
Keke bergulat dengan batinnya sendiri, membiarkan rasa marah terus bertahta atau coba mengerti tapi terlanjur gengsi mengakui. Dua jam Keke mengurung diri dan sudah tak betah di dalam kamar, terlebih ada pesanan brudel 5 buah yang harus dia kerjakan sendiri, Titin belum berani membuat kue itu.
Dia tak ingin menghadapi Ben, tapi tak tahu juga apa Ben masih ada di sini atau tidak, memikirkan juga sebenarnya Ben mau nginap di mana selama di sini. Tapi rasa dongkol, jengkel, kecewa yang mengkristal dalam satu emosi yaitu kemarahan tidak mau pergi dari hatinya. Tadi mama serta anak-anak sempat masuk kamar karena mengambil tas mama, anak-anak meminta mama tidur di kamar mereka. Dan tak terdengar ada Ben, anak-anak juga tak menyinggung papi Bipi mereka.
Akhirnya Keke keluar kamar, urusan pesanan kue lebih penting, dia tak boleh mengecewakan pelanggan. Keke turun ke lantai bawah, tidak ada tanda-tanda masih ada Ben di sini.
Bangunan baru sudah selesai, tersisa pengerjaan interior di beberapa tempat. Kamar-kamar dan sebuah ruangan yang cukup besar di antara kamar di lantai dua sudah selesai pengerjaannya, Pemasangan furniture di lantai satu masih sementara karena ada banyak lemari yang dipasang di sepanjang dinding ruangan baru itu untuk tempat penyimpanan segala macam barang dan peralatan katering. Ruangan jadi terkesan rapi.
Keke baru tahu papa punya bengkel usaha furniture di Leilem. Di bangunan baru lantai 1 selain 2 buah kamar, ada ruangan khusus untuk Keke membuat semua pesanan penganan ringan, juga ada ruang semi terbuka dengan sebuah taman kering di sana, menurut papa ruangan itu bisa untuk karyawan melepas lelah, ada juga 2 buah toilet.
Keke kemudian berkutat dengan pesanan brudel dan melupakan sejenak soal Ben. Jam enam lewat pesanan selesai, sedikit terlambat dari waktu pengambilan, untung si pelanggan tidak protes. Keke naik ke lantai dua menemukan mama sedang memasak di situ bersama dua bocah yang ramai membantu si oma.
“Masak apa, ma?”
Keke mendekati area dapur.
“Mami… oma masak ayam kecap buat Yica, sayul campul buat opa, pelkedel jagung buat kaka Via. Mami Keke mau dimasakin apa?”
Seperti biasa si Dede Yica paling cerewet.
“Ehh… semua pada request ya…”
“Oma bilang semua boleh minta makanan kesukaan, mami juga boleh… ya kan oma?”
“Boleh… boleh…”
Mama Virda menjawab sambil mengaduk ayam kecap di penggorengan.
“Kasian oma nanti cape, mami makan apa yang oma masak aja…”
“Kalo oma cape nanti Yica pijit oma, Yica pintal pijit mami Keke waktu itu…”
“Oww… boleh, oma pengen dipijit cucu oma…”
Mama tersenyum dan membelai sejenak kepala kedua bocah yang setia mengikuti di mana oma berpindah di area dapur itu.
“Oma, nanti Yica pijit sambil nyanyi lagu balu…”
“Lagu apa?”
“Oma dengal… 🎶Telah lama ku cali-cali, langkah hidup yang lebih pasti, hidup penuh kenangan eh.. kena.. eh... setiap hali… 🎶bukan sembalang bekelja syalala …”
“Nyanyinya salah De..."
Via menanggapi adeknya yang suka menyanyi.
"Bial aja, suka-suka Yica aja..."
Keke yang duduk di depan meja makan, memandang keasyikan tiga wanita di depannya. Dia menikmati suasana yang baru di rumah ini, sesuatu yang begitu berharga sekarang, hubungan yang baik di antara mereka. Terasa ada yang menyejukkan hatinya, ada keindahan itu saat melihat mama dengan raut wajah yang berbeda dibanding saat bertemu pertama kali. Benar mungkin kata mama Virda, dia bahagia bersama mereka. Sorot mata dan wajah sedih tadi siang tak terlihat sekarang.
“Cucu opa sudah selesai masak? Opa lapar…”
Papa Ramly masuk dari area ruangan baru, kemudian mengambil tempat di samping Keke, dan Keke selalu penasaran dengan sikap papa terhadap mama. Benar… mata si papa auto ke sosok wanita dewasa yang sementara asyik di depan kompor. Tetap menatap saat mama berbalik dan memberikan senyum untuk mama. Ahh… andai mereka tidak pernah berpisah, bahagia pasti sempurna di ruangan ini.
