ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Sudah Kuduga! Kau Mendatangiku!


__ADS_3

“Astaga. Sudah kuduga kau akan mendatangiku. Sudah lama aku mengamati tulisanmu. Jika diamati, keadaan mental seorang penulis bisa terbaca.”


“Hhhh. Apa sekarang kau juga bisa membaca apa yang akan aku lakukan?”


“Hahahaha. Jangan sentuh aku. Aku tak akan mati sendirian. Aku akan menyeretmu dan Pak Tom.”


Pria itu malah malah menertawakan Ella.


“Kau tahu mengapa orang menyebutku ‘Pengebom Bunuh Diri’?”


“Mungkin karena kau adalah kritikus bajingan yang tak mau mati sendiri, bukan begitu?”


“Hahaha. Jika aku membuka mulut maka karirmu akan tamat, Ella. Kau pasti sangat tahu itu.”


Ella hanya diam dan terlihat seperti merencanakan sesuatu.


“Orang dengan gangguan anti sosial yang tak tahu kepolosan anak kecil, menulis buku dongeng untuk anak-anak.”


“Bagaimana jika fakta itu terungkap? Bukankah kamu akan hancur dan mendadak miskin? Hahahaha.”


Pria itu malah mengancam Ella dengan semua aib yang dimiliki Ella.


Ella diam sejenak dan melihat sekelilingnya. Ia mencari barang apa yang bisa digunakan untuk melukai pria itu.


Ella pun melihat dua buah pulpen yang terletak di jas yang dipakai oleh pria itu.


“Apa yang kau mau? Katakan saja!”


“Hmmm. Aku sudah mulai bosan dengan uang suap ini. Aku berharap, kau bisa lebih baik kepadaku. Menjadi wanita penghiburku misal?”


Ella tersenyum dan menuruni tangga mendekat pada pria itu.

__ADS_1


Ella membelai rambut pria itu dengan tangannya lalu turun ke dada dan mengambil pulpen yang terletak di saku.


“Itu sangat mudah untuk kulakukan. Tapi aku juga….”


Ella membuka tutup pulpen,


“Bisa menyerangmu dengan pulpen ini.”


*WUTT!!!!


“Ooo…. AAAA!!!!


*BUK BUK BUK


Ella mengayunkan pulpen itu ke arah mata pria yang berdiri di depannya.


Walau pena itu tak mengenai mata si pria, kardus berisi uang yang dibawa oleh si pria itu jatuh dan berhamburan.


“Selamat tinggal, brengsek!” gumam Ella.


Michael yang baru datang pun, tak sempat untuk mencegah Ella, dan telah melihat pria yang tadi terjatuh di lantai, tepat bawah tangga.


Michael pun melihat Ella dari bawah dan menggelengkan kepalanya.


Tidak dengan Ella yang malah tersenyum dan melambaikan tangannya pada Michael.


Michael segera memanggil mobil ambulance untuk mengangkut pria itu dari sana.


Ella dan Michael melihat pria itu dibawa dengan mobil ambulance dari lantai dua gedung.


“Dia seharusnya mati. Kenapa orang-orang yang pantas mati malah berumur panjang? Menjijikkan!”

__ADS_1


Ella ngedumel dan berjalan pergi meninggalkan Michael.


“Berhenti!” teriak Michael yang menyusul Ella.


Michael memegang pundak Ella dari belakang.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ella.


“Tarik nafas!” Michael menyuruh Ella mengambil nafas dan menenangkan diri.


“FUHHH!!!” Ella melakukannya dengan terpaksa.


“Astaga. Kau bukan anak kecil. Lebih dalam lagi!”


Ella pun mulai menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.


“Apa yang akan kau….”


“Tutup matamu!”


Michael memotong ucapan Ella, dan Ella pun menuruti Michael untuk memejamkan matanya.


“Jika kau tak bisa menahan diri, silangkan tanganmu seperti ini, lalu tepuk pundakmu secara bergantian.”


Michael mengambil tangan Ella, lalu menaruhnya di pundak secara menyilang, dan menepuk-nepuk pundak Ella.


“Ini akan membuatmu lebih tenang.”


“Apa-apaan ini?”


Ella membuka matanya dan bertanya.

__ADS_1


“Ini metode ‘Butterfly Hug’. Itu digunakan untuk terapi bagi pasien yang mempunyai trauma.”


__ADS_2