ELLA & MICHAEL

ELLA & MICHAEL
Kamu Tidak Sedekat Itu, Jane!


__ADS_3

“Kami tidak sedekat itu, Jane. Aku hanya sempat makan sekali di rumah. Jadi, aku akan makan dengan kakakku.”


“Benar juga. Baiklah. Mari segera masuk.”


Mereka berdua pun berjalan memasuki rumah Jane.


Kini Michael, Marco dan juga Jim, tinggal bersama di rumah Jane.


Walaupun rumah Jane tak begitu mewah, tapi rumah Jane memiliki ukuran yang cukup luas, sehingga memungkinkan banyak orang untuk tinggal disana.


Saat Michael dan Jane telah kembali ke rumah, Jim telah menyiapkan beberapa makanan yang telah dia buat di meja makan.


Mereka akan menyantap makan malam bersama di rumah Jane.


Terlihat juga Marco yang sudah siap memegang sumpit, dan tak sabar untuk memakan makanan yang ada di depannya.


Setelah membereskan diri, Michael dan Jane pun bergabung bersama mereka untuk menyantap makanan yang ada.


“Baiklah. Mari kita makan. Daging babi panggang. Pasti enak sekali rasanya.”


Jim mulai mengambil beberapa potong daging babi, lalu memanggangnya.


“Sayang. Buka mulutmu. AAAAAAP.”


Jim mengambil potongan daging babi yang telah matang, lalu membalutnya dengan daun sawi dan menyuapkannya untuk Michael.

__ADS_1


Michael hanya tersenyum, dan membuka mulutnya, menerima suapan dari Jim.


Jane hanya tersenyum yang melihat keakraban dua orang sahabat itu.


“Kakiku lemas sekali. Aduhh.”


Ibu Jane datang dari dapur membawa beberapa makanan lagi untuk makan malam.


“Astaga, Tante.” 


“Ambilah ini. Hati-hati, masih sangat panas supnya.”


Jim bergegas membantu ibu Jane membawa sup dan beberapa makanan lainnya ke meja makan.


“Sup pasta kedelai hitam. Wah, ini pasti enak sekali.” Jim yang sudah mencium aroma sedap dari Sup itu tak sabar untuk memakannya.


Mereka pun mulai mengambil nasi dan lauk di piring mereka masing-masing.


“Astaga. Aku senang sekali melihat ada banyak orang di rumahku. Katanya, keberuntunganku akan bertambah setelah berusia 60 tahun. Ternyata itu benar.”


“Tiga orang lelaki datang dan tinggal di rumah tua ini. Aku bahkan menerima uang sewa tiap bulannya. Aku benar-benar sangat beruntung sekali. Hahahaha.”


“Makanlah yang banyak. Aku tahu kalian semua sudah lapar.”


Ibu Jane mulai curhat karena senang dengan kehadiran Michael dan Jim.

__ADS_1


“Tapi tante. Kamarku ada di basement dan sinar matahari yang masuk hanya sedikit. Tapi kenapa uang sewanya sama dengan kamar yang ada di lantai dua ini?”


Jim mulai nyeletuk dan protes pada ibu Jane.


“Astaga. Kamarmu yang paling luas di rumah ini. Bahkan lebih luas dibanding kamarku sendiri.” ucap Ibu Jane yang mengacungkan sendok untuk memukul kepala Jim.


“Berikan aku piringmu, Nak.”


Ibu Jane melihat piring Michael yang mengambil nasi sangat sedikit.


“Ini, Tante.”


Michael memberikan pringnya kepada Ibu Jane.


“Ini. Aku akan menambahkan lagi nasi untukmu.”


Ibu Jane menambahkan dua centong nasi di piring Michael.


“Ini terlalu banyak untukku, Tante.” ucap Michael.


“Tak apa, Nak. Obat yang harus aku minum ada banyak, jadi aku tak bisa makan banyak. Kau makan sedikit sekali. Pantas saja kau kurus.”


Michael hanya tersenyum, lalu mulai menyendok nasi dan beberapa lauk yang telah diambilnya.


“Ibu. Jangan memaksanya untuk makan terus dengan porsi banyak. Itu tak baik untuk pencernaannya.” Jane berkata pada ibunya yang terus memaksa Michael untuk makan.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya tertawa bersama dan menghabiskan makanan di malam itu.


__ADS_2