Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 74. Sebelum Menikah


__ADS_3

Keke baru selesai membayar di kasir di outlet sebuah brand fashion dalam negeri yang menjadi langganannya, Keke suka cutting brand ini yang simple tapi unik dan harganya sangat terjangkau. Mereka ada di sebuah pusat perbelanjaan, sudah selesai makan siang, dan Keke membeli banyak pakaian untuk dirinya dan anak-anak, untuk papa juga Rommel dan paling banyak untuk si mama Virda, dia prihatin dengan pakaian yang mama sering gunakan saat berkunjung. Dia juga membeli beberapa keperluan untuk digunakan saat acara pesta nanti. Dua minggu lagi hari H pernikahannya dengan Ben, dan mungkin minggu ini saja dia masih bebas pergi-pergi.


Anak-anak sedang bersama papa Ramly menikmati ice cream monas di sebuah gerai fastfood di lantai yang sama mall ini tapi agak jauh dari tempat mereka belanja.


Mama Virda menurunkan handphone dari telinganya dengan muka masam. Kekesalan sangat kentara di wajahnya yang putih. Mama kemudian berjalan mendekati Keke.


“Sudah selesai Ke?”


“Udah ma… mama perlu apa lagi?”


“Tidak ada, Ike sudah membelikan mama banyak barang, cukup Ke…”


“Gak apa-apa, ma… baru sekarang juga Ike beli sesuatu buat mama…”


“Ike mau cari apa lagi sekarang?”


“Kita cari papa sama anak-anak aja dulu, mau taroh kantong-kantong ini di trolly…”


“Sini mama yang bawa sebahagian, mama langsung ke parkiran aja…”


Keke kemudian memperhatikan raut wajah mama yang ternyata sudah berubah. Mama baru menerima telpon, pasti ada sesuatu. Mama datang lagi ke Manado kemarin hari, dua minggu lalu mama datang, dan sekarang mama datang lagi. Keke tahu kebiasaan mama dulu akan datang menginap bila ada masalah di rumahnya. Keke tahu mama masih melawan rasa sungkan pada papa Ramly, tapi tidak ada tempat lain untuk mama datangi sejauh yang Keke tahu. Mama tidak punya saudara dekat di Manado, semua keluarga dekat mama sudah lama menetap di Jakarta.


“Ma, Ike masih perlu sesuatu…”


“Mama tunggu di mobil. Mama minta kunci mobilnya…”


Keke melihat ke mata mama Virda. Mama tadi antusias membantu Keke, memilihkan kebutuhannya, sekarang…


“Ada apa ma…?”


“Tidak ada apa-apa Ike…”


Mama mengambil beberapa kantong plastik berisi belanjaan di tangan Keke saat Keke merogoh kunci di tas selempangnya, mendapati mama yang bersikeras ke mobil sekarang.


“Mama kerepotan nenteng itu semua, ini aja...”


Akhirnya mama Virda membiarkan Keke mengambil 2 kantong lain dari tangannya.


“Ini kunci mobilnya ma…”


“Sudah selesai?”


Suara papa Ramly menyapa, ternyata anak-anak sudah selesai makan ice cream juga. Si Lisya duduk nyaman di trolly besar itu di antara kantong belanjaan mereka. Via dibantu papa mendorong trolly.


“Eh pa… masih pengen cari sesuatu sebenarnya, tapi apa pulang aja ya… nanti aja Ike datang lagi…”


“Iya, pulang aja, si Yica cape katanya…”


“Iya… Yica cape mami, jalan telus dali tadi…”


“Oke kita pulang… ma… sini kantongnya…”


Keke mengulurkan tangan mengambil belanjaan di tangan mama Virda dan meletakkan di trolly, lalu mulai mendorong bersama Via ke arah pintu keluar. Dia merasakan mama tidak nyaman berjalan di sampingnya, ada sesuatu yang mengubah perasaan mama, makanya dia memutuskan pulang saja. Tadi saat belum menerima telpon mama masih tenang-tenang saja.


“Dede turun aja ya…”


“Yica bial di dalam sini, Yica cape kan… mami.”


Di dekat lobby, tiba-tiba mama memisahkan diri, mempercepat langkahnya dan berjalan di antara beberapa stand batik di situ. Keke hanya bisa mengikuti dengan mata. Papa dan anak-anak tak menyadari itu.

__ADS_1


Di rumah, sengaja Keke membawa semua belanjaan di kamarnya, karena mama sekarang sudah jadi sandera anak-anak, harus tidur di kamar mereka, dan pengen ngomong bebas tanpa anak-anak, pengen tahu apa yang menjadi sumber keresahan mama.


“Mama ke kamar Ike ya, bantu Ike beresin belanjaan…”


“Iya… iya. Dede sama Via mandi sendiri ya…”


Mama melepaskan tangan dari Via.


“Yica bobo sebental…”


Lisya merebahkan tubuh gembulnya di atas sofa. Lalu sambil mengangkat kakinya dia bermanja pada sang opa...


