Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 75. Jangan Mengulangi


__ADS_3

📱


"Kak Bens…”


“Rens… tumben menelpon…”


“Aku tutup kalau gitu…”


“Eitt… jangan sayang. Ada apa?”


Keke membuang napas, dia harus mulai membiasakan diri memulai bicara, Ben akan menjadi suaminya dan bicara itu perlu, termasuk mengatakan dia rindu. Ben masih menunggu di ujung telpon, suara Keke belum terdengar.


“Rens…”


“Kak Bens kapan datang?”


“Hahaha… kangen ya?”


Iyaaa kangen… sangat.


Tapi tak ada suara yang keluar dari mulut Keke. Paling gampang untuk dia adalah mengganggukkan kepala mengiyakan, tapi tentu saja Ben tak bisa melihat.


“…”


“Sweety… aku mungkin harus ke Manokwari 3 atau 4 hari, ada urusan dengan otorita di sana setelah itu aku ke Manado ya…”


Keke langsung emosi, menutup panggilan telponnya. Dia keberatan waktu Ben harus ke Jakarta seminggu yang lalu karena urusan pekerjaan. Meskipun urusan persiapan pernikahan 90 persen sudah selesai, semua pembayaran sudah lunas, tersisa membagi sebagian undangan tapi tetap saja Keke tidak nyaman jika Ben pergi-pergi dan masih disibukkan dengan urusan pekerjaannya.


Apa dia gak ambil cuti?


Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi. Keke memandang kesal ponselnya, ingin mengabaikan saja, tapi dia ingat nasehat sang mama, bicarakan semua, jadi ungkapkan saja apa yang tidak dia suka.


“Iya…”


“Kenapa terputus?”


“Sengaja…”


“Sayaaang, ada apa?”


“Aku gak suka kak Bens ke Manokwari lagi, acara kita udah deket, sembilan hari lagi. Kenapa masih pergi-pergi sih? Kak Bens gak ambil cuti?”


“Iya, waktu itu proyek dihentikan sementara jadi aku gak cuti. Tapi sekarang udah mau mulai lagi, makanya aku perlu ke Manokwari. Please ngerti ya… aku harus ke sana…”


“Kak Bensss… kita belum Konseling Pranikah, tertunda terus gara-gara kak Bens gak ada, aku malu sama Pakgemnya udah janji dua minggu sebelum pemberkatan, malah kak Bens pergi lagi.”


“Minta maaf sama Pakgem deh… aku gak bisa, please bantu aku untuk hal ini...”


“Kak Bens… please juga dahulukan urusan pernikahan kita, ada yang bisa aku urus sendiri atau diurus Inge, tapi ada hal yang butuh kehadiran kak Bens. Kok aku merasa kak Bens meremehkan urusan kita ya, kemaren-kemaren juga kayak gitu…”


“Sayang… bukan seperti itu, tapi…”


“Tapi apa?”


Kalau belum bisa menikah jangan paksakan diri, kalau urusan pekerjaan masih lebih penting, udah batal aja nikah, aku gak suka kayak gini.


Kalimat itu tertahan di mulut Keke, berusaha mengerti posisi dan keadaan Ben. Sedapat mungkin Keke berusaha mengontrol emosinya, walau suaranya terakhir sudah naik beberapa not. Ingin rasanya menekan tombol merah di layar dan kemudian mematikan ponselnya, tapi dia menahan diri, semua harus dibicarakan dengan hati tenang.


Kenapa sih susah sekali meminta Ben fokus pada pernikahan dulu?


“Sayang… aku ingin mengerjakan beberapa hal dulu sebelum mengambil cuti panjang.”


“Tapi, aku khawatir kak Bens pergi-pergi udah deket loh hari H-nya…”


Suara Keke kembali normal, dia tahu dia tak boleh mengulangi sikap kekanakan saat tidak sepaham dengan Ben. Ben pun berpikir sejenak, dia tidak menomorduakan urusan pernikahannya, itu hal yang ada di prioritas utama sekarang, tapi… apa itu yang Keke rasakan, dia mengabaikan urusan penting ini? Suara bernada khawatir tadi juga menggugah hatinya.