“Opa… sayul campul opa udah selesai. Opa sabal ya, ayam kecap Yica belum matang…”
Si cerewet langsung bergerak dan datang duduk di tempat favoritnya, di pangkuan si opa.
“Papa suka makanan itu? Kenapa gak pernah bilang sebelum ini?”
Papa tersenyum.
__ADS_1
“Papa mengurangi makan nasi jadi memilih makan olahan bihun, itu sudah komplit dengan sayuran, jadi papa sering makan sayur campur sekarang.”
Papa berhenti sejenak dan dengan suara rendah hampir mirip bisikan papa melanjutkan…
“Dan sayur campur itu makanan pertama yang mama masak untuk papa dulu. Hanya untuk masak itu sama goreng ikan, mama membutuhkan empat jam di dapur…”
Papa tertawa di samping Keke. Oww… papa sedang bernostalgia, ini bahaya.
“Seandainya mama bukan istri orang ya… pa…”
Keke menanggapi juga dengan berbisik. Papa bersitatap dengan Keke, menafsirkan sorot mata putrinya. Perlahan tawa papa berhenti, mengerling sejenak pada sang mantan istri, pria dewasa itu tahu, putrinya sedang memperingatkan dia. Dia mengusap sejenak kepala Keke.
“Ya… seandainya seperti itu, pasti kita akan lebih bahagia. Yica opa mau ke kamar sebentar…”
Papa kemudian menurunkan Lisya dari pangkuannya, kemudian berdiri menuju kamar Rommel, dia harus menyembunyikan sesuatu di dalam sana. Keke menunduk, menyesal juga telah menganggu dan membuat kebahagiaan yang terpancar di wajah papa menghilang dengan kalimatnya tadi. Tapi kalimatnya tadi tidak salah kan?
“Ramly mana Ike? Makanan sudah selesai…”
Mama kemudian menata semua makanan yang selesai dia masak. Ada juga ikan woku tadi siang yang mama sudah panaskan.
“Papa ke kamar sebentar ma… nanti Ike panggilkan…”
Keke berdiri hendak ke kamar Rommel yang pintunya sekarang tertutup.
“Panggil Ben juga Ike…”
“Ehh? Dia masih di sini?”
Mendengar nama yang menyebalkan itu langsung merubah total suasana hati Keke.
“Iya masih. Lain kali jangan tinggalkan Ben seperti tadi…”
Mama menatap Keke dengan lembut, tahu hati anaknya tapi tidak tega juga melihat Ben tadi yang tidak tenang.
“Di kamar baru, Ramly yang suruh dia pakai kamar itu.”
“Memangnya ACnya sudah dipasang? Kasurnya belum ada seprei juga…”
“Sudah, tadi ada teknisi yang Ramly panggil. Kamar sudah dibersihkan Rommel tadi sebelum Ben gunakan.”
Jadi dia nginap di sini? Kenapa harus di sini sih??
Keke, tadi perasaan pengen tahu Ben nginap di mana 🤭🥴
Keke memberengut sebal.
“Yica aja yang panggil opa…"
Si kecil yang melihat Keke hanya diam di depan meja makan langsung melompat-lompat di kotak-kotak ubin sampai di depan kamar Rommel.
"🎶 Dong dong dong tolong dong... 🎶 Ada iblis di bawah kolong... hatiku mau dicolong... opa, ayo makan, oma udah selesai masak..."
Lisya teriak di depan pintu kamar.
“Ike… panggil Ben sana..."
Mama menghentikan lamunan kesal Keke.
"Via... Via panggil papi Bipi makan."
Selesai mengucapkan kalimat itu Keke menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ike..."
Suara mama menghentikan gerakan Keke. Mama cepat datang ke dekat Keke.
"Lebih baik menjelaskan pada Ben soal kemarahan Ike, menghindari Ben terus hati Ike tetap sakit... kalau Ike sudah keluarkan, sudah sampaikan ke Ben, mama yakin perasaan Ike tidak akan sesakit sekarang, pasti jauh lebih baik."
"Iya ma... Ike mengerti. Ike hanya butuh waktu. Ike ke kamar ya..."
"Makan dulu... Tadi siang Ike gak makan... nanti sakit..."
"Nanti Ike makan, mau mandi dulu. Mama sama papa duluan aja."
