.”


Michael pun mulai membereskan baju dan sprei kasur.


*WUTT!!!


Saat Michael mengebaskan sprei, debu dan kapuk bertebangan, yang membuat Michael terbatuk.


“Sprei ini…. Kapan terakhir kali dicuci?”


“Sekitar dua puluh tahun lalu. Inilah barang antik yang sesungguhnya,” jawab Ella.


“Astaga!! Kasurnya sangat besar!”

__ADS_1


Marco berlari dan melompat ke ranjang kasur dan bermain diatas ranjang yang sangat empuk.


“Aku senang sekali! Empuk sekali kasur ini. Empuk sekali. Ini empuk sekali. Apakah ini kasurku, Penulis Ella? Astaga, empuk sekali.”


__ADS_2