“Sweety… aku coba ngomong sama boss ya, secepatnya aku ke Manado, ok?”


“Iya… minta kebijakan sama bossnya kak Bens ya…”


“Iya sayang, aku juga kangen kamu kok, bukan cuma kamu aja…”


“Eh… aku gak bilang kangen…”


“Beneran gak kangen aku?”


“Iya…”


“Iya? Gak kangen? Jadi aku ke Manokwari aja kalau gitu…”


“Ehh… iya aku kangen…”


Suara Keke yang rendah membuat Ben tertawa, gemesss… kalau ada di depannya sekarang pasti sudah banyak hal yang dia lakukan.

__ADS_1


“Video call ya…”


“Gak, nanti malam aja, aku lagi banyak pesanan klappertart…”


“Klappertart lebih penting dari aku, eh?”


“Jangan membalikkan fakta… pekerjaan kak Bens lebih penting dari aku, dari pernikahan kita…”


“Aku hanya mengurus semua, mengerjakan semua tanggung jawab aku dengan baik. Aku pikir urusan pernikahan kita sudah beres makanya aku ke Jakarta, selagi ada waktu untuk pekerjaan aku pikir yang bekerja dulu… maaf ya sayang…”


“Iya… iya, aku ngerti… beresin aja kerjaan di Jakarta tapi tolong pertimbangkan rencana ke Manokwari ya, aku beneran khawatir kak Bens ke sana, jauh kan… aku takut juga waktu kak Bens cerita soal demo di sana.”


“Iya… iya. I Love you my Rens…”


“Iya… bye…”


.


Ben keluar dari ruangannya dan menuju ruangan boss Nico.


“Bi… mau makan siang? Bareng ya…”


Ferna Langsung berdiri mendekati Ben, menatap dengan jurus-jurus pemikat dalam dirinya. Ben menatap sejenak, jangankan sekarang setelah resmi jadi milik Keke, gangguan seperti ini sejak dulu selalu dia abaikan. Ben tersenyum tipis, pertama kali dia membagikan senyum bukan hanya buat Ferna tapi buat beberapa staff yang ada di ruangan itu, walau bagaimanapun mereka adalah staff yang membuat pekerjaannya lancar selama ini. Dan dia hanya perlu bersikap ramah saja sekarang.


“Sorry, aku ada urusan, kalian silahkan istirahat aja…”


Masih tersenyum tipis, mata Ben berkeliling di wajah-wajah staffnya kemudian menuju ruangan boss Nico.


“Tumben pak Benaya mau senyum ya? Kayaknya sejak pulang dari tugas luar dia jadi lebih ramah…”


Milka berkata pada semua orang di situ tapi memandang pada Ferna.


“Udah mau nikah, udah tunangan katanya, makanya jadi lebih hepi…”


Seorang staff lain memberikan info yang dia tahu.


“Jadi Bipi beneran mau nikah ya?”


Kalimat ambigu keluar dari mulut Ferna, dia tahu fakta itu sebenarnya, tapi dia coba menyangkalinya.


“Kamu gak lihat storynya Fransien ya? Banyak foto mereka saat pak Benaya tunangan…”


Ferna diam, dia sebenarnya mencoba peluang terakhir di sini, cinta butuh perjuangan… ya kan? Orang yang sudah nikah aja bisa oleng kan? Dia sudah lama jatuh cinta pada Benaya, dan perasaan itu belum pergi-pergi meskipun sudah berusaha dia singkirkan, meskipun dua tahun ini tak melihat Benaya.


Milka bersuara pelan di samping Ferna yang sedang tertunduk sedih. Prihatin juga dia dengan rekan kerjanya yang telah menyimpan rasa begitu lama pada boss di divisi ini. Begitulah… kadang akal sehat seseorang tidak berfungsi jika terobsesi sesuatu, jika terlalu menginginkan sesuatu, dan faktanya cinta kadang tak pernah datang di hati orang yang kita harapkan.


