
Memasuki empat bulan pernikahan. Karena pekerjaan, Ben dan Keke akhirnya tinggal terpisah. Setiap bulan Ben menyempatkan pulang tiga atau empat hari. Walaupun tak terlalu menerima keadaan itu, mau tidak mau Keke harus bertoleransi, mengalah dan berusaha memahami.
📱
“Rens… aku gak bisa pulang kali ini…”
“Kenapa?”
“Ada, sedikit masalah di sini…”
“Masalah apa?”
“Ada beberapa hal… aku usahakan pulang nanti…”
.
Keke mengernyitkan dahi, suami tersayang sudah menutup telpon. Apa yang sedang terjadi? Di mana kata-kata lembut, rindu dan sayang yang biasanya menghiasi percakapan jarak jauh mereka selama berjam-jam. Dua minggu Ben tidak ada inisiatif menelpon, Keke yang menelpon, tapi masih mendingan karena masih bisa melepas rindu selama kurang lebih 30 menit menceritakan kesibukan masing-masing. Tapi dalam minggu ini, saat menjawab panggilan suami selalu terburu-buru, berkesan tak ingin diganggu dan terakhir panggilan tadi, hanya sepotong berita yang Keke tidak inginkan, telpon sudah dimatikan.
Keke jadi jengkel sepagi ini, mood untuk mengerjakan pesanan otomatis jadi hancur. Keke mulai merasa terabaikan, dan dia tidak suka ini. Intuisinya mulai merasakan perubahan Ben sejak kepulangan terakhir yang singkat, hanya dua hari. Saat berdua di kamar, Keke yang merindukan kemanjaan dari suami harus menekan keinginan itu. Entah kenapa beberapa waktu belakangan tubuhnya merindukan sentuhan suami, tapi suami nampaknya tidak peka.
Waktu itu Ben pulang ke rumah tapi dengan perilaku tak biasa seharian dia hanya tiduran, nonton TV, dan berkomunikasi seadanya dengan Keke. Bahkan dalam kebersamaan mereka terasa beda dari sebelum-sebelumnya, tak ada percikan gairah atau ranjang yang panas, tak ada sentuhan dan usapan magic yang mengantar Keke menikmati keintiman, tak ada kelembutan, hanya ada seorang lelaki yang melakukan sebuah aktivitas yang terburu-buru dan meninggalkan pasangan dalam kesakitan dan ketidakmengertian di tempat tidur.
“Ike… kenapa?”
Mama Virda naik dari lantai bawah mendapati Keke sedang mengurai kekesalan di hati dengan melemparkan handphonenya di single sofa di hadapannya dan benda tak berdosa itu terpantul dan jatuh ke lantai.
“Ma…”
Keke memungut benda yang baru saja dia lempar dan memperhatikan sejenak, sadar tindakannya bisa merugikan diri sendiri. Untungnya handphone pemberian papa Ramly baik-baik saja. Keke melepas alat komunikasi itu di meja makan.
“Ada apa, Ke… kok hpnya dilempar?”
“Ehh… gak apa-apa.”
Keke berjalan ke kamar anak-anak, sudah saatnya membangunkan anak-anak untuk ke sekolah.
“Via… oh sudah mandi ya? Via bangunin Dede juga, terus liatin Dede mandi ya… dia suka bermain sabun…”
“Iya mami…”
Keke berjalan ke tangga hendak turun ke bawah, memutuskan mengerjakan pesanan, dia butuh pengalihan gundahnya karena suami.
“Ma… tolong lihat anak-anak ya, Ike mau ke bawah… ada banyak pesanan hari ini.”
“Mama sudah selesai cetak panada, tinggal digoreng aja. Isian lumpia dan susen juga sudah selesai. Titin sudah ada juga, mama suruh dia yang menggoreng panada. Ike tinggal buat klappertart sama cucur…”
Keke berhenti di mulut tangga dan berbalik memandang mama.
“Dari jam berapa mama buat itu?”
“Setengah lima… Ike minum dulu, semua pesanan untuk nanti sore kan?”
“Panada aja sih yang diambil siang ini…”
Keke berjalan kembali ke meja makan, duduk diam di sana. Mama selesai membuat segelas susu untuk dirinya dan segelas coklat panas untuk Keke, menyodorkan gelas milik Keke dan mengambil tempat duduk di depan Keke.
