
Pagi-pagi...
"Mami Thethe..."
Keke baru selesai membuat segelas coklat panas dan duduk di kursi makan di dekat pantry kecil lantai atas.
"Dede... selamat pagi... pagi-pagi udah bangun?"
"Mami... Yica mau tue bedey...(kue ulang tahun). Yica mau matan bana-bana..."
Keke tertawa, sepagi ini bangun karena ingin makan kue ulang tahun. Mungkin terbawa di mimpi anak kecil ini.
"Iya... sini ke kamar mandi dulu, bilas muka terus gosok gigi dulu ya... baru makan kue..."
"Ayok... 🎶 tue bedey, tue bedey tu yu..."
Lisya mendahului Keke ke kamar mandi. Setelah beres bersih-bersih, mereka berdua kembali ke meja makan. Keke mengeluarkan kue ulang tahun yang dibeli si Rommel dari kulkas. Kemaren, siang-siang masih ada papa Ramly mereka merayakan dengan sederhana, tiup lilin sama makan kue brownies itu setiap orang satu potong. Lisya makan paling banyak, dan hari ini pagi-pagi sudah kepengen lagi.
"Dede... boleh makan kue tapi nanti minum susu juga ya..."
"Iya... iya...iya... 🎶 bedey tu yu..."
Kenapa anak kecil begitu antusias dengan lilin, balon dan kue ulang tahun ya? Si Yica melompat-lompat kecil saat melihat Keke memotong kue.
"Ini dede..."
"Yeccc tue bedey... 🎶 bedey bedey tu yu..."
Lisya menyanyi meski dengan nada yang tidak tepat. Keke membantu Lisya duduk di sampingnya.
"Rens..."
Benaya muncul di tangga.
"Eh?? Kapan datang??"
"Baru dari bandara..."
"Eh?? Emang ada penerbangan subuh?"
"Ada Rens, buktinya aku di sini sekarang..."
Ben tersenyum lebar lalu mendekati Keke, berdiri di belakang kursi Keke, tangan naik ke pundak Keke menunduk dan sebuah ciuman mendarat di pipi satu lagi di kepala, kangen sudah demikian besar untuk menyentuh si kekasih hati padahal baru empat hari tidak bertemu.
"Selamat ulang tahun, sweety... maaf terlambat kasih ucapan..."
"Makasih kak Bens... ada si Dede..."
Keke mendorong pelan tubuh Benaya untuk menjauh.
"Dia gak lihat, lagi asyik makan..."
"Papi Bipi... mami Thethe bedey, ni tue bedey..."
"Papi Bipi minta, boleh?"
"Mami Thethe, macih bana di tutas (masih banyak di kulkas)?"
"Gak ada lagi... itu banyak kan?"
Keke menunjuk kue di meja. Lisya menatap kue brownies di piring miliknya lalu berpindah ke potongan besar kue dalam wadah tupper*re, dari raut wajah terlihat keengganan untuk membagi kue yang dia suka. Dan...
"Papi Bipi beyi ja cendiyi (beli aja sendiri)."
"Hahaha..."
Ben tertawa saat Lisya menarik dua tempat kue itu lebih dekat padanya.
"Dede, itu masih banyak... dibagi ya sama papi Bipi, kakak Via juga, dia belum makan kuenya..."
Keke juga tersenyum, baru sekali ini Yica seperti itu.
"Buat Yica aja semua, tapi papi Bipi pinjam mami Keke ke teras sebentar boleh ya?"
"Boyeh..."
Wajah Lisya langsung cerah lagi seperti wajah Benaya juga. Keke berdebar, ke teras itu mau apa?
"Dede... jangan turun sendiri ke bawah, duduk situ aja ya..."
"Iya... Yica matan tue cini... nati oma Ice mita (Lisya makan kue di sini, nanti oma Wisye minta)."
Tangan Benaya sudah menarik dirinya menuju ke pintu. Saat berada di luar tak lupa Ben menarik daun pintunya.
