Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 78. Di Sela Bahagia


__ADS_3

Pernah menyisihkan mimpi dan angan tentang cinta atau menikah, pernah tak percaya pada bahagia karena cinta dan punya pasangan, tak menyangka akhirnya keindahan yang sempat tak diharapkan datang menghampiri hidup Keke.


Benar sebuah perkataaan, pikiran manusia bukan pikiran-Nya, rencana manusia bukan rencana-Nya, bahkan ambisi paling tinggi dan niat tersembunyi diketahui oleh-Nya, Sang Khalik yang mengatur dan memegang kendali atas segala sesuatu.


Tak jauh berbeda dengan Ben, pernah bermimpi dan berkhayal untuk menikah, tetapi tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang pernah dia tolak itu yang terjadi dalam hidupnya.


Acara resepsi pernikahan selesai sudah. Ada surprise kecil untuk Keke, sepupunya sekaligus kakak angkat, Dinand dan istrinya Youla turut hadir.


“Renske…”


Dinand datang menyapa setelah acara resepsi selesai dan sedang sesi foto keluarga. Keke senyum, senang banget mengetahui kedatangan mereka.


“Kak Dinand… kak Youla…”


“Semoga bahagia ya… jodoh kamu ternyata bukan orang lain…”


Dinand dan Youla bergantian memberikan pelukan hangat.


“Bro… selamat ya, gw kaget pas dikasih undangan sama tante Litha, lu nikah sama ade gw…”


“Hahaha… gw juga masih suka heran bisa cinta dia, bisa ketemu Rens di sini…”


Ben meraih tubuh istrinya mendekat padanya di atas pelaminan itu. Renske menyempatkan menyapa juga perut buncit Youla.


“Udah berapa bulan, kak Yo… boleh naik pesawat ya?”


“Enam bulan, masih diperbolehkan… khusus buat kamu aja aku berani naik pesawat, hehehe.”


“Wah… makasih kak berdua sudah jauh-jauh datang…”


“Kamu Adek aku Renske, masa gak hadir…”


Dinand mengusap pelan lengan adik angkatnya.


“Kita sekalian pamit ya, besok subuh udah pulang, gak ambil cuti jadi gak bisa lama-lama…”


“Kak, aku gak sempat siapin oleh-oleh, baru tahu kalau ada kak berdua…”


Keke memegang tangan kak Youla, dia cukup dekat dengan istri kak Dinand, dulu sering pergi bareng liburan keluarga, pacaran yang begitu lama dengan Dinand membuat mereka jadi akrab dulu.


“Gak usah Renske, nanti kapan-kapan kami datang ke sini lagi sekalian liburan… boleh kan nginap di rumah…”


“Boleh dong kak Yo… masa gak…”


“Bro… ajak Renske ke Jakarta juga… kita ketemu ya di sana kalau kalian berkunjung…”


“Okay… bro, ada rencana ke sana sih, bawa istri… hehehe.”


“Iya kak, aku pengen ziarah ke tempat mami dan papi, belum pernah…”


Dinand menatap sejenak Keke yang tiba-tiba mengeluarkan airmata di pipinya. Dinand meminta ijin ke Ben dengan isyarat kemudian membawa adiknya ke pelukannya.


“Kalau mami papi masih ada, mereka juga pasti bahagia untuk kamu…”


Dinand berkata pelan, sejenak mereka seperti terlempar ke memori masa lalu, tak mungkin lupa orangtua mereka. Suasana berubah haru seketika, ingatan kepada orangtua yang telah membesarkannya dengan limpahan kasih sayang, membuat Keke menangis di tengah kebahagiaannya. Youla menepuk-nepuk punggung Keke yang sedikit berguncang di pelukan Dinand.


“Marlon titip salam, dia sangat menyesali kejadian itu. Dia titip permintaan maaf.”


Lagi, Dinand berkata pelan di telinga adiknya, Keke menganggukan kepala, dia sudah melupakan peristiwa itu boleh dibilang sudah lama memaafkan kak Marlon.