“Minum dulu, Ke…”
“Makasih ma…”
Sebuah jawaban pendek. Pikiran masih dipengaruhi oleh suami yang mengulang lagi kebiasaan buruknya, melanggar janjinya sendiri untuk tidak mengabaikan perasaan Keke saat berjauhan.
“Ke… mama besok ke Pondang ya...”
“…”
“Ike?”
“Ehh? Mama mau ke mana?”
“Ke Pondang, besok ada acara. Kuburan om sudah selesai, kebiasaan di sana ada acara syukuran.”…”
“Iya ma…”
Keke menjawab ringkas, otaknya tak sepenuhnya mengolah informasi mama Virda. Dari mulut anak tangga, Titin muncul dengan handphone di tangan yang sedang berbunyi.
“Tante Virda… hpnya bunyi dari tadi, ini ada panggilan kayaknya…”
“Oh… makasih Tin, tante lupa bawa hpnya…”
Mama Virda menjawab telpon. Keke hanya menatap nanar gelas di depannya yang masih mengepul, aroma coklat tak bisa menggugah keinginannya untuk meneguk isi gelas itu. Helaan napas berat mama menarik pikiran kosongnya pada kenyataan.
“Ma… dari siapa? Ada masalah?”
“Itu… dari adiknya om, kuburan om sudah selesai, mereka adakan syukuran semalam…”
“Loh? Mama gak dikasih tahu lagi?"
“Mama sudah beberapa kali telpon Shello, kata dia acaranya besok…”
“Ya udah kita buat syukuran sendiri aja di sini…”
“Tidak perlu, Ike... mereka aja cukup. Toch kuburan om di sana bukan di sini. Mama tidak enak sama Ike dan Ramly… mama hanya numpang di rumah ini kan…”
“Mama… jangan ada perkataan itu ya ma… rumah ini rumah kita, rumah mama juga…”
“Tapi… bagaimana dengan Ramly? Sejak mama tinggal di sini dia jarang datang…”
“Papa gak pernah masalahin mama tinggal di sini... papa malah senang mama bersama kita lagi…”
“Baiklah…”
“Ma... harusnya ngomong ke mereka langsung, mereka seperti tidak menganggap mama sebagai istri almarhum om…”
“Iya sih. Mama kecewa juga, pengen marah juga. Tidak adil rasanya buat mama, mama toch hanya akan hadiri acara itu, bukan mau melakukan atau merencanakan apa.”
“Makanya, mama gak usah lagi berhubungan dengan mereka.”
__ADS_1
“Ike, dulu mama seperti itu bertahun-tahun hati mama penuh kepahitan, penuh kebencian, tapi mama begitu kesepian. Setelah mama memilih melepaskan rasa getir, rasa tidak puas, rasa diperlakukan tidak adil sama om, mama bisa berdamai dengan keadaan mama yang sulit, mama justru bisa tenang. Mama beranggapan, sekarang Tuhan telah mengganti semua itu dengan kehadiran dan penerimaan kalian untuk mama.”
“…”
“Kita gak usah menyimpan marah ya...”
“Terserah mama…”
Keke menurunkan pandangannya, masih belum bisa menerima cara berpikir mama, seperti Rommel dan seperti papa Ramly, berkali-kali terjadi dan masih susah bagi Keke untuk menerapkan pada dirinya, menerima begitu saja perlakuan orang lain yang tidak baik. Bahkan untuk suaminya, di hatinya mulai bercokol kemarahan untuk suami, mulai ada pikiran negatif mencemari hatinya.
“Ike sendiri kenapa?“
Mama Virda memperhatikan roman muka sang putri yang jelas sekali menahan sebuah emosi.
“Gak papa ma… Ike ke bawah ya… mama di sini aja ya, liatin anak-anak mau sarapan…”
Keke menjawab pelan dengan suara gamang karena coba mengendalikan perasaannya.
Hanya di awal saja ternyata pernikahan itu terasa manis, setiap momen begitu indah, begitu mesra, penuh perhatian, seolah-olah tak ingin terpisahkan. Sungguh ini bagian yang paling tidak menyenangkan, sebuah kenyataan janji sang suami terkalahkan oleh kesibukan pekerjaaan.
.
.
🍀🍀🍀
.
.
Emosi yang turun naik… Terkadang pikiran terasa kosong, sepi dan bingung, membuat Keke sedih tanpa tahu apa alasannya. Di saat lain pemikirannya berjalan ke ribuan arah dan ribuan prasangka sehingga tidak ada apapun yang rasional yang bisa jadi sandaran hati Keke. Dia tak lagi menghubungi suaminya minggu ini berharap suami yang lebih dahulu merasa kehilangan telponnya kemudian punya inisiatif, nyatanya tak pernah datang panggilan yang dia rindukan. Keke selalu menutup hari, jatuh tertidur dengan harapan kosong, handphone tidak berbunyi, sementara dia enggan untuk menghubungi.