"Kak?"
Tubuh Keke langsung Ben bawa ke pelukannya.
"Sorry... kemarin gak ada waktu kamu ulang tahun..."
Saat ada dalam dekapan hangat Ben, Keke jadi tahu apa yang terasa kurang sepanjang hari kemarin.
__ADS_1
"Sorry juga aku gak kasih ucapan selamat lebih awal, tapi semalam aku telpon gak dijawab..."
"Hp aku ada di lemari dapur di bawah..."
"Pantes aja... tapi kamu memang malas banget ngejawab kalau aku nelpon... gak berubah deh..."
"Ya... kalau udah kerja aku memang gak pegang hp..."
"Biarpun gak kerja juga sama, kamu suka gitu..."
"Hehehe, kebiasaan..."
Ben masih memeluk Keke, udah sayang banget, udah dikasih ijin pula untuk peluk-peluk. Keke juga sudah nyaman aja dengan perlakuan Ben.
"Kalau tahu kamu ulang tahun aku gak ambil cuti."
"Kak Bens gak tahu?"
"Iya..."
"Katanya ingat semua hal tentang aku..."
Ben nyengir, ingat ucapannya sendiri --waktu itu lagi pdkt Keke... jadi dia ngomong maniess--
"Iya sih, makanan kesukaan kamu aku ingat, tapi beneran ulang tahunnya kamu aku lupa, padahal deketan sama ulang tahun mama. Sorry ya sayang..."
Ben mendekap Keke lebih erat lagi, beberapa ciuman berlabuh di kepala Keke.
"Kangen..."
"..."
"Kangen aku gak?"
Sebuah anggukan terasa di dada Ben.
"Beneran kangen eh...?"
"Iya..."
"I love You... my Rens..."
My Rens... mmh... mendengar klaim kepemilikan Ben terhadap dirinya sejuk terasa, seperti udara pagi ini. Perkataan indah memang selalu membawa efek bahagia di hati.
"Kamu sayang aku?"
Ben mengurai pelukan dan menatap manik mata hitam Keke, meminta jawaban...
"..."
Keke menggelengkan kepala.
"Ok sayang... tutup mata kalau pengen tahu perasaan kamu buat aku..."
"Tutup... mata?"
"Iya... lakukan..."
Keke menutup mata perlahan, sedikit ragu dan ada sekelebat dugaan melintas, tapi Keke menuruti permintaan Ben, ingin menyelami Ben dengan semua sikap-sikapnya selama ini, tak ingin menolak lagi. Perlahan Keke merasakan tubuhnya menghangat, Ben begitu dekat sekarang dan ada hembusan napas yang meresap ke kulit wajahnya... sebuah ciuman untuk Keke... sesuatu yang pernah dia rasakan tapi dengan cara dan rasa yang berbeda. Tubuh Keke menegang, sepertinya jantungnya jadi lebih cepat berdetak, dia memang hampir melupakan ciuman pertama yang dirampas Marlon dulu yang begitu menyakitkan, yang dia ingat rasa yang ditinggalkan... sakit. Tapi sekarang, Ben menciumnya dengan cara yang lembut, sesapan yang membuat kulitnya meremang, sesuatu mengalir ke seluruh tubuh, Keke tak bisa mendefinisikan apa itu, tapi yang dia tahu sekarang dia juga menginginkan keintiman ini.
"Sweety..."
Keke membuka mata, menatap dengan tatapan redup, senyum lembut Benaya menyambutnya.
"Kamu tak menolak aku Rens... mungkin cinta sudah ada di sini...."
Ben menunjuk pelan dada Keke dengan jari telunjuknya.
"Biarkan cinta itu bertambah buat aku ya...?"
Keke tak punya kata-kata, tapi hatinya penuh, batinnya terasa teduh. Ya mungkin ada cinta sekarang. Dan ciuman tadi masih membekas.
"Kamu menggemaskan saat diam seperti ini..."
Hidung Keke dijepit pelan, dan kecupan ringan menyusul di bibirnya lagi.