Keke melanjutkan langkahnya ke kamar. Dia belum mampu menaklukkan kekerasan hati dan tak ingin mengalah di dirinya, meski ada bisikan nuraninya yang memperingatkan dia. Tapi gunung berapi yang bergemuruh lagi di dadanya sejak kemunculan Ben masih terpendam, lahar kemarahan masih belum menemukan jalan. Hatinya masih ingin memboikot Ben, masih ingin membalas dendam, dia tak menjawab panggilan telpon sekarang rasakan gimana ada di satu rumah tapi Keke menolak bicara.
.
🐡
.
Tengah malam. Suara TV sudah tak terdengar, lampu sudah dipadamkan. Keke keluar kamarnya, meyakini semua orang sudah terlelap. Dia sendiri tak bisa memejamkan mata. Melewati jam-jam dilematis karena desakan rindu dan tekanan emosi berjudul gengsi. Perkataan mama sebelum dia masuk kamar sempat meresap di nalarnya, ternyata benar dia sakit hati sendiri juga dalam kemarahannya. Seandainya dia mau bicara, apa Ben gak akan seenaknya lagi di kemudian hari?
Keke membuka kulkas, mengambil tupperwa re berisi potongan pepaya siram air jeruk nipis yang dia buat tadi siang. Duduk sendiri dalam keremangan di ruang makan itu. Hanya ada terang lampu teras yang masuk di celah gordyn jendela sumber penerangan di situ, serta sinar rembulan yang masuk lewat pintu penghubung ruangan baru, ada jendela kaca besar di ruangan baru yang belum dipasang gordyn. Beberapa menit berlalu, Keke menikmati sensasi dingin pepaya matang yang melewati kerongkongan. Diam saja tak ada pikiran yang lewat sekarang, hanya menikmati campuran rasa asam dan manis di lidahnya.
"Rens..."
Keke terlambat menyadari kedatangan Ben. Posisi Ben langsung berjongkok di samping Keke, satu tangan kiri Ben sudah menahan kedua kaki Keke di bagian paha, sementara tangan kanan dengan cekatan menggeser posisi kursi Keke menghadap padanya, sehingga kedua lutut Keke segera tertahan di bagian perut Ben. Sekarang kedua tangannya memegang kedua lengan Keke. Garpu yang dipegang Keke terlempar. Dengan posisi terkunci sekarang Keke hanya memalingkan mukanya tak ingin menatap Ben.
"Rens... sweety..."
Keke mengatupkan mulutnya sambil mencoba melepaskan diri.
"Lepaass..."
"Gak Rens... kita perlu bicara, aku gak akan lepaskan kamu.."
Suara rendah Ben terdengar bersama helaan napasnya yang berat. Dia terpaksa bertindak sedikit kasar, menahan kuat kaki Keke dengan otot perutnya, serta cengkeraman kuat di lengan Keke.
"Jangan berdiri, kita berdua jatuh nanti dan semua orang akan bangun..."
Mencoba beberapa kali, Keke akhirnya diam karena tekanan tubuh Ben di kedua lututnya membuat dia tak bisa berbuat banyak.
"Please Rens... silahkan marah tapi di depan aku, jangan menghindari aku ya... please..."
Keke masih memalingkan mukanya, tapi perlahan tubuhnya mengendur. Ben yang merasakan itu melonggarkan cengkeraman di lengan Keke. Kedua tangannya kemudian berpindah masuk ke celah sempit antara kursi dan tubuh Keke melewati pinggang kemudian merangkul erat pinggang Keke. Saat tidak menemukan pandangan Keke untuknya, Ben menempelkan wajahnya di perut Keke. Lama dia menahan posisinya, meletakkan semua rindunya di tempatnya, pada wanita yang paling dia cintai. Walau tak ada respon Keke yang dia rasakan, tapi ada rasa nyaman mengganti semua gundahnya sejak siang tadi. Menarik napas panjang di sana, rindu tiga bulan lebih tuntas sekarang. Tapi sekat di hati Keke masih harus dia lepaskan biar seluruh keinginannya berlama-lama menikmati semua yang dia rindukan pada diri Keke tak terhalang lagi.
"Rens... sayang, maaf ya..."
.
Semua unek-unek yang tertahan di pikiran harus disampaikan, semua rasa di hati harus diungkapkan. Semua kekecewaan, kemarahan biarkan menyembur gak usah dibendung, ledakkan saja, karena sebelum itu semua, tak akan ada komunikasi. Meskipun sakit komunikasi harus dimulai...
.
✌✌✌
Selamat bermalam minggu dengan keluarga atau pasangan.
Kalau lagi marahan... cari makanan yang enak, manis dan lezaaat... dampaknya pasti perasaan membaik, dan si kekasih hati berubah jadi ganteng lagi 😛😍🥰☺
.
__ADS_1
🍀