“Ike, nak…”
Sapaan hangat sang papa di pagi hari saat Keke keluar dari kamarnya. Keke tersenyum dan tiba-tiba timbul keinginan hati untuk bermanja pada sang papa. Keke duduk di samping papanya di sekitar meja makan dan kemudian dua tangannya melingkar di pinggang memeluk sang papa. Sikap yang langsung direspon papa Ramly yang juga melingkarkan tangan melewati punggung anaknya memberi pelukan. Dalam kehangatan dekapan papa Ramly, Keke merasakan kenyamanan dan kedamaian yang akhir-akhir ini menghilang dari jiwanya. Keke mengeratkan dua tangannya.
“Ike sakit?”
“Gak pa… hanya lemes aja beberapa hari ini…”
“Jangan turun ke dapur… bahaya bisa celaka lagi…”
Papa mewanti-wanti, takut insiden tersiram cairan panas terulang.
“Iya pa… Ike udah jarang masak sekarang…”
“Harusnya begitu, karyawan Ike sudah banyak, Ike tinggal memantau saja pekerjaan mereka…”
“Iya. Papa datang kapan?”
“Sejam yang lalu… papa ikut mobil yang bawa persediaan sayuran…”
“Kenapa gak diantar kak Lody?”
“Dia sibuk… mau menikah…”
“Wah… akhirnya kak Lody sama Inge… Ike senang buat mereka. Ike bantu apa ya?”
“Nanti Ike tanya sendiri ke Inge… Anak-anak belum bangun?”
“Iya pa… ini hari sabtu, gak sekolah. Papa udah sarapan?”
“Belum, tapi sepertinya lagi disiapin mama…”
“Papa dan mama… Ike ingin…”
Sesuatu melintas cepat di pikiran, Keke tersenyum misterius memandang sang papa. Papa Ramly juga menatap Keke dan insting pria yang sudah kaya pengalaman itu bisa menafsirkan isi pikiran anaknya.
“Belum waktunya kamu berpikir seperti itu nak…”
“Memang papa tahu apa yang Ike pikirkan?”
Senyum Keke semakin lebar. Keinginan sejak lama, tak apa punya keinginan itu kan?
“Papa tahu dari ekspresi Ike…”
“Mmhm… belum waktunya, tapi akan ada waktunya…?”
“Jangan terlalu berharap, nanti Ike kecewa…”
Pungkas sang papa bijak, tapi ada senyum terukir di sana.
“Apa keinginan papa sama dengan Ike?”
“Terlalu dini untuk membahas itu Ike… jangan sekarang…”
Jawaban papa Ramly tidak memuaskan rasa ingin tahu putri semata wayang. Papa Ramly menangkap binar harap di mata putri kesayangan, tapi papa bersikap hati-hati.
“Kalau Ike yang minta, meskipun papa gak punya keinginan itu, apa papa bisa mempertimbangkan? Ike tahu, papa belum melupakan mama…”
“Ike… mama masih berkabung. Jangan ganggu mama ya…”
“Ike gak ngangguin mama, Ike hanya menanyakan ini sama papa…”
“Ike doakan saja yang terbaik, hanya Tuhan yang bisa kasih jalan yang terbaik buat kita…”
Papa Ramly mengusap kepala putrinya dan menatap dengan sorot teduh seperti biasa. Keke hanya bisa menerima jawaban tanggung sang papa. Akhirnya Keke kembali masuk ke pelukan sang papa. Ada rindu untuk kenyamanan ini dari seseorang yang lain dan terobati dengan kasih sayang sang papa. Entah kenapa Keke jadi emosi dan menangis tanpa suara kemudian di dada papa Ramly.
“Kenapa Ike, Ram?”
Mama Virda datang dengan piring berisi talas rebus dan semangkok kecil dabu-dabu roa untuk sarapan mantan suami.
“Oh… tidak apa-apa… lagi kangen Ben mungkin…”
Papa Ramly tertawa kecil sambil mengusap punggung Keke dan anaknya tak bergerak dalam pelukan itu, Keke terusik damainya dengan nama suami, tetapi mama Virda menatap haru adegan itu, mereka pernah kehilangan banyak moment kebersamaan karena keegoisan di masa lalu, sekarang meski kondisi berubah tapi ada rasa hangat menjalari dadanya, mereka bisa bersama dalam hubungan yang baik itu cukup untuk mama Virda.