“Opa, pijiiit… “


“Eh… Dede…”


Keke memandang si bungsu sambil melebarkan matanya.


“Kaki Yica sakit, tadi di sekolah Yica lompat-lompat olahlaga kata bu gulu…”


“Sini opa pijit, setelah itu Yica mandi…”


Keke menyusul mama masuk kamarnya, beberapa saat kemudian mereka duduk berdua di karpet lalu mulai melepaskan name tag dari pakaian yang mereka beli. Keke memandang mama ingin bertanya tapi masih ragu walau sejak tadi penasaran.


“Ike… mama mau pulang ya, sebentar lagi.”


“Loh?? Mama janji ke anak-anak mau tinggal beberapa hari di sini, masa baru sehari udah mau pulang?”


“Iya sih. Tapi mama lupa, mama ada urusan di sana ternyata.”


“Ada masalah apa sih, ma? Tadi Ike lihat mama kesel, mama juga kayak menghindari seseorang…”


Mama memandang Keke sejenak lalu sibuk menyusun baju-baju baru di karpet, memisahkan milik anak-anak.


Mama menghela napas berat dan melepaskan perlahan, mama bersandar di tempat tidur milik Keke.


“Tadi waktu kita makan di food court ada temannya si Sarah di sana, langsung lapor ke mereka bahkan mengirim video kita lagi makan. Mereka lapor ke om juga, makanya tadi om marah-marah suruh mama pulang… teman Sarah itu yang mama hindari tadi, hampir berpapasan di dekat stand batik…”


“Kenapa om harus marah?”


“Biasa Ike… mereka selalu meracuni om dengan perkataan negatif tentang mama. Tadi saat makan, Ramly ngobrol terus dengan mama kan, mungkin itu isi videonya. Om mengancam mama… mama tidak suka tuduhan om, jadi mama pulang saja…”


“Ma… kenapa pulang? Mama takut? Mama tidak salah kan? Anak-cucu mama dan papa orang yang sama, jadi kemungkinan mama bertemu papa itu ada, masa mereka melarang? Apa tuduhan om itu? Besok aja… nanti Ike yang antar mama pula, Ike jelasin ke om.”


Keke mulai emosi mendengar perkataan mama Virda, gusar dengan keadaan mamanya yang selalu mendapat perlakuan miring dari keluarga suami mama.


“Tidak usah, Ke… mama pulang sekarang, mama naik taxi gelap aja biasanya sampai jam lima sore masih ada…”


“Ma… Ike tahu mama punya masalah di sana, kasih tau Ike ma, Ike gak suka mama tambah menderita di sana. Sebenarnya kalau mama gak ngelarang, Ike udah ngomong langsung ke om, gak rela mama diperlakukan tidak adil. Om lebih berat ke anak-anaknya tapi gak mau terima bantuan Ike, gengsi menggunakan pemberian Ike, aneh kan…”


Mama Virda diam, dia memang belum ingin pulang sekarang ini, dia sengaja pergi lagi dari rumah karena suaminya belum sehat betul sudah mulai bekerja lagi, kasihan katanya sama cucu-cucunya karena uang sudah menipis. Mama Virda melarang si om kerja, dan menyuruh anak sambungnya untuk menggantikan tapi malah dikatain sama anak sambungnya itu..


“Ma… ada masalah apa di sana?”


“Masalah biasa Ike, soal om yang terlalu sayang sama anak-anaknya, omongan mama selalu salah. Mama bosan pendapat mama tidak dipedulikan, mama datang ke sini sehabis bertengkar dengan om… tadi mama dituduh sengaja cari masalah dengan om supaya bisa bertemu dengan Ramly…”


“Jahat banget ma… makanya jangan pulang dulu, nanti Ike yang antar mama sekalian ngomong sama om, Ike serius loh mau minta om lepasin mama kalau om gak bisa perlakukan mama dengan adil dan menghargai mama sebagai istri bukan sekedar seseorang yang mengurus semua keperluan om…”


“Ike, gak baik seperti itu. Ike sebentar lagi menikah, Ike gak maukan... suatu saat keluarga Ben ikut campur masalah kalian berdua kan, terus ngomong pengen misahin kalian berdua. Biarkan mama selesaikan sendiri masalah mama dengan om. Ada alasan mereka menuduh seperti itu karena seperti ada bukti yang membenarkan tuduhan mereka. Sudahlah, itu masalah mama… Ike punya urusan yang lebih penting sekarang, tidak usah memikirkan masalah mama, nanti juga selesai…”

__ADS_1


“Tapi ma… kalau mama mengalah terus, mereka gak akan berubah, mama akan terus diperlakukan tidak adil… si om beneran sayang mama atau gak sih?”