"Sorry aku gak bawa kado, tadi malam waktu tahu kamu ulang tahun langsung cari tiket, langsung ke airport juga... nanti aku cari di sini aja..."
"Eh gak usah, aku hepi kok ada kak Bens sekarang..."
Ben tertawa, Keke lancar menyuarakan isi hati, itu sesuatu buat Ben.
"Masuk aja ya..."
Keke melepaskan diri dan masuk ke dalam, wajahnya masih terasa hangat. Ben menatap sejenak teras tempat dia berdiri, pernah berangan mencium Keke di sini malam-malam eh kesampaian, hari ini, di jam enam pagi. Pagi yang mendung tapi hati Ben cerah banget.
"Ya ampun Dede... makan kuenya banyak banget..."
Lisya memang tidak ke mana-mana, tadi potongan yang Keke sisihkan ke piringnya lumayan besar sudah habis dan Lisya sudah mengambil lagi sendiri lebih besar dari yang tadi, remahan brownies berceceran di meja makan.
"Ini puna Yica... Yica biyang mau matan bana-bana (punya Lisya, tadi bilang mau makan banyak-banyak)"
__ADS_1
"Iya... tapi yang ini buat kakak Via ya..."
"Tata Pia ndak ucah... (kakak Via gak usah)."
"Eh... gak boleh gitu, nanti kalau kakak Via punya es krim Dede gak boleh minta... gimana?"
"Mau ecim..."
"Nah... bagi kuenya berarti..."
"Iya boyeh... papi Bipi mau?"
"Gak... buat Yica sama Via aja ya... Via mana?"
"Macih bobo itu dia (Masih bobo)..."
Benaya duduk di depan Lisya sementara Keke membersihkan meja.
"Minum apa?"
"Teh manis aja, panas ya..."
"Iya... sebentar..."
"Tante-tante itu tinggal di sini sekarang? Aku lihat mereka di bawah, ini hari free kan gak masak?"
"Iya... kamar di bawah kosong. Mereka yang mau sih..."
"Keke... ini hp kamu bunyi dari tadi..."
Tante Lenda naik membawa ponsel Keke.
"Oh... makasih tan..."
"Tante ada buat nasi goreng roa, pak Benaya mau?"
"Eh... boleh tante, panggil Ben aja..."
"Oh... baiklah. Sebentar ya, tante ambilkan..."
Keke meletakkan di depan Ben sebuah gelas tinggi berisi teh panas permintaan Ben.
"Gak ada kue kali ini, kemaren gak sempat bikin kue."
"Gak apa-apa, kan mau makan nasi goreng juga..."
Keke memeriksa ponselnya, ada lebih sepuluh misscall dari nomor Benaya semalam, dia tersenyum simpul melihat itu. Yang terbaru panggilan dari papa. Wah... papa Ramly memang sangat menginginkan kedekatan mereka lagi. Keke menelpon balik...
.
"Papa... tadi telpon Ike?"
.
Ben memandang dan menyimak Keke, papa?
.
"Papa ingin ajak Ike ke sini ke tempat papa, Ike mau?"
"Iya... boleh, kapan?"
"Terserah Ike, waktu lowongnya Ike saja..."
"Hari ini sih... minggu Ike gak masak..."
"Kalau Ike mau datang hari ini boleh... papa senang, nanti Lody yang jemput..."
"Mmh... pa... berapa jam perjalanan ke tempat papa?"
"Dari Manado tidak sampai sejam..."
"Oh... gitu. Ike pergi sendiri tapi nanti sesudah makan siang. Papa kirim alamat ya..."
"Oh baik... baik. Gampang kok cari tempat papa. Papa tunggu ya... bye sayang..."
"Bye bye papa..."
.
Keke tersenyum... papa orangnya hangat ternyata. Menyenangkan punya papa lagi.
"Rens?"
Benaya menatap penuh tanya...
.
.
Hi....
__ADS_1
Happy weekend 😁👋👍