
Pagi-pagi di mess mereka, Benaya duduk di meja makan bersama Josh menghadapi sarapan mereka. Pekerjaan di sini adalah pekerjaan yang paling berat untuk dia tanggulangi, menguras semua keahlian, energi, ide, daya kerja dan daya kreativitasnya. Boleh dikatakan totalitas kerjanya selama tiga bulan ini tidak menghasilkan hal yang berarti, Ini adalah pengalaman kerja terburuk selama karirnya di perusahaan.
Dan seorang Ben yang biasanya cemerlang kali ini merasa gagal.
Hal yang paling berat adalah menghadapi situasi setempat, berkali-kali dia harus berurusan dengan pihak kepolisian karena soal pembebasan tanah yang tidak kelar-kelar, belum lagi demo kecil-kecilan yang ada hampir setiap hari menolak pembangunan kawasan bisnis baru di kota ini. Semua strategi memecahkan masalah selalu mentah, akibatnya tiga bulan berlalu dengan progress pekerjaan yang sangat lambat dan tidak berjalan dengan benar.
“Josh… saya mau ke Jakarta mau ke kantor pusat, kita tidak bisa stag di sini, saya perlu bicara dengan boss Nico. Minta Rolly cari tiket, kalau bisa hari ini.”
“Oke pak. Pak, ada masuk laporan dari sekuriti kantor, tadi malam ada yang membobol kantor lagi.”
“Sudah lapor?”
“Sudah pak, tapi ya pasti seperti biasa aja, tindak lanjut yang lambat.”
Ben tak bisa menanggapi, karena berkali-kali kejadian seperti itu.
“Oh ya Pak… ada informasi akan ada gerakan lebih besar lagi minggu ini.”
“Tidak usah ke kantor dulu minggu ini. Percuma juga, dan nampaknya mereka mulai membuktikan ancaman mereka, kita tidak usah melawan karena pihak keamanan juga tidak bisa banyak menolong, takutnya berubah jadi anarkis.”
“Anak-anak minta pulang semua pak, mulai takut mereka.”
Ben berpikir sejenak, rentetan peristiwa yang melintas di otaknya membuat dia tegas memutuskan sesuatu.
“Kita pulang Jakarta semua. Bereskan semua hal penting milik kita, bawa pulang semua yang penting. Saya berangkat hari ini, kalian menyusul.”
“Baik pak…”
Ben masuk ke kamarnya, hendak membereskan semua miliknya. Sebetulnya dia ingin ke Manado bertemu Keke dulu. Tapi dia menimbang satu hal, Keke marah sekarang dan dia tahu seperti apa jika Keke marah. Keke tidak mudah ditakhlukkan, butuh waktu untuk menjelaskan terlebih dengan kesalahan yang Ben lakukan. Jadi bereskan masalah perusahaan dulu.
Di kamar Ben mengambil ponselnya. Ben membaca berulang-ulang beberapa pesan Keke yang tidak dia respon, melihat riwayat panggilan yang tidak dia jawab, dia mengabaikan hal yang penting dalam persiapan pernikahan mereka.
Ben sempat lumpuh di otaknya tak tahu bagaimana menjelaskan pada Keke kondisinya. Dua masalah besar yang menekan pikirannya, dan membuat otaknya mengalami disfungsi. Otaknya memberi perintah dalam kepalanya tetapi hal itu tidak berlangsung dalam hidupnya. Seharusnya dia membalas chat Keke karena itu penting buat rencana mereka, tetapi sekarang dia hanya bisa putus asa seorang diri karena menyadari dia tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Seharusnya jika dia mengirimkan apa yang Keke minta, menjawab chat atau panggilan telpon maka pernikahan mereka akan berlangsung bulan ini. Tetapi fakta sekarang rencana pernikahannya berantakan, alasan mengapa Keke marah dan akhirnya memutus komunikasi mereka berdua sangat jelas.
Dan yang begitu berat, dia harus menyimpan sementara rindu yang sudah berbukit-bukit. Seandainya Keke mau memahami, bukan hanya Keke yang tersiksa menahan semua rasa. Obsesi serta impian paling ambisius seorang Benaya untuk resign dengan keberhasilan menyelesaikan proyek di sini membuat dia menahan semua hal, dan ternyata impiannya tidak bisa dia capai dengan tangannya.
.
🌴
.
Papa Ramly datang tadi pagi, katanya bisa menginap dua tiga hari sebelum balik lagi ke Tomohon. Papa orangnya teliti mengontrol progress pembangunan. Dia baru saja protes kepada kepala tukang bangunan karena ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Saat selesai makan siang, Keke dan papa Ramly belum meninggalkan meja makan, masih duduk berhadapan. Sejak sebelum makan Keke berkali-kali mereject panggilan telpon di sampingnya. Papa sempat memperhatikan itu.
__ADS_1
“Ike, kenapa pernikahannya tertunda?”
“Ehh? Maksud papa?”
“Inge ngomong ke papa pernikahan kalian belum bisa bulan ini…”
“Ehh… iya.”
“Apa masalahnya?”
“Dia sibuk.”