Tapi di mana letak kesalahannya jika Ferna tetap cinta pada Benaya? Dia tak pernah meminta perasaan itu. Tapi mungkin dia tidak boleh terus-terusan bersikap bodoh, tidak mengulangi bersikap seolah-olah Ben bisa luluh dengan semua hal tentang dirinya. Dia harus berhenti.


.


🍂


.


Lody berbaring di rerumputan di salah satu sisi Green Hills, menghirup penuh udara fresh di tempat itu. Cahaya matahari sudah mulai memudar, yang terasa adalah hawa dingin khas di tempat ini. Dia kangen tempat ini. Akhirnya dia memutuskan pulang lagi setelah semua kegundahan pergi dari hatinya, walau sudut hatinya masih menyimpan nama itu, tapi dia tidak akan memaksa lagi.


Dia tiba kemarin, menginap sehari di rumah Keke dan pulang ke Tomohon bersama papa Ramly. Ada sahabat papa Ramly dari Jakarta yang ingin bertemu di sini katanya penasaran dengan postingan orang-orang mengenai keindahan tempat ini, karena itu dia mengantar papa Ramly ke Green Hills. Rindu juga sebenarnya dengan seseorang di sini, tapi dia menyingkirkan perasaan itu, makanya dia tidak masuk ke kafe dan segera menyepi di salah satu sisi bukit ini.


Ada sejam Lody hanya berbaring di bawah pohon, kalau papa akan pulang seseorang pasti akan datang mencarinya di sini. Di atas sana dia tak mungkin menghindari Inge, dia takut dia akan tergugah lagi dengan sosok itu, jadi dia sini saja suasana tenang begitu mendukung hatinya untuk semakin tenang juga.


Ada dua jari memencet hidungnya, pelan saja tidak sampai mengganggu aliran udara masuk ke hidungnya. Lody membuka mata, memandang sosok yang kini duduk bersila di sampingnya. Lody menutup matanya lagi, mencoba meresapi reaksi dirinya saat menyadari siapa sosok itu. Ada debaran disertai rasa sakit di dadanya. Dia masih cinta tentu saja. Tangan kanannya menutup matanya dengan pergelangan luar tangannya, mencoba menentramkan hatinya sendiri baru bicara.


Lamaaa waktu berlalu dua orang itu tak saling bertegur sapa. Akhirnya Inge menarik tangan Lody yang menutup matanya sendiri, dan tak melepaskan tangan itu dari genggamannya.


Lody bangkit kemudian duduk sejajar dengan Inge dan memandang lekat wajah Inge. Mereka saling berbagi tatapan coba menelaah arti pandangan masing-masing. Dengan cepat rasa cinta menguasai pandangan keduanya. Ketika pandangan keduanya terlepas…


“Yang…”


“Jangan pergi lagi…”


Inge bicara dengan suara hampir mirip bisikan di sampingnya.


“Iya…”


Lody merasakan debaran lagi, kalimat barusan begitu mendamaikan, menghapus lelah hatinya saat jauh dari Inge. Lody mengangkat dan menekukkan kedua kakinya dan siku tangan dia letakkan di atas lututnya, mengambil-alih pegangan tangan Inge dan menautkan jemari tangan berdua.


“Kenapa jadi pengecut, langsung pergi gitu aja…”


“Gak kuat lihat kamu… gak kuat dicuekin…”


“Makanya… jangan ulangi lagi ya, mainin perasaan aku…”


“Iya, aku gak akan lepaskan kamu kali ini dan untuk seterusnya. Aku cinta kamu, Yang… cintaaa banget…”

__ADS_1


Inge menatap mata Lody yang juga sedang menatapnya. Ada kesungguhan di wajah itu, dan ada airmata menggenang di sana.