“Udah ya, entar aku dimarahin Ben bikin kamu sedih… hehehe sorry bro…”


Ben menjawab dengan lemparan senyum, kemudian perlahan meraih kembali tubuh istrinya yang sudah dilepaskan Dinand. Keke menghapus airmatanya, juga tersenyum pada kedua kakaknya. Seperti kata kak Dinand, mami dan papi pasti bahagia juga jika menyaksikan sendiri pernikahan Keke dan Ben, secara dulu ada sesekali kedua pasangan sahabat itu sering menjodoh-jodohkan Keke dan Ben dalam gurauan mereka.


.


👰‍♀️💐🤵‍♂️


.


Mama Virda duduk di belakang putrinya sedang memijit pelan bahu Keke, kedua kaki Keke pun sudah dinaikkan ke atas sebuah kursi. Si bontot Lisya sudah tertidur di pelukan Rommel dan Livia masih bersandar dengan mengantuk pada lengan opa Ramly.


Mereka masih duduk di bagian depan ballroom hotel Novote l yang sudah hampir kosong. Tersisa keluarga dekat yang masih enggan keluar dari situ, enggan meninggalkan ruang pesta yang telah menyatukan kedua keluarga besar. Petugas cleaning sudah mulai membereskan ruangan, sementara Lody dan Inge ada di sudut yang lain menikmati malam ini dengan perasaan yang semakin mencintai satu dengan yang lain, tak sulit untuk mengartikan chemistry mereka yang terlihat saling posesif.


“Ben mana Ike?”


Papa bersuara pelan, menantu barunya sudah beberapa menit tak tampak di sisi anaknya.

__ADS_1


“Lagi mengantar oma kak Bens ke kamarnya pa… udah kecapean katanya…”


“Mertua Ike sudah ke kamar juga sepertinya…”


“Iya pa…“


Keke menjawab dengan suara lelahnya.


“Ayo anak-anak, kita ke kamar juga, opa juga udah cape…”


Papa Ramly menepuk tangan Livia yang berpegang padanya secara perlahan dan menarik lembut anak itu untuk berdiri.


“Mel, bawa aja anak-anak ke kamar mama, mama temenin Ike dulu… “


Mama masih memijit punggung sampai lengan Keke.


“Honey… aku duluan ya…”


“Iya, Ram…”


Papa Ramly pamit pada mama Virda, sambil menepuk lembut lengan mama Virda dengan sebuah senyum kecil di wajah. Dia senang bisa bersama mantan istrinya duduk di pelaminan mendampingi putri mereka. Walaupun ada sedikit drama dari keluarga mantan istri, sesaat sebelum masuk ballroom tadi, si anak sambung istrinya, Shello, datang dan melarang mama Virda untuk bergandengan tangan dengan papa Ramly saat prosesi penganten mau masuk ruangan acara, sudah bukan suami-istri tidak perlu gandengan… waduuh… untung Inge bisa membujuk Shello sehingga tidak meneruskan keributan. Mungkin Shello hanya disuruh orang lain -- hahaha... begitulah, ada yang happy tapi ada yang tidak suka jika kita happy, gitu kan ya yang sering kita alami 🥴🤪


Selebihnya, di atas pelaminan papa Ramly begitu senang sekaligus jatuh dalam keharuan yang panjang, tak henti-hentinya mengeringkan sudut matanya yang banyak menyimpan air sepanjang resepsi berlangsung.


“Ike… papa cape, papa ke kamar sekarang…”


“Pa… Rommel bisa mijit, minta tolong dia pijit papa… Mel… bisa kan?”


“Bisa, bisa…”


“Eh… Mel… Si Nuella kok gak kelihatan sih?”


“Ada kok… udah aku antar pulang tadi…”


“Siapa Nuella, Ke?”


“Mama gak tahu? Pacar Rommel…”


“Oh… kok tidak kamu kenalkan ke mama sih?”


“Nanti ma… “


“Tadi Shello kenapa ma?”