“Mama yang salah sejak awal Ike, mama tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup waktu itu, terlalu manja pada Ramly sehingga jadi sukar untuk bekerja lagi. Mama terlalu berharap bahwa ada seorang suami yang akan memberikan kita nafkah untuk kebutuhan kita. Mama tidak mencari tahu dengan baik calon suami mama waktu itu, bagaimana keluarganya. Mama tidak pernah bertanya padanya sejak awal apakah dia mau membiayai anak-anak mama juga, bahkan mama tidak tahu kalau anak-anaknya tidak setuju papa mereka menikah lagi. Mama kaget ketika menikah kemudian suami mama melarang kalian ikut mama karena ada tiga anaknya sendiri. Mama tidak bisa mundur lagi, karena mama sudah berjanji di hadapan Tuhan waktu itu bahwa itu pernikahan terakhir mama.”


Mama bicara panjang lebar soal keadaannya dulu.


“Ma… kalau tidak bahagia, mengapa harus bertahan?”


“Ike… mama tidak tahu ke depan seperti apa, mama hanya tidak ingin menambah dosa mama lagi. Mama sudah memikirkan semua baik dan buruknya, dan mama memilih bertahan sekarang, mama memilih belajar setia meskipun keadaan terlalu berat untuk mama, mama hanya berharap di kemudian hari mama sempat hidup bahagia sebelum mama meninggal. Dan mama merasakan itu sekarang, mama bahagia karena Ike, Rommel dan anak-anak…”


Keke tak tahu harus menyanggah seperti apa, itu prinsip mama, itu keputusan mama, dia tak mungkin merubah pikiran dan keyakinan mama yang teguh itu.


“Ke… mama pengen tahu sesuatu sejak lama…”


“Apa ma?”


“Kalau Ike menikah, bagaimana nasib anak-anak?”


“Maksud mama?”


“Apa mereka akan ikut Ike?”


“Iya dong… Kak Boni selesai kontrak kerjanya di Singapura, katanya mau menikah dan lanjut bekerja di Hongkong…”


“Boni ngomong begitu? Apa dia tidak ingat anak-anaknya? Keterlaluan dia. Mama menyuruh dia bekerja, tapi bukan mengijinkan dia melepaskan tanggung jawabnya pada anak-anak…”


“Iya… kak Boni ngomong ke Rommel seperti itu. Kak Boni gak pernah mau ngomong sama Ike…”


“Nanti mama bicara sama dia… hari-hari apa dia menelpon ke sini?”


“Udah jarang ma setahun ini. Aku juga udah gak peduli, anak-anak biar sama aku aja, mereka juga udah terbiasa tanpa dia, apalagi si Dede gak kenal malah siapa kak Boni…”


“Ike… itu yang harus serius dibicarakan dengan Ben… apa dia tidak keberatan ada mereka dalam rumah tangga kalian, bahkan mungkin jadi papanya anak-anak…”


“Pasti kak Bens mau, ma… dia deket kok dengan Dede sama Via…”


“Deket sebagai ponakan Ike iya… tapi apa Ben siap menjadi papa mereka? Apa Ben bersedia bertanggung jawab tentang hidup mereka?”


Keke terhenyak, dia tidak pernah memikirkan itu. Keke sudah berniat sejak lama bahwa nak-anak dia yang urus, dia tidak mungkin melepaskan mereka ke tangan Bonita, dia sudah terlanjur melekat dengan dua bocah itu, tapi benar kata mama apa kak Bens punya hati yang sama, apa kak Bens menyetujui niatnya?


“Ike… sebelum menikah, sebelum kalian terikat pernikahan, bertanyalah sebanyak-banyaknya pada Ben tentang semua rencana kalian, supaya Ike tidak menyesali banyak hal seperti mama. Setelah menikah, suka atau tidak suka kita harus menerima siapa suami kita, ada hal-hal yang tidak kita inginkan tentang dia, yang tidak kita ketahui, tetapi kita tidak bisa menolak lagi.”


“Mama hanya membagi pengalaman mama, saling terbukalah dengan Ben. Mama tahu Ike kalau tidak ditanya pasti tidak mau bicara soal perasaan Ike, kalau tidak terdesak pasti Ike diam dan menghindar. Tapi setelah jadi suami istri, banyak kesalahpahaman terjadi karena kita tidak mau bicara. Mama seperti itu dulu, banyak hal yang mama tidak ceritakan dengan Ramly dan mama menyesali itu ribuan kali, kalau saja mama dulu bersikap terbuka, mungkin kami masih bahagia sampai sekarang…”


Keke punya keinginan besar di hatinya, menikah hanya sekali. Tapi ternyata banyak hal yang dapat terjadi dalam pernikahan, sedikit banyak dia mulai memahami mengapa papa dan mama berpisah...


Jadi... tanyakan semua hal sebelum menikah, banyak hal yang perlu disepakati soal finansial, soal anak, soal apa yang dinginkan dan tidak diinginkan dari pasangan... banyak. Karena pernikahan bukan hanya melulu soal cinta, rindu, saling bermanja, afeksi, ataupun sek s...


.


.


Guys...


Mungkin kita akan berakhir tak lama lagi... tapi aku msh menimbang2 sih... 🙈🥴


.


Makasih utk kalian yang setia sejak awal 💚

__ADS_1


.



__ADS_2