ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Adikmu Memberikannya Padaku!


__ADS_3

“Adikmu memberikannya padaku.”


“Tidak.”


“Milikku. Milik Marco.”


Mereka berdua terus berebut dan tak ada yang mau mengalah.


“Itu milikku. Tolong kembalikan.”


“Tidak! Menjauhlah. Ini milikku.”


Ella terus berusaha menghindari Marco yang berusaha merebut boneka.


“AAAAA!!!!”


Marco mulai menjambak rambut Ella hingga Ella berteriak.


Begitupun Ella yang menarik kaos Marco dan mengambil bantal, lalu memukulnya dengan bantal.


Mereka berdua saling tarik menarik boneka, hingga terbelah menjadi dua.


Ella mendapat bagian atas boneka, sedangkan Marco mendapat bagian bawah boneka.


“Mozza milik Marco!”


“Tidak. Milikku!”


Mereka saling jambak dan memukul di kamar itu.


*BRAKK!!!


Michael datang dan melihat mereka berdua yang sudah acak-acakan.


“HENTIKAN!!!!”


Michael meneriaki mereka yang sedang bertengkar merebutkan boneka kecil.


“Mozza milik siapa?”


“Mozza milik siapa?”


Mereka berdua bertanya bersama pada Michael yang baru datang.

__ADS_1


“Mozza milikku. Kau memberikannya padaku semalam.”


“Tidak. Kita tiga bersaudara. Mozza, Michael, dan Marco.”


“Hentikan, sudah. Itu milik kalian.”


“Tidak! Milikku! Mozza milikku!”


Ella tetap kekeh walau bonekanya telah terbelah menjadi dua.


“Berikan itu padaku!”


Michael meminta boneka yang sudah terbelah itu.


“Satu, dua…”


“Kau jahat! Aku benci Penulis Ella!”


Marco memberikan boneka itu pada Michael, lalu masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi.


“Berikan itu padaku!”


“Kau yang memberikannya padaku! Kenapa diambil lagi?”


“Jangan bertengkar dengan Marco. Apa kau tak mau mengalah pada orang yang mempunyai kelainan? Cepat berikan padaku.”


*WUTTT!!!


Ella melempar potongan boneka ke Michael, lalu keluar dari kamar itu.


Michael mendekat ke lemari dan memanggil kakaknya.


“Kak, keluarlah. Ayo ganti baju. Jika tak mau keluar, kubuka pintunya.”


Marco pun juga belum membuka pintunya.


Michael pun duduk di depan lemari, tempat Marco bersembunyi.


“Mozza tak bisa menangkap kupu-kupu, bukan?”


Marco membuka pintu lemari dan,


“Percuma. Mozza tak bisa menangkap kupu-kupu.”

__ADS_1


“Benar, bukan? Kau menyimpannya dalam laci dan melupakannya, jadi, kuberikan pada Penulis Ella. Maaf karena aku tak meminta izinmu.”


“Meskipun begitu, saat kau tak membutuhkan sesuatu, bukankah lebih baik diberikan kepada yang butuh?”


“Diberikan?” tanya Marco.


“Benar. Diberikan.”


“Namun, jika kuberikan kepada yang membutuhkan, aku tak mempunyai apa-apa? Apa yang kupunya? Apa yang tersisa untukku?” ucap Marco.


“Kau akan selalu memiliki aku, Kak. Bukan Mozza, tapi Michael.”


Marco pun diam dan memikirkan ucapan Michael.


“Benar. Penulis Ella perlu Mozza karena seorang diri.”


“Jadi, kau akan memberikan ini padanya, bukan?”


“Aku hanya berikan Mozza, bukan Michael. Bukan Michael, tapi Mozza”


“Benar. Bukan Michael yang kau berikan, tapi Mozza.”


Michael pun meninggalkan kakaknya dan menyambung kembali boneka itu di ruang keluarga.


Saat Michael membenarkan, Ella datang dari kamar menghampirinya.


“Hei! Aku sulit tidur karena kesal sekali. Apa salahku?”


Ella terus ngedumel dan uring-uringan gara-gara boneka kecil itu.


“Marco sudah memberikannya untukmu. Mozza sekarang milikmu.”


“Hhhhh. Memberi? Dari awal itu sudah milikku.”


Ella pun duduk disamping Michael yang sedang menyambung boneka.


“Jangan melawan kakakku. Apa kau tak bisa menahannya, kau sedang menghadapi orang yang mempunyai kelainan. Tahan emosimu.”


“Jangan perintah aku!”


“Ini bukan perintah, Ella, tapi permintaan.”


“Astaga. Bagaimana caranya menahan emosi? Kau pandai menahan diri, bukan? Kau menahannya saat aku menusukmu dengan pisau.”

__ADS_1


“Begitu juga saat seseorang menjambak rambut kakakmu di acara peluncuran buku baruku kala itu.”


__ADS_2