Keke sempat menyaksikan ujung insiden mama dengan Shello, sebelum masuk ballroom.


“Ituu… gak apa-apa.”


Mama memilih menyimpan sendiri cerita itu.


“Anak-anak om datang semua ma?”


“Iya… gak mungkin mereka gak hadir, mereka pengen membuktikan sendiri siapa Ike, siapa Ramly, siapa Ben… mereka pikir selama ini mama terlalu menyombongkan kalian…”


“Mama yang sabar menghadapi mereka…”


Keke membalikkan sejenak wajahnya menghadap wajah mama Virda seolah membagi kekuatan dan menghibur mamanya. Sedikitnya dia tahu sebenarnya tingkah Shello tadi.


“Mama sudah sabar sesabar-sabarnya, tidak tahu sampai kapan mama bisa sabar. Kata orang sabar itu sampai menjadi sabar, jadi tidak ada batasan luasnya kesabaran, yang terbatas adalah kemampuan kita untuk bersikap sabar… Mereka mama anggap sebagai ujian dalam hidup mama, dan kalian menjadi tempat mama melepas semua kesusahan mama, kalian penghiburan buat mama. Itu saja, mama menganggap hidup mama seimbang karena itu.”


Keke tercenung meresapi kata-kata mama, semakin mengenal kembali mama, semakin dia mendapati ketegaran dalam diri sang mama.


“Shello jadi menginap bareng mama?”


Keke mengedarkan pandangan mencari putri sambung sang mama.


“Tidak, kasihan… padahal pengen nginap hotel anak itu, jarang ada kesempatan seperti ini kan, tapi dipaksa pulang sama om… yaa sudahlah…”


“Om gak marah kan mama dampingin Ike, terus sekarang mama masih di sini juga…”


“Om tadinya biasa, tapi belakangan berubah. Sudah… sudah… itu urusan mama. Mereka orang-orang yang seperti itu, tidak mau mengerti dan apa-apa dibawa emosi. Jangan pikirkan perasaan mereka, jangan terganggu. Ini hari untuk Ike, hari bahagia Ike.”


Keke berbalik, menggeser kursinya sehingga leluasa memeluk sang mama.


“Makasih banyak ma… mama banyak korban perasaan karena kami…”


Kesedihan cepat menghinggapi lagi hati Keke. Tak hanya ada bahagia malam ini, ada juga fakta kehidupan, sisi lain yang diijinkan untuk dihadapi setiap insan di bawah langit ini, ada waktu untuk bahagia dan tertawa, ada waktu untuk sedih dalam tangis, ada kalanya keduanya datang berbarengan.

__ADS_1


Mama balas memeluk erat putrinya, beban sudah lama dia lepaskan, dia tidak memusingkan apa-apa yang dia alami demi kebahagiaan anak-anaknya sendiri. Dia sudah cukup lama menahan diri dan diam menerima keadaan di tengah keluarga suaminya, cukup lama tidak memperhatikan anak-anaknya sendiri. Dia memilih egois kali ini, memilih berada di samping anak-anak dan cucu-cucunya sekalipun dibarengi dengan rasa tidak senang bahkan mungkin marah dari sang suami. Mungkin dia cemburu dan malu dengan kenyataan atau apa, mama Virda malas memikirkannya.


Sejak bertemu lagi dengan Keke dan kembali dekat dengan anak-anaknya, mama Virda sudah sering bertengkar dengan suaminya, tak masalah jika terpaksa bertengkar lagi, dia merasa sedang melakukan tindakan yang benar untuk anak-anaknya sekarang, peduli dan perhatian tidak bisa tidak, karena statusnya juga adalah mama dan oma, bukan hanya seorang istri.


“Eh… eh… jangan nangis di sini… mama tidak apa-apa… mama bahagia sekali, Ke… ini saat yang paling membahagiakan buat mama, melihat sendiri Ike menikah…”


Mama melepaskan pelukan, tak ingin anaknya baper karena dirinya.