“Kamu…?”


Inge terharu dengan apa yang tertangkap matanya, raut wajah dengan pancaran kuat ingin memiliki dirinya. Sejak lama mereka dekat, boleh dibilang hubungan mereka istimewa sebenarnya walau tanpa kata sakral pernah terucap dari bibir masing-masing. Tapi kali ini mendengar pernyataan Lody disertai genangan airmata di mata hitam itu, Inge seperti menemukan apa yang dia cari dari Lody, sebuah ketulusan cinta.


“Yakin dengan perasaan sendiri?”


“Yakin… sangat yakin. Aku coba menyingkirkan kamu dari hati aku, tapi gak bisa.”


Inge beberapa kali pacaran, pernah ditembak seseorang dengan drama manies pakai bunga dan coklat di hari Valentine. Tapi cara Lody menyatakan rasa cintanya terasa begitu indah, biasanya cewek yang menangis, ini...


Inge menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Lody.


"Kamu cinta aku, Yang?"


"Menurut kamu?"


"Cinta..."


"Kenapa masih bertanya..."


"Pengen denger kamu bilang cinta."


"Aku... Engline Evelyn Tendean cinta dan sayang sama Lodewyk Yanuar Sompie... dan udah siap jadi istrinya..."


Inge menegakkan badannya lalu berkata dengan suara nyaring, membuat Lody tertawa dan menoyor kepala Inge.


"Hahaha... Siapa yang mau ngelamar kamu jadi istri aku, pede banget..."


"Ya udah... lupakan cinta kamu. Aku gak mau pacaran lagi terus kamu gantungin... cape..."


Inge berdiri dari rerumputan itu dan mulai berjalan naik ke atas, tapi satu tangannya langsung disambar Lody.


"Yang... aku gak serius ngomong seperti itu..."


Lody membuka cincin yang dia kenakan di jari kelingkingnya dan segera memasangkan di jari Inge. Inge terperangah dan menatap tak percaya pada jari manis kirinya. Lody berdiri.


"Aku gak akan nikah dengan siapapun, Yang... hanya dengan kamu... tapi kita belum bisa nikah sekarang kan... setelah Ike nikah baru kita rencanakan pernikahan kita..."


"Aku gak mendesak kamu nikah sekarang, kapan aja kamu siap, tahun depan pun oke, aku hanya butuh kejelasan sikap kamu..."


"Udah jelas kan dengan cincin itu?"


Lody menatap lembut wajah Inge, menatap penuh cinta malah.


"Tapi cincin ini udah gak jelas bentuknya, lagian kenapa kasihnya baru sekarang? Udah lama aku lihat kamu pakai cincin ini, apa cincin ini memang buat aku?"


"Iya buat kamu, maaf waktu itu aku masih ragu soal perasaan aku, terus cincin itu gak pernah aku lepas, aku pakai kerja jadinya seperti itu."


"Udah ada mata diamond yang lepas..."


"Sini... aku ganti yang baru nanti..."


"Gak, biarin aja dulu aku pakai ini sampai udah ada gantinya..."


"Ya udah... tapi aku belum punya uang sekarang buat beli yang baru..."


"Tabungan kamu habis?"


"Hahaha iya, aku beli mobil di sana sama biaya hidup aku lah tiga bulan ini..."


"Jadi kamu miskin sekarang?"


"Iya... tunggu mobil aku terjual lagi ya baru kita beli cincinnya..."


"Belagu sih mau dikirimin uang sama Pa Ade, sok menolak gitu. Emang kamu gak digaji di sana?"


"Aku gak jadi kerja, kepikiran kamu terus..."


"Hahaha... kasihan banget..."


Lody merangkul Keke dan pelan mereka berjalan naik menuju kafe. Dua hati akhirnya menyatu lagi. Cinta tak pernah salah ketika menyatukan dua hati yang memang sudah selayaknya saling memiliki.


.


🌻


.


đź’ź


.

__ADS_1


__ADS_2