“Diskusi dengan Ben, tidak baik hal seperti ini ditunda-tunda. Jika waktu sudah ditetapkan maka harus diatur dan direalisasilkan menurut waktu itu. Kalau dia tidak bisa meninggalkan kesibukannya, jangan dulu menetapkan tanggal. Tegaskan padanya Ike, berikut jangan menunda lagi, papa kurang suka seperti itu.”
“Iya pa…”
Keke menjawab pendek. Dia tidak menginginkan pernikahannya lagi, hanya dia tidak ingin mengemukakannya pada papanya. Chat dari Ben dengan nomor baru tidak dia gubris, tidak dia baca, tidak ingin tahu apapun lagi tentang Ben, sekarang dia menyimpan kekecewaan dan kemarahan untuk sosok Ben.
“Ike… komunikasi itu perlu terlebih untuk hal-hal penting. Kurang baik kalau lewat hp, sebaiknya bertemu langsung. Suruh Ben datang sebentar, kan ada urusan yang memerlukan kehadiran Ben, nah di situ bicara supaya tidak salah paham. Papa lihat Ike tertekan dengan urusan kalian, jangan dibiarkan, nanti tambah stress.”
Keke diam saja di depan papanya. Jangan-jangan papa tahu dia menolak berkomunikasi dengan Ben.
“Ike… menghadapi urusan sepenting ini, saling pengertian itu perlu, harus singkirkan rasa marah supaya bisa saling bicara… itu mungkin Ben, dari tadi papa lihat Ike menolak panggilan… dan tidak ada orang yang nekat terus menelpon Ike setelah ditolak berkali-kali, kecuali Ben…”
Keke hanya menatap ponselnya yang kembali menyala, ada panggilan masuk. Sial dia belum sempat memblokir nomor itu.
“Iya pa?”
“Ben yang menelpon kan?”
Papa menunjuk ponsel Keke.
“Ehh gak tahu pa… gak tahu nomor siapa…”
Keke gusar dan hendak mematikan ponselnya lagi, sempat mengangkat mukanya dan mendapati tatapan papa yang serius. Papa memang tahu sesuatu, karena tatapan menyelidik itu seolah sedang menguliti Keke.
“Bicara lebih baik nak… diam tak akan membuat Ike tenang juga… coba mengerti keadaan Ben, papa tahu dia tidak sengaja mengabaikan rencana kalian…”
“Papa tahu?”
“Inge kasih tahu sedikit… Ike, tidak baik kalau terus berlarut-larut, semakin cepat selesai semakin baik, dan cara untuk selesaikan masalah adalah dengan bicara.”
Papa berdiri dan kembali ke bangunan belakang. Papa punya hati seperti itu, seperti gampang menerima dan memahami kesalahan orang lain. Di sini justru sifat Rommel yang lebih mirip papa Ramly, bukan Keke si anak kandung.
Ponsel kembali menyala… akhirnya dengan berat hati Keke menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan.
__ADS_1
“Rens…”
Jam dua belas siang, di apartemennya sendiri, satu minggu di ibukota dan telah mencapai keputusan akhir untuk kelanjutan proyek di Manokwari. Ben berkali-kali mencoba menelpon Keke dengan nomor baru…
“…”
Legaaa… panggilan tak ditolak lagi.
“Sweety… maaf ya, maafkan aku…”
“…”
Masih tak ada sahutan di seberang sana, Ben melihat layar ponselnya, panggilan masih berlangsung.
“Sayang, aku tahu aku salah, tapi aku gak bisa jelaskan di sini. Aku di Jakarta, ada hal penting yang harus aku urus, tapi udah selesai. Besok aku ke Manado…”
“…”
“Sayang, aku kangen banget… Aku video call boleh? Pengen lihat kamu…”
Telpon diputus. Ben menghembuskan napas dengan kasar, Keke tak bicara sepatahpun tapi setidaknya dia sudah mau membuka jalan untuk berkomunikasi. Ada sedikit rasa damai menghembusi hatinya. Besok saja, bertemu langsung, melepas berjuta-juta ton rindu, tapi sebelumnya harus meminta maaf pada sang kekasih hati.
Dalam benaknya selama berbulan-bulan ini hanya ada beban kerja, cari solusi, ide, gagasan, strategi dan cinta dan rindunya terbenam ke dasar hati. Sekarang di benaknya hanya ada Keke, cinta kembali muncul ke permukaan rasa dan tak sabar untuk terbang masuk ke dalam dekapan pemilik cinta dan rindunya.
Dan, dia jadi kangen ikan woku belanga dan klappertart buatan Keke…
.
.
Kakak2 terbaek... novel ini aku ikutkan lomba update tim...
Dan itu butuh dukungan pembaca semua.
Kasih komen ya, like dan vote juga.
Aku penasaran sama jumlah favorit dan viewer yang tertera dibanding jumlah yang memberi like 🤭🤔😛
Tapi... udah belajar tdk berharap lebih 🤪🥴☺🥰
yg penting kalian suka, dan memberi manfaat, sesederhana itu aja aku menyikapi semua hal ttg tulisan aku...
Tengkyuuuu utk perhatian kalian 💚
love u all 🙏👍😇
__ADS_1
.
🍀