Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 10. Omen


__ADS_3

Ben baru selesai lari di treadmill. Tiga puluh menit saja, baru sekali ini dia sempat olahraga lagi. Setelah tiga minggu yang begitu sibuk, masalah dengan subkontraktor perlahan mulai terurai dan dia mulai membereskan satu demi satu. Jadi akhir minggu ini dia boleh sedikit menikmati waktu pribadinya.


Jam 6 pagi... Ben bersandar di railing teras atas rumahnya, keringat masih mengucur, ada teh botol favorit di tangan.


"Pak... saya masuk ke dalam rumah ya... mau ambil sampah..."


Om Denny berkata setengah teriak dari sisi jalan.


"Silahkan..."


Ben masih bersandar kini bertumpu di dua tangannya, teh botol di tangan sudah habis, botol kosong sudah dilempar ke tempat sampah. Matanya menangkap sosok perempuan, mungkin mama si Yica dan si cowok yang melayani dia di ruko itu minggu kemaren.


Mereka naik-turun dua anak tangga di pintu samping ruko, bolak balik ke mobil yang diparkir di lorong sempit itu. Mereka sedang menurunkan kantong-kantong besar dan dus-dus besar. Perempuan itu terlihat sangat cekatan dan biasa mengangkat barang bervolume besar. Mata Benaya tanpa sadar terus mengikuti gerakan si Keke.


Si Josh benar, wanita dengan tubuh yang tidak terlalu besar, masih lebih tinggi Rebbeca, sanggup membawa beban yang ukuran besar. Tak lama pemandangannya berganti, mobil pick up itu telah mundur keluar dari lorong sempit itu, kini lengang lagi.


Merasa tak ada lagi yang menarik untuk dilihat, Ben turun ke bawah membawa tempat sampah.


"Om... ini sekalian..."


"Iya pak... nanti jam 8 ada yang akan datang bersihkan rumah..."


"Tidak perlu, nanti saya bersihkan sendiri. Hari ini saya tidak ada kegiatan..."


"Baik pak... permisi..."


Om Denny berjalan keluar. Ben naik ke kamarnya lagi, mengambil baju kotor di keranjang, kembali turun di lantai bawah, mengambil kaos kaki di tiga sepatunya lalu ke ruang cuci. Dia telah terbiasa melakukan itu sendiri, cuci dan setrika baju dan membersihkan rumah bukan lagi perkara sulit sejak dia tinggal sendiri di apartemen. Hanya beberapa baju khusus yang butuh dry clean yang dia bawa ke laundry.


Satu jam setengah, kurang lebih, Benaya mencuci pakaiannya dan bersih-bersih seluruh rumah lantai atas-bawah. Waktu hendak melepaskan dahaganya, Ben melihat air di dispenser sudah habis, demikian juga teh botol favoritnya.


Baru berniat mencari om Denny, dia teringat sesuatu, dirinya terlalu manja akhir-akhir ini, sejak datang di sini, karena ada 3 bawahan yang siap melakukan apa yang dia suruh termasuk menyangkut hal-hal pribadi. Bahkan ada dua cewek yang siap melayani kalau dia mau, tapi jangan ditanya lagi, dia gak suka, mereka jadi takut menawarkan bantuan. Untungnya Fransien dan Hapsari bukan seperti Ferna yang gigih mencari perhatian. Mereka justru takut ngomong jika tidak perlu --sadisss pak boss Ben--


Benaya mengambil dompet kemudian mengambil galon air, tukar sendiri aja, lagian dekat aja, cuma di ruko depan. Hanya dengan celana pendek jeans serta kaos singlet putih polos Ben menuju ruko itu.


Di depan ruko, pintu hanya terbuka sedikit pas muat badannya, Ben masuk aja...


"Halo... siang..."


Tidak ada sahutan....


"Halo...."


"Hayo... hayo..."


Tidak ada yang muncul, tapi suara anak kecil itu kini akrab di telinganya.


"Yica... Yi...ca..."


Ben memanggil si cewek kecil bermata sipit sambil bersandar di lemari display, galon air sudah dia letakkan di lantai. Anak itu muncul kemudian...


"Apa...? Yica matan tati duyu (Lisya makan kentucky dulu) ..."


Eh... anak itu masuk lagi.


"Halo... siang..."

__ADS_1


Samar terdengar percakapan...


"Ada oyang mami Thethe..."


"Siapa?"


"Om... mau beyi ayiy mimum (beli air minum)..."


"Kita belum buka kan..."


"Ada citu diya... (ada di situ dia)..."


Si Lisya keluar lagi, di tangannya ada potongan paha ayam, mulutnya sedang mengunyah...


"Om mawbbby knyk ayiy...."


"Eh... habisin dulu makanan di mulut baru ngomong Yica..."


