Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 27. Tak Kenal Jangan Sayang


__ADS_3

Ada perbedaan besar mengetahui tentang si janda dua anak di ruko depan, dengan mengenal dia secara pribadi dan langsung berhadapan. Anak buah si boss terutama Fransien penasaran. Para cowok setelah menyimpulkan si boss ke depan untuk siapa, kemungkinan besar si boss sedang pdkt atau malahan sudah jadian sama si janda, udah gitu aja dan tak membahas lagi.


Fransien beda lagi ingin mengingkari kesimpulan itu tapi fakta berbicara lain. Beberapa waktu mengamati si boss, seperti biasa di akhir pekan boss pasti sebelum makan siang udah ke ruko itu.


Malam ini Fransien udah gak bisa menahan rasa ingin tahunya. Dia pengen tahu banget sosok janda itu, apanya yang menarik sih sampai si boss kepincut.


Setelah si boss terlihat dari jendela rumah dia udah keluar, pasti ke depan, dia mengajak si Sari ke ruko depan beli pulsa data, padahal data internetnya masih banyak.


Di toko, ada Rommel lagi main game di laptopnya.


"Malam..."


"Malam kak... mau beli apa?"


"Beli pulsa data xxx..."


"Yang seminggu apa sebulan kak..."


"Seminggu aja..."


"Mau yang 5GB apa yang 15GB, itu doang yang ada..."


"Emmh... yang 2 GB gak ada ya?"


"Habis kak..."


Keke muncul dari dalam...


"Mel aku yang layanin mereka deh... kulkasnya pindahin sekarang aja... kardusnya nanti dilepasin di atas biar lebih mudah ngangkatnya... mumpung ada kak Bens."


"Kak Bens??"


"Kak Bipi... dia udah nunggu..."


Rommel masuk ke dalam ruko. Mereka baru membeli kulkas untuk dapur atas, cape juga naik turun untuk menyimpan sesuatu, dan tadi saat dibawa dari toko karyawannya hanya meletakkan di bawah dekat pintu samping. Sementara si Fransien langsung tahu Bipi itu bossnya, ada rasa jengkel muncul di hatinya.


"Enak banget ya, aji mumpung..."


Keke mengangkat muka menatap langsung ke wajah Fransien. Yang ditatap melengos.


"Mau beli apa?"


Keke bertanya datar, meski sedikit terganggu dengan perkataan cewek di depannya ini.


"Pulsa data yang 15 GB 7 hari deh..."


"Rp. 60.000 ribu. Nomornya... di tulis aja."


Keke menggeser sebuah buku serta ballpoint. Setelah proses maka...


"Pulsanya udah terkirim."


"Ini uangnya. Biasa aja ternyata, si boss kena pelet kali ya, mungkin lewat makanan ya, secara makanan kita dari sini, dikasih apa gitu biar si boss jatuh hati..."


"Maksudnya apa?"


Keke menatap tajam ke arah Fransien.


"Anda sedang bicara tentang saya??"


"Iya... situu! Pakai apa situ sampai boss mau aja disuruh-suruh. Eh... di kantor pak Benaya itu dihormatin karyawannya, situ main suruh aja ngangkat-ngangkat apa di sini."


Keke keluar dari belakang counter pulsa, hatinya mendadak jadi panas ada orang mengajak berantem.


"Denger ya... apa pun yang pak Benaya anda yang terhormat lakukan di sini, itu atas kerelaan hatinya dia, gak ada yang nyuruh dia, ngerti gak! Ngomong asal banget, jaga mulut anda ya kalau ngomong!!"


"Terserah saya, mulut mulut saya. Emang situ mulutnya buat ngerayu pak Benaya, janda sih ya udah pengalaman sama laki-laki, modal apa situ emangnya gak ada yang bagus juga penampilan kampungan biasa aja, modal mulut manis aja kan..."

__ADS_1


Keke mengangkat tangannya siap menampar pipi Fransien, tapi segera ditangkap Rommel. Keributan di depan membuat Rommel dan Benaya keluar dari belakang.


"Jangan kak..."


Rommel berhati lembut dan tidak suka keributan, dia telah melihat kakaknya yang pemberani ini bermasalah dengan beberapa orang dan tak ingin ada masalah seperti itu lagi.


"Mel... dia yang cari gara-gara, kamu gak dengar apa yang dia bilang?"


"Fransien!! Minta maaf!!"


Benaya berteriak ke arah staffnya.


"Pak... kok minta maaf???"


"Iya!!! Kamu datang cari masalah di sini, dan apa yang kamu katakan tadi itu sangat kasar!!!"


Sari menyenggol bahu temannya. Dia mulai takut melihat raut muka pak Benaya dan menyesali kenapa mengikuti Fransien datang ke sini.


"Gak sudi saya minta maaf pak, emang bener kok apa yang saya bilang, lagian dia juga mau menampar saya tadi kalau gak ditahan..."


"Kamu gak minta maaf kamu berurusan dengan saya..."


"Loh pak, urusan saya dengan dia bukan dengan bapak, gak ada urusan kantor di sini pak..."


Entah keberanian dari mana hinggap di kepala si Fransien menantang si boss sekarang. Sudah kepalang basah mungkin gak berhasil mendapat perhatian dari si boss, lawan aja, apalagi karena si janda itu.


"Dengar kamu, apa yang kamu bilang tadi itu fitnah itu berkaitan dengan saya, pakai otak kamu. Mereka keluarga saya, kamu nyakitin mereka itu nyakitin saya ngerti gak kamu?!?! Minta maaf sekarang!!!


"Keluarga dari mana pak..."