“Sarapan dulu Ram…”
__ADS_1
Dengan satu tangan Keke menghapus airmata di pipinya melepas pelukan papa Ramly dengan enggan. Untung mama dan papa tidak memperhatikan dirinya yang habis menangis.
“Ike juga sarapan. Ike jarang makan akhir-akhir ini…”
“Ike gak berselera ma… gak tahu kenapa, suka pusing juga. Jadi gak suka cium bau masakan makanya malas turun ke dapur.”
Mama Virda sudah curiga saat mengamati kondisi anaknya beberapa minggu ini, naluri seorang wanita yang berpengalaman, mulai menyadari sesuatu.
“Ike… Ike mungkin hamil…”
Mama berujar lembut. Tapi Keke seperti terkejut dan kehilangan kata. Dia tak menyadari suatu hal yang mungkin sekali terjadi pada dirinya karena tenggelam dengan berbagai pikiran tentang Ben. Sementara papa Ramly mengamati anaknya.
“Ike test sendiri aja dulu pakai testpack, umumnya testpack akurat. Setelah itu baru periksa ke dokter kandungan.”
Mama memecah keheningan yang sejenak tercipta.
“Ike…”
Mama Virda memanggil saat melihat Keke yang diam.
“…”
“Nak…”
Giliran papa Ramly, sedikit kuatir dengan reaksi diam sang putri.
“Ehh… iya pa…”
“Mama beli testpack ya, mumpung masih pagi, lebih akurat saat test pagi hari.”
“Ehh… iya…”
“Minta tolong salah satu karyawan di bawah aja, honey… jangan kamu yang pergi sendiri.”
“Iya, Ram…”
Mama menjawab lirih dan segera berlalu. Papa Ramly tak memungkiri ada perasaan yang indah menyusup sekarang, jika benar Keke hamil, dia akan segera punya cucu. Tangannya meraih tubuh anaknya lagi.
Beberapa waktu kemudian…
“Gimana Ike?”
Papa Ramly langsung bertanya saat Keke muncul di ruang makan, tak sabar mengetahui hasilnya.
“Positif pa, Ike hamil, Ike mau punya bayi…”
Rasa senang dan rasa sesak secara bersamaan muncul di permukaan. Senang karena keinginan mereka berdua akan segera terealisasi. Ben pernah bilang ingin segera punya anak, tapi Ben tak ada, tak mau mengirim kabar, dan itu menyesakkan.
“Thank God…”
Papa berdiri dan mengecup kening Keke. Mama memandang dengan senang, dan ada dua bocah yang sedang menikmati sarapan pagi di sana.
“Mami mau punya adek bayi?”
Via langsung menangkap berita pagi ini.
“Iya… Via mau punya adik lagi..."
Papa Ramly yang menjawab dengan senyum. Keke menuju sofa dan duduk diam.
"Adek bayi Yica juga?"
Suara si kecil kemudian.
"Iya... adik Yica juga..."
"Mana adek bayinya?"
"Di perut mami..." Via menjelaskan.
"Mana?"
"Masih di dalam perut mami, adek bayi harus tumbuh di situ dulu setelah bisa digendong baru adeknya lahir..."
Oma mencoba menjelaskan pada cucu yang penuh tanya di wajahnya yang terus melihat ke perut Keke. Meskipun nampak masih tidak mengerti tapi wajah anak kecil itu terlihat gembira.
"Mami, Yica pinjam handphone..."
"Di kamar, De..."
Si kecil berlari ke kamar Keke, mencari benda yang dia maksud. Tak lama muncul lagi sambil teriak-teriak gembira di benda pipih itu.
📱
"Yica mau punya adek bayi... adek bayi..."
"..."
"Masih di pelut mami..."
"Iya... papi, bye..."
"Dede telpon siapa?"
"Yica kasih tahu papi..."
Keke tersenyum masam menepis gundah, tak berharap banyak suami merespon baik hal ini. Dia juga tak berniat memberitahu, pasrah saja atau lebih tepat masa bodoh. Padahal ini seharusnya momen membahagiakan untuk pasangan ini kan...
Begitulah, tidak semua berlangsung indah.
.
.
Hi...
Maaf jarang up.
__ADS_1
Jadi pesimis masih ada yang menunggu.
Salam hangat 😍