“Tuh… kan… nangis… udah ya… mama bener-bener bahagia kok…”


Mama mengusap wajah Keke sambil tersenyum lembut, dia memang bahagia sepanjang hari ini, dia mengenyahkan sejauh-sejauh semua perasaan yang bisa mengganggu hatinya untuk ikut menikmati kebahagiaan putrinya.


“Beneran mama gak apa-apa?”


“Iya… iya…”


Keke memastikan perasaan mama dengan menatap tanpa kedip, menemukan pendar sukacita dari mata mamanya yang juga ikut tersenyum bersama bibirnya. Keke lega, kekuatirannya tidak beralasan.


“Tuh Ben udah ke sini… mama mau ke kamar sekarang ya…”


“Iya…”


Mama beranjak sembari tersenyum pada Ben. Keke merasakan di kepalanya tangan sang suami memegang lembut, Keke menengadah mencari wajah Ben, langsung disambar kecupan singkat di bibir.


“Kenapa nangis lagi, sayang… kamu lucu deh hari ini, banyak menangis dan banyak tertawa…”


“Terharu aja dengan apa yang aku alami…”


Ben berjongkok di hadapan sang istri, meraih dua tangan istri dan menggengam hangat, menatap langsung di mata Keke yang masih ada tersisa kristal bening di kedua sudutnya.


“Rens…. seneng gak sih… jadi istri aku sekarang…”


Keke tersenyum lalu melepaskan kedua jemari tangan dari genggaman Ben dan menempelkannya di kedua sisi rahang kokoh suaminya, pertama kali dia memberanikan diri menyentuh sendiri wajah ganteng itu…


“Seneng banget, hepi banget, gak bisa aku bilang lagi gimana perasaan aku… aku sayang kak Bens… aku cinta kak Bens, aku bahagia sangat bahagia dengan status aku sekarang sebagai istri kak Bens…”


Semua ciuman berlabuh dengan manis saat kalimat Keke berakhir. Ben tak malu lagi mencecap bibir sang istri. Masih ada orang lain di sini dan ada banyak mata yang sedang menonton mereka, tapi ini malam Ben dan Keke, dan dia tak peduli saat keinginannya mencium mesra sang istri diperhatikan banyak orang.


“Kamu sweet banget sweety… jadi gak sabar pengen mencoba sweet kamu yang lain…”


Ben langsung berdiri, tujuannya hanya satu sekarang…


“Gimana kakinya, udah bisa jalan sekarang?”


“Udah… tadi sempat dipijit mama sih… udah lepas sepatunya juga…”


Keke mengangkat sedikit gaun pengantinnya menunjukkan kedua kakinya yang sudah mengenakan sandal hotel.


“Ke kamar kita yuk…”


Ben mengusap pelan kedua lengan sang istri, ada yang pengen cepat-cepat ke kamar dan mulai mengirim sinyal-sinyal untuk sesuatu.


“Si Sonya mana ya?”


“Kenapa?”


“Minta bantuin aku ganti baju, sama buka semua jepitan di kepala aku…”


“Ayo berdiri, nanti kita cari sambil jalan ke kamar…”


Tarikan mesra sang suami pada kedua tangannya membuat Keke bangkit, rangkulan dari belakang pada kedua lengannya mendorong Keke berjalan perlahan sedikit di depan Ben.


.


Tidak ada rasa takjub yang memukau, selain saat rasa takjub dicintai…


Tidak ada keindahan yang lebih indah, selain keindahan saat hasra t cinta terealisasi.


.


Yang nungguin 'sstu'... aku masih nulis, masih nyari referensi 🙈😶🤭 Biar enak disajikan gituuuu...


Secara di luar sana udah banyak episode sprti itu kan... banyak yg wuiiih... mungkin aku gak bisa menuliskan sprti cara mereka, tapi setidaknya ada gregetnya buat menjabarkan betapa cintanya dan sayangnya seorg Ben pada istrinya....


Aku juga sayang kalian yang selalu setia menikmati tulisan aku 💟


.

__ADS_1


🍀


__ADS_2