"Ehhh... saya tidak perlu jelaskan ke kamu yang saya perlu dengar kamu minta maaf!!!"


"Udah Fran... jangan ngebantah terus, cepat minta maaf kemudian pergi dari sini ayo..."


Hapsari menyenggol lagi tubuh sahabatnya dengan keras, berusaha menyadarkan sahabatnya yang sudah mulai hilang kendali.


Dengan tak rela akhirnya...


"Maaf..."


"Ini uang anda bawa aja saya gak butuh. Lain kali jangan beli pulsa atau apapun di sini!"


Keke mengembalikan selembar uang merah di tangan Fransien.


"Gak sudi juga saya."


"Sari... bawa dia pergi!"


"Ba..baik pak... ayo Fran..."


Hapsari berjalan keluar dari toko menarik tangan temannya. Sempat berbalik...


"Maafkan teman saya..."


"Gak apa-apa... saya juga minta maaf..."


"Ehh??"


Keke memandang Rommel yang menjawab Hapsari.


"Mel, lain kali jangan campuri urusan kakak."


"Kak, gak ada gunanya membalas yang jahat dengan berlaku jahat juga..."


"Kakak gak kenal dia, dia yang nyerang duluan, gimana sih kamu, kakak gak suka ada orang merendahkan kakak, udah cukup ya apa yang kakak alami selama ini, dicap janda gak bener, gak tahu apa-apa tentang kita ngomong macam-macam..."


"Maaf kak... aku gak suka aja ada keributan, udah malam juga, lagian biarin aja mereka seperti itu buang-buang energi kak, melawan mereka gak akan merubah persepsi mereka tentang kita."

__ADS_1


Keke masuk ke dalam membawa kemarahan di hatinya. Benaya mengikuti dari belakang, gadis ini memang punya karakter dingin dan cenderung acuh terhadap sekeliling, tapi jika dia diganggu maka dia akan melawan termasuk gak ragu main fisik, wahh... dia mau menampar Fransien tadi. Benaya jadi makin tahu siapa Keke yang sekarang, mungkin keadaan sulit yang dia hadapi di usia yang masih muda, berjuang sendiri untuk hidup mereka membentuk dia seperti ini.


.


Di tempat lain...


"Fran... kamu kok seperti tadi, nekat tau gak, ngelawan boss lagi... haduuuh Fran..."


"Gerah gw sama si janda, apa lebihnya dia..."


"Ya ampun, emangnya kenapa si janda itu, astaga Fran...ternyata bener dugaan gw... lu jujur deh, lu ada rasa sama pak Benaya kan... oh my goodness..."


"Gw gak rela aja pak Benaya sama janda itu..."


"Fran, ini urusan hati... lagian itu haknya pak Benaya mau suka mau cinta mau nikah sama siapa, lu siapa mau urusin itu..."


"Iya... tapi yang lain aja napa, si Ferna aja atau bu Andien, gw gak rela saingan sama janda kampungan norak itu..."


Fransien mulai menangis. Hapsari jadi kasihan melihat sahabatnya yang ternyata beneran jatuh cinta sama boss, gak dibalas lagi.


"Astaga ni bocah... udah lu nangis aja malam ini, setelah itu lepasin perasaan lu, beresin hati lu, kalau gak kinerja lu terganggu, kalau udah gitu gw pastiin lu dikirim boss pulang Jakarta. Sini duit lu... pulsa udah masuk tadi di hp lu, harus bayar."


Hapsari mengambil duit dari tangan Fransien lalu keluar dari kamar berniat balik ke ruko lagi.


.


Di ruko tertinggal si adek cowoknya si janda...


"Eh... ada apa kak?"


"Saya mau bayar pulsa yang tadi, udah terkirim gak enak kalau gak bayar..."


"Oh... iya juga sih, saya yang rugi... Tadi ambil yang berapa GB ya?"


"Saya gak ingat tapi tadi Rp. 60.000."


"Oh... gitu, sebentar ya saya ambil kembaliannya..."


"Ehmm... kakak kamu sama pak Benaya... ehm sorry saya nanya ini... kalian ada hubungan keluarga ya?"


"Hahaha... mungkin nanti, tapi kakak sama kak Bipi udah kenal sejak kecil..."


"Maksudnya?"


"Eh... kakak dulu diangkat anak sama om dan tante saya yang di Jakarta, mereka sahabatan sudah seperti keluarga sama orang tuanya kak Bipi..."


"Oh pantes pak Benaya sering ke sini, udah kenal dekat ternyata. Maafkan teman saya tadi ya... dia memang keterlaluan tadi gak tahu kenapa..."


"Maafkan kakak saya juga, tapi mbak yang tadi emang kasar sih, lagian kakak saya bukan janda, dua ponakan saya itu anak dari kakak saya yang tertua, dia di Singapura..."


"Oooh begituuu... jadi selama ini kita salah dong soal kakak kamu yang katanya janda..."


"Iya... kakak belum nikah."


"Ohh... Ya udah... Makasih ya..."


Sari pulang dari ruko, gak rugi datang ke sini, setidaknya ada hal yang benar yang dia dengar. Situasi yang cukup aneh sebenarnya buat Sari yang tidak terbiasa kepo terhadap orang lain.


.


Dalam diri manusia kadang pikiran negatif terhadap orang lain begitu mendominasi, seperti kanker ganas yang kadang memakan habis nurani, membuat lahirnya banyak prasangka dan penghakiman terhadap seseorang, bahkan meskipun orang yang tidak dikenal dengan baik.


Semangat membaca ya readers... semoga intuisi dan suara hati kita selalu menuntun pada hal yang baik... peace ✌✌


.


__ADS_1


__ADS_2