Benaya tersenyum pada anak kecil itu yang berusaha mengatakan sesuatu dengan mulut penuh. Beberapa saat kemudian...


"Om beyi ayiy mimum?"


Ben mulai mengerti maksud anak bermata sipit di hadapannya.


"Iya, mau beli air minum..."


"Om capa?"


Benaya tidak mengerti....


"Ini Yica..." Lisya menepuk dadanya... "Om capa?"


"Om namanya Benaya..."


"Beyabeya... om beyabeya..."


"Bukan... Be..na..ya..."


"Beyabeya..."


Ben tertawa... lucu sekali anak ini, chadelnya merubah total nama bagus pemberian papa Fredrik.


"Benaya, sayang... nanti opa Fredrik marah loh nama om diganti sama Yica..."


"Om Beyabeya...tan? (kan)..."


Astaga Yica.... 🙄


"Denger ya... Benaya Petra Manoppo, Benaya Manoppo..."


Si Beyabeya tak rela namanya diubah Lisya seenaknya kemudian menyebutkan nama lengkapnya. Kok om Beya-beya mau ladeni si Yica ya?


"Beya popo..."


"Oh my goodness... udah... Yica panggil om Ben aja... om Ben...

__ADS_1


"Omen..."


"Ya udah... itu lebih baik..."


Di pintu, langkah Keke tertahan mendengar nama itu, benarkah lelaki di depannya ini Benaya Petra Manoppo yang dia kenal? Keke terlanjur dilihat oleh Benaya yang masih tertawa.


"Eh... Saya mau beli air minum..."


Benaya hanya melirik Keke sekilas, Keke mendekat dengan ragu, dia mengenali pria tinggi di depannya.


"Air mineral? Yang mana?"


"Galon... ini galonnya..."


Ben memindahkan galon lebih ke dalam dekat di kaki Keke.


"Rp. 22.500."


"Sama teh botol 10..."


"Dingin atau biasa?"


"Dingin..."


Keke mengambil teh kemasan botol yang dimaksud dari lemari pendingin, memasukkan ke dalam kantong plastik sedang berwarna putih. Dia melirik sedikit, menemukan Ben menatap ke arah lain, tak sedetikpun melihat ke wajahnya.


"Totalnya Rp. 102.500. Galonnya diangkat sendiri."


"Baik... ini... makasih..." Benaya meletakkan uang Rp. 120.000 di atas lemari display.


"Kembaliannya..."


"Simpan aja..."


"Eh...??"


Benaya sudah keluar dari pintu, meninggalkan Keke yang menatap tak percaya bertemu Benaya lagi. Lebih tak percaya Benaya tak mengenalinya. Hahh bagaimana bisa kenal lagi, melirikpun tidak. Tapi mungkin 7 tahun berpengaruh pada ingatan seseorang, dia lupa.


Tapi Keke masih ingat teriakan Benaya terakhir kali, "Kamu cewek yang sangat-sangat merepotkan, jangan lagi mengganggu mamaku, mengerti? Jangan pernah lagi menginap di rumahku!!!!"


Renske saat remaja, kedua papi mami sering tugas luar kota, bila dua-duanya pergi bersamaan maka dia dititipkan di rumah om Fredrik dan tante Thalitha, sahabat karib papi Reinhart dan mami Vosye. Benaya tidak suka itu karena jika Renske menginap itu berarti dia yang harus mengantar dan menjemput Renske ke sekolah, Ben juga yang harus mengantar pulang saat papi mami kembali dari luar kota, jauh memang jarak rumah mereka. Benaya sangat terganggu karena ada berapa kali Ben harus bolos kuliah gara-gara mengantar Renske pulang.


Sejak Ben berteriak padanya dengan marah, sejak itu Renske enggan dititipkan lagi, sampai akhirnya kejadian tragis menimpa dirinya. Apa yang ditakutkan mami Vosye soal Marlon yang sering mengganggu Renske kejadian akhirnya. Renske selamat, tapi mami dan papi tercinta berpulang.


Keke sedih... melihat Benaya lagi membuat dia teringat kedua orang tuanya. Tak apa jika Benaya tidak mengingatnya... itu lebih baik. Tapi kenapa dia ada di sini? Lalu di mana dia tinggal? Dengan pakaian rumahan seperti tadi berarti dia tinggal dekat sini... dia tahu di sini jual air minum galon dari mana? Pintu hanya terbuka sedikit kan? Lalu dia sepertinya pernah bertemu Lisya?...


Keke nelangsaaa... Tak suka dengan fakta ada Benaya di sekitar sini...


.


Keke sayang... Benaya itu paling suka masakan kamu, tau gak?


.


Vote, Like, Comment, Favourite.... ya ya...

__ADS_1


Blessing....


✴✴✴


__ADS_2